My Boss My Musuh

My Boss My Musuh
Kejadian Siang Hari


__ADS_3

''RIO! KUTUKUPRET, BUAYA DARAT!'' Lengkingan suara Reva memenuhi ruangan megah itu.


Wanita itu mencengkram erat tas bekal yang ada di tangannya. Matanya memerah karena emosi yang sudah menjalar sampai ke ubun-ubun.


''Pegang ini!'' Reva menyerahkan ponsel yang sedari tadi di genggamnya pada pria di sebelahnya.


Michael, asisten Rio tidak paham maksudnya pun hanya bisa menerima.


''Rekam gue, Paham!'' titah Reva.


Michael hanya mengangguk dan menuruti perintah istri bosnya.


''Rev, in-ini ti-tidak seperti yang kamu pikirkan,'' kata Rio dengan gusar. Dia sudah seperti suami yang ketangkap basah selingkuh oleh istrinya.


''Iya, tidak seperti yang aku pikirkan tapi kenyataan langsung di depan mata.'' Reva melotot horor ke arah suaminya.


''Rev, a-aku bi-bisa jelasin. Dia....''


''Diam!'' bentak Reva.


Rio langsung mengunci rapat-rapat mulutnya. Istrinya kalau sudah marah menyeramkan juga.


''Siapa dia, Devario?'' tanya wanita yang sedari tadi berada di pangkuan Rio.


''Loe mau tahu siapa gue? Oke gue kasih tahu. Nih!''


Byur....


Reva meraih kopi yang ada di dekatnya, lalu menyiramkannya ke arah wanita itu.


''Arrrghh, ini baju mahal! Kenapa kau kotori?'' Wanita itu berteriak histeris.


''Emang gue pikirin? noda di bajumu tidak sebanding dengan noda pada dirimu,'' cetus Reva dengan pedasnya.


Wanita itu langsung naik pitam mendengar sindiran wanita di hadapannya.


''Maksudmu aku kotor?!''


''Sangat, iyuh...." Reva berkata seolah-olah dia sedang jijik terhadap sesuatu.


''Beraninya kau!''


Wanita itu sudah melayangkan tangannya untuk menampar Reva, tapi Rio segera mencegahnya.


''Berani kau sentuh istriku. Ku patahkan tanganmu!'' geramnya.


Aura mencekam terpancar jelas dari sorot matanya.


''Apa? Dia istrimu.'' Wanita itu menunjuk wajah Reva.


Sedangkan, Reva menyilangkan tangannya untuk menunjukkan keangkuhannya.


''Tidak mungkin.'' Dia menggeleng tidak percaya, ''kamu bohong, 'kan, Devario?'' Katherine menguncang keras tubuh pria di hadapannya.


''Aku tidak bohong!'' jawab Rio dengan tegas.


''Lebih baik sekarang kau pergi dari hadapanku. Sebelum aku melakukan sesuatu yang tak pernah terbayangkan dalam otakmu.'' Rio berujar dengan nada dinginnya. Matanya sudah memerah karena emosi.


''Pergi!'' sentak Rio dengan menunjuk ke arah pintu.


''Iya-iya, aku pergi.'' Katherine beringsut mundur, menuruti keinginan mantan kekasihnya.

__ADS_1


''Bawa sekalian makanan sampahmu itu,'' kata Rio tanpa melihat ke arah wanita itu.


Tanpa banyak kata, Katherine segera mengambil makanan yang dia bawa, lalu segera pergi dari ruangan itu.


Dua tahun menjalin hubungan dengan Devario. Dia paham betul akan tindak tanduk pria itu. Jika sudah terlanjur emosi, Rio akan berubah menjadi monster yang tak kenal ampun baik pada pria maupun wanita.


Selepas kepergian mantan kekasihnya, Rio berulang kali menghembuskan nafas untuk menetralisir amarah yang masih bersarang dalam dadanya. Tiap kali melihat wanita itu, Rio akan langsung diingatkan dengan pengkhianatan dua tahun silam. Yang dia lakukan secara langsung di depan matanya. Hingga, membuat dirinya begitu membenci wanita.


''Nih, dimakan! Katanya minta makan?'' Reva menyerahkan kasar tas bekal yang sedari tadi dalam kuasanya.


''Dihaibiskan, jangan sampai sisa! Buat itu butuh perjuangan,'' ketusnya.


Lihatlah, mukanya masih asem se-asem mangga muda orang ngidam.


Tanpa banyak kata, Rio menerima kotak bekal pemberian istrinya. Laki-laki itu menatap intens wanita di depannya.


''Mukamu kenapa?''


''Ada apa?'' Reva meraba wajahnya sendiri, ''make-up gue belepotan, astaga!'' Wanita itu sudah heboh sendiri.


''Mana handphone gue?'' Reva merebut kasar benda pipih yang ada di tangan asisten suaminya.


''Eh, tapi tapi udah direkam, 'kan? Sesuai permintaan gue.''


