My Boss My Musuh

My Boss My Musuh
Bukan Reni Jika Menurut Begitu Saja..


__ADS_3

'' Ayo nduk susui Anakmu. ASI nya sudah keluar tho.. wong tadi wes di periksa. ASI pertama bagus untuk nya..'' Titah Asih.


Renita hanya mengangguk.


'' Wes Bapak sama Pak Setiawan keluar dulu.. Renita mau ngasih ASI anaknya. Laki-laki yang boleh disini hanya Armand''. Titah Asih


Kedua Lelaki paruh baya itu mengangguk.


Asih membantu Renita. Sementara bayi mungil itu kini berada dalam gendongan Amalia.


Dia menaruh bantal di pangkuan renita. Dan meletakkan kembali marvello di atas pangkuan ibunya.


'' Posisi paling pas ini nduk buat menyusui. Usahakan itu punggung nya tetep lurus biar gak bungkuk nanti..'' Asih ikut membantu si bayi mengarahkan ke arah put*ng Ibunya.


'' Ya ampun Bu.. kok kayak ketarik gini thoo..'' keluh Renita masih dengan suara lemahnya.


'' Ya wajar cah lanang Roso ren..'' kata Asih.


( Wajar Anak laki kuat..)


'' Iya Ren.. Kalo cowok gitu.. Dulu waktu bayi si Armand juga gitu kuat banget nyusunya. Sampek badan mama habis..'' Kata Amalia.


Sedang Armand hanya memperhatikan senyum tulus Renita saat menyusui anaknya.


'' Permisi Pak.. Bu.. mau ambil baby.. Belum boleh terlalu lama di luar..'' Seorang suster tiba-tiba masuk untuk mengambil Marvello di bawa kembali keruangan nya.


Pada saat yang sama pula. Marvello sudah terlelap dan melepas mulutnya dari put*ng Ibunya.


'' Oh ya.. ini Sus.. Nanti kalau Dia nangis lagi panggil saja biar saya yang kesana..''


'' Baik Bu..'' Suster dengan hati-hati mengambil si baby.


'' permisi Pak.. Bu..'' Pamit suster.


'' Ya sudah sekarang kamu istirahat lagi.. Ibu sama Mama mau berjaga di luar saja. Disini di temani suami mu.'' Kata Asih.


Renita mengangguk. Dia kembali berbaring dan membelakangi suaminya.


'' Ren..'' Panggil Armand.


Hening..


'' Ren.. Aku tau kamu belum tidur..''


'' Aku minta maaf..''


Renita hanya diam. Dia lebih memilih memejam kan matanya.


Armand menghela nafas. Renita benar-benar marah padanya.


'' Aku akan kembali ke kontrakan setelah Bapak sama Ibu pulang ke kampung''. Renita membuka suara beberapa saat kemudian.


'' Boss tenang saja Aku akan merawat dan menguruskan Marvello dengan baik. Anda tidak usah khawatir''. Lanjut nya lagi.


Armand memejam matanya. Renita memanggilnya dengan sebutan itu lagi.


'' Kamu sehat dulu.. Gak usah mikir macam-macam..'' Jawab Armand dengan nada dinginnya. Sungguh Dia tak suka Renita memanggilnya layaknya atasan dan bawahan.

__ADS_1


...----------------...


'' Bu anterin Aku keruangan Vello. Dada aku udah penuh sakit juga..'' Pinta Renita ketika ibunya masuk keruangan itu.


'' Kan ada suamimu Ren..''


'' Mas Armand sibuk.. Jangan ganggu Dia.. Kerjaannya terbengkalai gara-gara aku..'' Renita melirik ke arah Suaminya yang tengah sibuk dengan beberapa berkas juga laptop nya.


'' Baiklah..'' Asih mengambilkan kursi roda dan membantu Putrinya. Terdengar rintisan pelan dari bibir tipis itu karena jahitan di perutnya terasa ngilu.


'' Mau kemana Ren ?'' Tanya Armand saat Renita melewatinya.


Karena tak kunjung mendapat jawaban. Akhirnya Asih yang menjawab, '' Reni minta di antar ke ruangan Vello katanya dadanya udah penuh dan sakit..''


'' Ya sudah sama aku aja..''


'' Gak usah..'' Jawab Renita cepat. '' Kamu urus saja pekerjaanmu. Ayo Bu.. udah sakit banget ini..''


Armand menghela nafas dan hanya bisa pasrah.


'' Nduk apa Kamu sedang ada masalah dengan Suami mu ?'' Tanya Asih saat menyisiri lorong Rumah Sakit.


Asih sedikit curiga semenjak Renita sadar. Renita terkesan acuh tak acuh pada suaminya.


Apa-apa minta bantuannya atau Mamanya. Padahal Armand selalu ada di ruangan itu.


'' Nggak kok Bu.. Nggak ada apa-apa. Aku cuma nggak mau ganggu kerjaannya aja..''


Renita memilih menutupi masalahnya. Melihat sikap orang tuanya yang biasa-biasa saja. Terutama Bapaknya. Renita yakin jika Bapak Ibunya tidak mengetahui apa sebenarnya yang menimpa dirinya.


