My Boss My Musuh

My Boss My Musuh
Rapat Trio CS...


__ADS_3

Reva mondar-mandir tak jelas dengan mengigiti kuku-kuku jarinya. Menandakan dia sedang dalam kebingungan.


Tingkahnya itu membuat Wina dan Dania merasa jengah.


''Va, loe nyuruh kita ngumpul cuma di suruh nyaksiin loe jadi setrikaan gini?" kesal Wina


''Tau, nih. Pusing kepala gue,'' sungut Dania sambil meniup poni di dahinya.


''Gue bingung?'' Reva duduk diantara keduanya, memandangi mereka satu per satu, ''Si Renita tekdung, dia....''


''Apa!'' potong Wina cepat, ''loe gak usah bercanda, Va! Gak lucu.''


"Dia gak bercanda,'' sahut Dania, ''Gue tahu itu dari abang gue. Renita mutusin abang gue sebab itu.''


''Jadi, cuma gue yang ketinggalan berita. Wah! parah kalian.'' Wina memandang kesal kedua sahabatnya.


''Ck, gue belum selesai ngomong. Udah maen potong aja.'' Reva ikutan kesal, ''ada yang lebih penting dari itu, Wina. Bukan waktunya buat ngambek,'' sahut Reva nge-gas.


''Gini ya gengs, si Renita berencana buat gugurin kandungannya.''


'' APA!'' jawab Wina dan Dania serentak.


''Bentar, jangan di potong dulu! Gue mau curhat serta butuh solusi. Makanya gue nyuruh kalian ngumpul disini.''


''Wah! Parah si Renita, kenapa gak minta tanggung jawab sama si Kompeni? gak takut dosa apa gimana? Gak bisa di biarin nih..'' Wina sudah berdiri dari tempat duduknya.


''Loe diem dulu, Wina! Gue baru mau cerita.'' Reva memandang kesal temannya satu itu, ''Keadaannya itu ruwet banget pokoknya.''


Reva pun menceritakan, apa yang dia dengar beberapa hari yang lalu tanpa ada yang ditambah ataupun dikurangi.


''Ja-jadi, Pak Armand juga....''


Dania kehabisan kata-kata. Dia tak menyangka, jika si bosnya yang selalu terlihat berwibawa bisa sebejat itu.


''Ya, udah tunggu apa lagi kita gerebek aja si Armand itu. Mau enaknya doang dia. Dia hamilin dua cewek ya mesti tanggung jawab semuanya dongg...'' Emosi Wina sudah sampai di ubun-ubun.


''Aduh, Gengs! Masalahnya, si Kompeni gak tau kondisi Renita sekarang. Dia kemaren udah mau bilang, keburu nyonya masuk sambil marah-marah bawa tuh cewe. Terus si Reni lihat sendiri pakai mata kepala dia, si Kompeni gak mau ngakuin, gitu. Kalau anak yang di kandung sama itu cewek anaknya,'' papar Reva panjang lebar.


''Jadi, Renita berpikiran. Kemungkinan juga sama, kalau dia ngasih tahu perihal kehamilannya. Makanya, Renita mutusin buat gugurin anaknya. Dia belum siap nanggung hinaan orang-orang nanti. Dia juga gak tega buat malu keluarganya,'' tutur Reva dengan wajah memelasnya.


''Dan yang buat gue makin pusing. Si renita maksa gue, buat nemenin dia ke klinik tempat dia aborsi. Gue sudah bilang gak mau, tapi dia nerror terus, pusing gue, Gengs.'' Reva benar-benar frustasi.

__ADS_1


Dania dan Wina menghela nafas. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.


''Yang gue mau, si Renita mau mempertahankan kehamilannya. Resikonya nyawa, tapi kalian tau sendiri 'kan? Dia keras kepalanya seperti apa? Sumpah capek gue nasehatin dia..'' Reva memecah keheningan di antara mereka.


''Kita harus bisa gagalin rencana dia.'' Wina menatap serius kedua sahabatnya.


''Caranya?'' tanya Dania.


''Kita beritahu si Kompeni. Biar Bagaimanapun, dia harus tahu. Kalau dalam perut Reni ada anaknya juga..''


