My Boss My Musuh

My Boss My Musuh
Apalagi ini, Tuhan....


__ADS_3

Tanpa terasa satu bulan berlalu setelah musibah itu. Kini, keluarga kecil Armand, perlahan mulai bisa mengikhlaskan kepergian bayi mereka. Renita juga sudah mulai ceria seperti sedia kala. Dia mulai mengurus kembali usaha bersama yang digeluti bersama para sahabatnya, setelah hampir satu bulan absen karena masa pemulihan.


Beruntung, di masa terpuruknya ada suami yang selalu menyemangati dirinya. Armand juga tidak menyalahkan dirinya atas musibah itu. Dia juga merasa bersalah, seandainya waktu itu tidak meninggalkan istrinya sendirian pasti musibah itu tidak terjadi.


''Live must go on."


(Hidup harus tetap berjalan)


Kata itulah yang selalu diucapkan sang suami.


Seperti pagi ini, saat Renita memasangkan dasi sang suami. Armand membisikkan kata yang sama di telinga sang istri.


''Sampai kapan kamu akan mengucapkan kata itu?''


''Sampai kesedihanmu hilang," ucap Armand dengan menatap intens wajah istrinya.


''Harus berapa kali aku bilang. Aku sudah gak sedih lagi, aku sudah ikhlas." Renita menunjukkan senyum termanisnya.


''Mungkin jika orang lain akan percaya tapi tidak dengan aku."


''Bibirmu boleh tersenyum tapi tidak dengan matamu," lanjut pria itu.


Renita tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Dia tidak menyangka jika pria dingin ini begitu peka dengan perasannya.


"Kamu kok terlihat pucat, kamu demam," kata Armand dengan menyentuh pipi istrinya.


"Cuma agak meriang. Tapi gak apa-apa, nanti buat baring pasti enakan lagi."


''Aduh, duh, ssshhhh." Renita meringis dengan memegang area perutnya.


"Kamu kenapa?"


"Kamu duluan aja ke meja makan, aku mau pup, kebelet," kata Renita sambil berlari menuju kamar mandi.


''Bukannya tadi pagi udah?" tanya Armand penuh kebingungan.


''Aku masih sembelit. Kamu duluan aja," teriak Renita dari dalam kamar mandi dengan suara tertahan.


''Ya sudah, aku tunggu di meja makan. Jangan lama-lama!"


''Iya...,'' jawab Renita masih dengan nada yang sama.


Setengah jam lebih, Armand menunggu kedatangan sang istri. Akan tetapi, wanita itu belum juga menunjukkan batang hidungnya. Karena merasa khawatir, pria itu memutuskan untuk menyusul Renita ke kamar.


Dilihatnya, keadaan kamar masih kosong. Pertanda, Renita belum selesai dengan hajatnya. Dia segera menghampiri pintu kamar mandi yang masih tertutup, lalu mengetuknya.


''Ren, kamu masih di dalam?"


''Iya, kalau kamu lapar duluan aja dari pada kesiangan."


''Kita periksa aja, ya ... Aku khawatir. Udah beberapa hari kamu kaya gini." Armand mencoba membujuk istrinya.


''Apa sih, Mas? Gak usah kumat lebay. Masa cuma gara-gara sembelit doang mesti ke dokter. Aku gak apa-apa, nanti aku suruh bibi beli pepaya biar lancar."


Armand hanya bisa menghembuskan nafas kasar. Istrinya benar-benar keras kepala, jika bilang tidak maka akan tidak untuk seterusnya.


''Ya sudah, aku berangkat dulu. Nanti, kalau ada apa-apa segera hubungi aku." Dia berpesan sebelum pergi.


''Oke, Papa."

__ADS_1


...----------------...


''Bi, bibi." Renita berteriak dengan satu tangan memegang erat pegangan tangga, sedangkan tangan satunya lagi memegang panggul. Dia merasakan nyeri tak tertahan pada perutnya.


"Bi, tolong, Bi, ssshh...."


''Ya ampun, Mbak Renita kenapa?" Bi Lastri datang dengan wajah paniknya.


Wanita baya itu segera membantu majikannya menuruni anak tangga, kemudian memapahnya hingga ke sofa yang ada di ruang keluarga.


''Badan mbak panas banget. Bibi telepon kan tuan ya, Mbak. Nanti—"


''Tidak usah, Bi." Renita memotong cepat ucapan pembantunya, "aku gak apa-apa," ucapnya dengan nada lemah.


''Tidak apa-apa, bagaimana? Muka Mbak pucat begitu kayak kurang darah."


''Aku gak apa, Bi. Mungkin tensi darahku sedang turun. Aku mau istirahat disini dulu. Bibi, tolong jaga Vello dulu ya," pinta Renita.


''Aden kecil anteng diruang bermain kok, Mbak. Mbak Reni mau makan apa? Biar bibi ambilin, belum sarapan, 'kan?"


''Nanti, aku ambil sendiri aja, Bi. Aku mau tidur, kepalaku rasanya pusing kunang-kunang."


Bersamaan dengan itu, terdengar suara teriakan Marvello yang memanggil pembantunya.


''Bibi temenin dia aja, sebelum ngamuk itu anak."


Meski merasa ragu, dengan terpaksa wanita baya itu menuruti perintah majikannya.


''Ya sudah bibi kesana dulu. Nanti, kalau butuh apa-apa panggil bibi, ya, Mbak," pesannya sebelum pergi.


''Iya, Bi...."


...----------------...