' Sebenarnya kandungan nya sedari awal memang sudah lemah. Karena kecapekan jadinya seperti ini. Masih untung bisa diselamatkan..'


Biarlah Bapak Ibunya tidak tau apa-apa. Yang mereka tahu Putri nya bahagia menjalani rumah tangga nya.


'' Ibu cuma pesen Nduk.. Kalo ada masalah atau apa di bicarain berdua baik-baik dengan kepala dingin. Pertengkaran dalam rumah tangga itu wajar. Justru itu menjadi pemanis hubungan kalian..''


' Mau bicara baik-baik gimana.. Dianya aja gak pernah ada waktu..' Batinnya kesal


Renita hanya mengangguk mengiyakan.


Tak lama keduanya sampai di ruang rawat bayi. Dan Renita segera menyusui bayinya.


Tak lupa Dia juga memompa ASI nya untuk persediaan.


...----------------...


'' Ren.. Lebih baik Kamu tampar Aku, caci maki atau hina Aku sepuasmu. Daripada Kamu diemin Aku seperti ini..''


Untuk kesekian kalinya Armand memohon agar Istrinya mau bicara padanya.


BTW. Sebulan sudah Renita berada di rumah sakit. Keadaan nya sudah membaik. Sangat baik malah. Hanya saja Dia memilih stay di sana. Dengan alasan menemani anaknya, capek jika harus bolak-balik.


Padahal alasan utamanya adalah untuk menghindari Suaminya.


Selama itu pula Renita mendiamkan Armand. Jika terpaksa menjawab paling-paling cuma Iya, Gak, hmmm...


Kedua orang tua Reni juga sudah pulang ke kampung halaman tadi pagi-pagi buta. Di karenakan Bapak tidak bisa meninggalkan sawahnya lebih lama lagi. Kasihan juga Rendi jika di tinggal lama-lama. Tidak ada yang mengurus. Pria tanggung itu juga sudah calling-calling dari seminggu lalu meminta ibunya untuk segera pulang. Katanya seperti anak tiri. Itulah Rendi manja dan lebay.. Meski usianya sudah memasuki kepala dua.

__ADS_1


Oke balik lagi...,


Mengabaikan rengekan Armand. Renita memilih sibuk membereskan barang-barang milik nya juga milik anaknya. Menatanya kedalam sebuah tas besar.


Karena berat badan Vello sudah berada di angka normal dan juga keadaannya sangat baik tidak ada yang perlu di khawatir kan. Dokter memperbolehkan untuk di bawa pulang.


'' Ren pulang ke rumah ya..'' pinta Armand dengan wajah memelas.


Renita menghentikan kegiatannya dan menatap Armand sekilas.


'' Gak..''


'' Ren Aku khawatir sama Kalian..'' Armand mengekor kemanapun Renita melangkah.


' Khawatir prett.. Dua bulan kemarin kemana aja.. Dikit-dikit Mita.. Dikit-dikit proyek.. Sok sibuk..' Batin Renita.


'' Ayolah Ren.. Mau ya..'' Armand tak patah arang membujuk istrinya.


Setelah selesai, Renita beralih menggendong anaknya dengan gendongan instan. Tak lupa Dia juga memesan taxi online tanpa sepengetahuan Armand.


Keluar dengan membawa tas ditangan kirinya. Karena tangan kanannya Dia gunakan untuk menahan bobot bayinya.


'' Biar aku aja yang bawa..'' Armando merebut tas di tangan istrinya.


'' hmmmm..'' Renita membiarkan saja.


Terserah apa yang kau lakukan.. Pikirnya.


'' Tunggu disini Aku ambil mobil dulu''. Armand menuju parkiran dengan membawa serta tas yang Dia bawa.


Bukan Renita namanya jika mau menurut begitu saja. Tak berselang lama Taxi yang Dia pesan datang.


Tanpa pamit atau apalah itu. Dia segera masuk dan meninggalkan pelataran rumah sakit.


'' Kamu anteng-anteng ya sama mama.. Biarin Bapakmu itu bingung.. Tenang Mama masih punya banyak uang buat beli segala kebutuhan kita..'' Renita berbicara pada anaknya yang terlelap dalam gendongan nya.


Beruntung tadi Dia sempat menyimpan dompetnya ke dalam saku celana.


...----------------...


Mungkin di cerita aku ini ada part yang gak sesuai sama dunia nyata. Tapi aku tegasin ini cuma dunia halu ya gengs.. sehalu-halunya aku.. aku berusaha buat cerita nya masuk akal.


So, Jika ada yang mau protes kok ini.. kok itu.. kok gini.. kok gituu..


Aku ingetin sekali lagi ini halu murni dari otak cetekku.


Misal gak masuk akal ya di masuk-masukin aja ya..


Oke tak bosan-bosan aku ingetin..


Like, ❤ , comment..


Vote & hadiah seikhlasnya saja..


Bantu dukung karya ku biar bisa lulus kontrak.. oke..


Babay..

__ADS_1


__ADS_2