''Kalau dia gak mau tanggung jawab, gimana?'' tanya reva.


''Gue yang bakal turun tangan.'' Wina menyeringai..


''Emang loe bisa?'' cibir Reva.


Wina menangkup kesal muka Reva dengan telapak tangannya. ''Loe ganggu aja. Gue udah berlagak misterius kayak novel mafia yang gue baca. Ambyar gara-gara loe..''


Dengan kesal Wina meninggalkan kedua cs-nya.


''Kok, ngambek lagi?'' tanya Reva tanpa ras bersalah.


...----------------...


Ketika sampai di depan pintu. Renita menghentikan langkahnya, saat mendengar Armand tengah berbicara dengan seseorang..


''Pokoknya kamu harus datang di acara pernikahanku. Di waktu yang tepat, jangan sampai terlambat!"


''Kapan itu?'' suara seorang pria diseberang sana.


''Satu minggu lagi," jawab Armand singkat.


''Oke..''


Renita menatap penuh kebencian laki-laki yang sedang membelakanginya itu. Dia mengurungkan niatnya, memilih pergi ke kafetaria kantor. Ngidamnya menguap entah kemana.


Disinilah, Renita berada bersama ketiga cs-nya


Renita memakan Rotinya seperti orang kesetanan, matanya memerah dengan tatapan tajam ke depan. Di mejanya, ada lima bungkus roti yang sudah kosong.


Wanita itu, melampiaskan kekesalan dan amarahnya dengan makanan. Dia terus memasukkan makanannya meski mulutnya sedang penuh.

__ADS_1


Ketiga cs-nya menelan ludah kasar, kenyang sendiri melihat cara makan bumil satu itu.


''Nya, orang hamil serem, ya. Kalau kelaperan,'' bisik Reva tapi matanya tak lepas dari Renita.


''Menurut gue dia gak cuma laper tapi emosi juga..'' jawab Dania tak kalah berbisik.


''Kenapa, kalian? Ngliatin gue sampai segitunya,'' sewot Renita.


''Loe kenapa, Ren?'' tanya Wina.


''Emosi gue, Kompeni sialan!'' umpat Renita sembari menggigit kesal rotinya. Seolah-olah itu tubuh dari bossnya.


''Kompeni seminggu lagi mau kawinan.'' Mata Renita berkaca-kaca diletakkannya roti yang masih tersisa. Menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, tangis yang sedari tadi dia tahan, akhirnya pecah juga. Wanita itu, sesegukan di depan para sahabatnya.


Wina yang berada disampingnya, langsung memeluk erat tubuhnya. aketiganya menatap dengan iba.


''Va, pokoknya loe harus ikut gue besok! Tekad gue sudah bulat.'' pinta Renita dengan jalan memaksa, kemudian menghapus air matanya.


''Ren, mending loe pikirin lagi, deh,'' saran Reva


''Gak, besok gue lakuin itu!'' tegasnya tanpa bisa di bantah. Renita beranjak meninggalkan mereka semua.


...----------------...


Tok-tok-tok


Renita masuk keruangan bossnya, setelah terdengar jawaban dari dalam.


''Bos, saya izin pulang cepat karena tidak enak badan. Saya sudah menyelesaikan semua pekerjaan. Semua ada di meka saya.''


''Oke. Jangan lupa istirahat! Saya perhatikan, belakangan ini muka kamu terlihat pucat. Nanti saya ambil sendiri.''


Renita mengangguk dan pamit. Dia ingin mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.


Selepas kepergian Renita. Armand masuk keruangan sekretarisnya untuk mengambil berkas yang harus dia tanda tangani.


Ketika melihat laci yang terbuka, Armand berniat menutupnya. Netranya melihat sebuah kertas tarlipat di dalam nya ada sebuah foto hitam putih kecil dan benda pipih kecil bergaris dua.


''Apa ini?'' gumam Armand.


Seperti pernah melihat foto itu tapi dimana?Karena tak kunjung menemukan jawaban. Armand membawanya pulang untuk di tanyakan ke adiknya. Dia yakin adiknya tahu itu.

__ADS_1


 


__ADS_2