Michael hanya mengangguk mengiyakan.


''Ini masakanmu?'' tanya Rio dengan menaikkan sebelah alisnya.


''Heh, apa?''


Reva mengalihkan sejenak perhatiannya, lalu kembali fokus pada layar pipinya untuk berkaca.


Kesal sendiri rasanya menghadapi wanita satu ini. Diajak bicara malah asik dengan kegiatannya sendiri.


''I-iyalah.... S-siapa lagi?'' jawab Reva dengan gugupnya.


''Yakin?'' Pria itu menatap intens istrinya, ''Kok mirip restoran langgananku, ya?''


Reva melotot mendengarnya.


''A-aku bu-buat ss-sendiri kok.'' Reva menyangkalnya.


Dia berusaha keras menetralisir kegugupannya. Jangan sampai ketahuan, pikirnya.


''Tapi aku tidak yakin,'' bisik Rio.


Bahkan, pria itu sengaja meniup lembut cuping telinga istrinya. Entah kenapa, bulu kuduk Reva berdiri setelah mendapat terpaan nafas hangat itu. Darahnya berdesir, dia merasakan sesuatu yang aneh dalam tubuhnya.


''Temani aku makan,'' titah Rio. Dia melenggang dengan santainya menuju sofa.


Puas rasanya bisa menggoda wanita itu.


''Kamu sengaja, 'kan?'' Reva memicing tajam kearah suaminya.


''Sengaja kenapa?'' tanya Rio balik.


Dia mulai melahap makanan yang ada di depannya.


''Enak, pintar kamu buatnya,'' kata Rio dengan seringaian terbit dari bibirnya.


''Sengaja ngerjain aku. Kenapa kamu pakai niup-niup kuping segala?'' Suara Reva benar-benar memenuhi ruangan itu.

__ADS_1


Ehemm...


Rio berdehem memberi isyarat pada asistennya untuk keluar dari sana.


''Permisi, Tuan.''


''Aku tidak mengerjaimu. Aku memang sengaja.''


Rio masih menikmati makanannya. Dia sama sekali tak terganggu dengan tatapan intimidasi perempuan di sampingnya.


''Apa maksudmu ngelakuin itu?''


''Supaya kamu menginginkannya.''


''Ingin apa?''


Rio menghela nafas, makanan yang belum habis dia letakkan begitu saja.


''Kita suami istri. Aku juga laki-laki normal. Kita sudah satu bulan menikah dan belum melakukan itu. Aku tersiksa, Reva...,'' ujar Rio. Raut mukanya menujukkan ke-frustasian yang sangat kentara.


Reva mengedipkan matanya beberapa kali. Dia masih berusaha menangkap apa yang di maksud suaminya.


''Jangan bilang kau ingin itu.'' Reva menyipitkan matanya.


Rio mengangguk cepat.


''Astaga, Rio! Otakmu mesum juga, ya,'' teriak Reva.


''Aku pria normal, wajar aku ingin itu.''


Reva mencebikkan bibirnya. ''Dulu aja sok dingin, sok cuek, sok nolak gue. Tahunya.....''


''Mau, ya....'' Rio merapatkan tubuhnya ke tubuh istrinya. Dia menatap intens mata istrinya.


Bagaikan terhipnotis, Reva membalas tatapan itu. Entah siapa yang memulai, mereka sudah bertaut, saling mengecap, saling membalas dan tidak ada yang mau mengalah satu sama lain.


Rio mengangkat tubuh sang istri dan membawanya ke ruangan pribadi, dimana dirinya biasa mengistirahatkan diri.


''Bolehkah?''


Reva mengangguk dengan tatapan sayunya.


Tanpa basa-basi, Rio kembali mengecap madu dari bibir sang istri. Dan kali ini, lebih menuntut dengan tangan yang sudah tak ingin diam. Hingga sebuah suara keluar dari mulut Reva yang membuat Rio tambah semangat untuk membawa istrinya terbang menuju Nirwana.


''Sakit, Rio!'' Reva merintih saat sesuatu memasuki inti tubuhnya.


''Aku akan pelan, maaf,'' kata Rio.


Dia berusaha menenangkan istrinya. Menghapus air mata yang mengalir di pipi mulus sang istri dan kembali melum** bibir tipis itu.


Saat Reva mulai tenang, dia kembali menggerakkan tubuhnya. Hingga rasa sakit itu berubah menjadi sebuah kenikmatan untuk keduanya.


...----------------...


Udah partnya Duo R sampai sini selesai. Untuk part selanjutnya, milik tokoh utama. Karena ini rumahnya Armand sama Renita, jangan di selingin lama-lama, ntar yang yang punya rumah marah.


Mungkin tinggal beberapa part lagi, aku akan tamatin novel ini. Soalnya, mau publish cerita baru. Udah up sih sebenernya, tapi ya gitu kalah sama si Reni. Baru dapat 4 bab.


Jangan lupa mampir ya....


PENCARIAN MAURA

__ADS_1


__ADS_2