Deringan ponsel berhasil memecah konsentrasi Armand dari layar lipatnya. Dia segera mengangkat panggilan itu ketika melihat nomor rumah menghubunginya.


''Hallo...."


''Tuan. Maaf mengganggu...." Suara panik Asisten Rumah Tangga menyapa indra pendengaran pertama kali.


''Iya, Bi. Ada apa?"


''Anu, Tuan. Mbak Renita...."


Armand segera melepas kacamata baca miliknya ketika mendengar nama sang istri di sebut.


''Renita kenapa? Bibi ngomong yang jelas. Jangan membuat saya khawatir," ucap Armand dengan gusar.


''Mbak Reni pingsan, Tuan."


''Apa?!'' Armand berteriak karena terkejut, "baik, saya segera pulang."


Pria itu memutus panggilan itu secara sepihak, kemudian bergegas keluar ruangan meninggalkan pekerjaannya begitu saja.


''Ya ampun, Ren. Kamu kenapa lagi, sih? Di ajak periksa gak mau, tau-tau pingsan seperti ini. Dasar keras kepala," gumam Armand yang berusaha fokus pada jalanan di depannya. Disepanjang jalan, dia tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.


Empat puluh lima menit waktu yang dia tempuh untuk sampai di kediamannya. Pria itu segera memasuki rumah mengabaikan para pegawai yang menyapa dirinya. Pikirannya hanya tertuju dengan keadaan sang istri.


''Kenapa bisa pingsan seperti ini, Bi?" tanya Armand dengan raut penuh kekhawatiran.

__ADS_1


Dia menatap wajah pucat sang istri yang terbaring di atas sofa.


''Tidak tahu, Tuan. Saya menemukan Mbak Reni tidak sadarkan diri di depan kamar mandi sewaktu mau membuatkan susu Aden kecil."


''Di mana dia sekarang?"


''Baru saja tidur siang, Tuan. Setelah minum susu."


''Bibi jaga dia, aku mau membawa Renita ke rumah sakit. Badannya panas sekali."


"Baik, Tuan."


Pria itu segera membopong tubuh istrinya, kemudian meminta bantuan sopir pribadi untuk mengantar ke rumah sakit.


...----------------...


"Bagaimana kondisinya, Dok?" tanya Armand setelah dokter selesai memeriksa kondisi Renita.


''Ini dugaan saja. Untuk lebih jelasnya, diperlukan untuk pemeriksaan lanjutan. Istri bapak terkena infeksi rahim atau Endometritis."


''Infeksi, Dok?" Armand kembali bertanya untuk memastikan.


"Hanya dugaan saja. Saya mengenali hal itu dari pendarahan yang tidak biasa yang dialami Nyonya Renita. Saya sarankan segera dilakukan pemeriksaan lanjutan demi mengetahui lebih jelasnya agar segera di tangani sebelum berakibat fatal."


"Apalagi ini, Tuhan," batin Armand dengan mengusap kasar wajahnya.


Setelah melakukan beberapa tes yang dilakukan meliputi pemeriksaan panggul, tes urine, pemeriksaan darah lengkap, CT scan, USG panggul, hingga laparoskopin. Pada akhirnya, Renita resmi divonis positif terkena Endometritis atau infeksi rahim.


"Infeksi rahim atau Endometris adalah peradangan pada dinding rahim yang umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri. Kondisi ini perlu segera diobati untuk mencegah kemungkinan terjadinya komplikasi berupa masalah kesuburan atau bahkan mandul." Armand menyimak dengan serius penjelasan dari dokter yang memeriksa istrinya.


''Apa itu bisa berbahaya untuk istri saya, Dok?" tanya Armand mengingat itu adalah organ penting penerus keturunannya.


''Bila terlambat penanganannya beresiko menyebabkan gangguan kesuburan atau infertilitas. Tapi bapak jangan khawatir, infeksi yang di derita ibu Renita tidaklah parah. Jadi, tidak perlu rawat inap."


''Saya resepkan antibiotik dalam jangka waktu lima hari harus habis. Setelah habis, segera kembali untuk menjalani tes lanjutan. Untuk memastikan jika bakteri dalam rahim istri Anda benar-benar bersih," ucap Dokter wanita berkaca mata itu dengan menuliskan sesuatu pada secarik kertas.


Armand sedikit bernafas lega mendengar penuturan dokter, tapi ada keresahan lain dalam hatinya mengenai gangguan kesuburan.


''Apa itu artinya Renita berisiko mandul?" tanyanya dalam hati.


''Mas." Suara lemah Renita menyadarkan lamunan pria itu.


Dia segera menghampiri sang istri. "Ada apa?''


"Aku kenapa? Ini di mana?" tanya wanita itu ketika dia sadar.


''Kamu di rumah sakit. Tadi kamu pingsan tapi gak apa-apa kok. Gak ada yang perlu di khawatirkan."


Renita hanya mengangguk lemah.


...----------------...


Mohon maaf jika di part ini terdapat banyak kesalahan. Karena aku pun bukan tenaga kesehatan dan hanya bermodalkan Google. Untuk lebih jelasnya bisa cek langsung link di bawah ini:


"Mengantisipasi Infeksi Rahim sebagai Penyebab Infertilitas - Alodokter" https://www.alodokter.com/mengantisipasi-infeksi-rahim-sebagai-penyebab-infertilitas


Bagi yang tahu, mohon koreksinya, ya....


Ayo, dong dukungannya biar aku tambah semangat nge-halunya.Gak banyak-banyak sebar kembang setaman kalian beserta hatimu....

__ADS_1


Babay....


__ADS_2