
Akhirnya, waktu istirahat yang di tunggu-tunggu pun tiba. Seorang wanita tampak merenggangkan otot-otot tangannya sembari mengeliatkan badan. Tak dapat di pungkiri, pinggangnya lumayan pegal, mata panas, akibat duduk setengah hari di depan layar lipat.
Dania merapikan semua yang ada di mejanya, setelah rapi dia bergegas keluar untuk memberi makan para cacing yang sudah berdemo di perutnya.
Dengan langkah ringan sembari bersenandung kecil, ia keluar dari lift. Dia sama sekali tak menyadari, jika di balik sebuah dinding ada sepasang mata yang menunggu dan mengintai kedatangannya sejak tadi.
Dan pemilik mata itu adalah Andrew Winata yang sengaja mendatangi tempat kerja gadis pujaannya untuk memastikan, jika dugaannya, benar.
"Dania," panggil Andrew.
Andrew segera menarik paksa tangan Dania, lalu membawanya keluar menuju mobilnya.
"Kak-kak, Andrew," ucap Dania tidak bisa menutupi rasa terkejutnya
"Masuk!"
Andrew mendorong tubuh gadis itu, hingga masuk ke mobilnya.
"Kak, keluarkan aku! Kak Andrew mau bawa aku kemana?"
Dania berusaha membuka pintu, namun nahas pintunya sudah terkunci.
"Kak, buka!" teriaknya dengan panik.
"Kita makan siang bersama," sahut Andrew tanpa mengalihkan fokusnya pada jalanan di depannya.
"Kalau mau ngajak makan bukan seperti ini caranya, Kak Andrew. Ini namanya pemaksaan," kata Dania dengan suara meninggi, bahkan suaranya memenuhi mobil itu.
"Karena kamu tidak akan pernah mau, kalau tidak dipaksa."
Dania menendang kesal dashboard mobil di depannya. Pria itu selalu sukses membangkitkan amarah dalam dirinya.
"Kamu duduk diam! Tidak usah banyak tingkah sebentar lagi kita sampai," kata Andrew.
Dania tak menggubris sama sekali ucapan pria itu. Baginya, pemandangan diluar sana lebih menarik daripada laki-laki disampingnya.
"Ayo, turun!" perintah Andrew.
Lagi-lagi, pria itu menarik paksa tangan Dania, bahkan menggenggamnya kuat agar gadis itu tak bisa kabur.
"Kak, sakit,'' rintih Dania.
Wanita itu berusaha memberontak tapi sayang, tenaganya tidak sebanding dengan tenaga Andrew.
Andrew melanjutkan langkahnya tanpa memedulikan ocehan gadis itu.
"Kak, katanya mau makan?"
Dania memperhatikan sekelilingnya, bukan sebuah restoran, melainkan sebuah apartemen mewah yang terletak di pusat kota.
"Kak Andrew, kenapa bawa aku kesini? Kakak mau ngapain aku, jangan macam-macam, ya!" Dania sudah memasang sikap waspada.
"Asalkan kamu nurut, kamu akan selamat," jawab Andrew dengan nada rendahnya.
Entah kenapa, suara itu sanggup membuat Dania bergidik ngeri. Dia memilih bungkam daripada terjadi apa-apa oada dirinya nanti.
Tak menunggu lama, keduanya sampai di depan unit apartemen yang bisa dipastikan itu milik Andrew. Pintu terbuka setelah pria itu memasukkan kata sandinya.
"Ayo, masuk. Kamu duduk dulu," kata Andrew dengan mengunci pintu.
"Kenapa pintunya di kunci?"
"Sssttt, lebih baik mulutmu diam. Aku akan menyiapkan makanan untuk kita."
__ADS_1
Andrew melenggang pergi menuju dapur, tak lama setelahnya, pria itu kembali dengan membawa nampan berisi berbagai makanan untuk mereka berdua.
Dania menatap bingung hidangan yang tersaji diatas meja, apa maksud Andrew di balik semua ini, apa ini semacam sogokan agar dia mau menerima pernyataan cintanya, batin Dania terus berkecamuk. Matanya tak lepas mengawasi gerak-gerik Andrew yang tengah menyiapkan semuanya.
"Selesai. Mari makan," ajak pria itu dengan melahap makanannya, tapi tidak dengan Dania. Dia justru memicing tajam kearah pria di depannya, tak berniat menyentuh sedikitpun makanannya.
"Apa maksud semua ini?" tanya Dania
"Aku hanya ingin menyiapkan makan siang spesial untuk kita. Seharusnya, makan malam tapi berhubung kamu tak membuka sedikitpun kesempatan untukku. Jadi, makan siang pun tak apa."
Pria itu tersenyum, kemudian melanjutkan makannya.
"Tidak usah khawatir, semuanya aman tidak ada racunnya."
"Aku gak lapar," jawab Dania singkat.
Klurkk....
Andrew tergelak. "Mulutmu boleh berbohong tapi tidak dengan perutmu."
Dania merutuki perutnya dalam hati. Karena malu, dia memilih memalingkan mukanya.
"Sudah sini, buka mulutmu."
"Mau apa," kata Dania masih dengan posisinya.
"Sini, dong lihat aku. Biar kamu tau."
"Gak!"
"Aku gak mau kamu sakit, Nia."
"Biarin! Aku mau keluar." Dania bersikeras.
"Orang ini, benar-benar...." Dania mengeram kesal.
Pada akhirnya, gadis itupun melahap makanannya karena rasa lapar tak yang tertahan.
Andrew tersenyum puas melihat itu.
...----------------...
"Sekarang antarkan aku balik ke kantor," pinta Dania dengan cemberut.
"Kamu tidak akan kembali ke sana. Kamu bakal terus disini bersamaku."
Dengan santainya, Andrew merebahkn tubuhnya di sofa dengan menyalakan televisi.
"Aku sudah meminta izin langsung pada Armand."
"Apa! Kamu gila, Kak." Dania memejamkan matanya guna menetralisir emosi dalam hatinya.
Andrew menarik tangan gadis itu, hingga terduduk di pangkuannya, lalu mendekap erat pinggangnya.
"Aku gila karenamu," bisiknya.
"Kak, lepas." Dania terus memberontak dalam dekapan erat pria itu. "Aku gak nyaman. Ini gak bener, kita gak boleh seperti ini."
"Aku sayang kamu."
"Aku gak bisa, lepaskan aku!"
"kenapa?" tanya Andrew dengan menatap intens gadis itu.
__ADS_1
"Karena aku akan dilamar pria lain."
"Jawaban klise, Dania," batin Dania berharap Andrew akan mengerti dan mau melepaskan dirinya.
"Aku tau kamu terpaksa menerimanya. Iya, 'kan?" cecar Andrew.
"Gak! A-aku gak terpaksa, dengan senang hati menerima lamarannya." Dania berusaha menghilangkan kegugupannya, jangan sampai pria ini curiga.
"Bohong, kamu bohong. Kegugupanmu menjawab semuanya," bisik Andrew.
Dania menggigit bibir bawahnya, saat nafas hangat itu menerpa kulitnya.
"Jadilah milikku, Dania. Tinggalkan dia," kata Andrew dengan tatapan memohonnya.
"Kita tidak bisa, Kak. Aku gak mau membuat hubungan rumit kedepannya." Dania tetap bersikukuh dengan pendapatnya.
"Kakak cari perempuan lain yang lebih baik dari aku. Aku sudah punya pilihan lain."
Andrew menghela nafas. Perlahan, dia melepas dekapannya. Dania segera menjauhkan tubuhnya dari pria itu.
Suasana mendadak canggung untuk beberapa saat, hingga getaran ponsel Dania memecah kecanggungan meraka.
"Ha-halo, Pak," jawab Dania gugup saat mengetahui siapa yang menelponnya.
"Kamu dimana, Dania? Sebentar lagi kamu harus mendampingi saya rapat. Ini sudah setengah jam lebih, kamu belum kembali ke kantor."
Dania segera menajuhkan ponselnya. Suara lantang atasannya berhasil membuat telinganya pengang.
"Sa-saya masih di luar. Ma-maaf gak sempat izin ke bapak."
"Kamu ini, jam kerja malah keluyuran," omel Devan.
"Maaf....''
" Dimana posisimu sekarang?" tanya Devan setengah membentak.
"Di apartemen mewah pusat kota, Pak," ucap Dani lirih.
"Apa?!''
Dania hanya memejamkan mata sambil mengusap dada, ketika mendengar sentakan atasannya.
"Kau tunggu disana? Biar aku jemput. Kebetulan lokasinya searah. Dan kau harus siap saat aku tiba di sana. Aku tak ingin menunggu lama," titah Devan tanpa bisa di bantah.
"Iya, Pak," jawab Dania lemah.
"Kak aku harus pergi, aku harus profesional. Sebentar lagi, aku harus mendampingi atasanku bertemu klien," kata Dania setelah teleponnya berakhir.
"Baiklah, ku bukakan pintunya." Andrew berjalan ke arah pintu, lalu membukanya.
''Terimakasih, Kak," pamit Dania.
Andrew mengangguk.
"Dania.''
Gadis itu menghentikan langkahnya saat namanya di panggil.
"Ya..."
"Maaf aku sudah memaksamu. Dan terimakasih, kau bersedia menghargai keinginanku."
Dania hanya tersenyum menanggapi.
__ADS_1
"Aku pergi, permisi....''