
Armand menatap lemas makhluk mungil yang tak bernyawa dalam dekapannya. Tangisnya tergugu, putrinya sangatlah cantik dengan rambut hitam lebat, sangat mirip dengan istrinya.
''Maafkan, papa. Papa tidak bisa menjagamu," gumam Armand disela isak tangisnya.
''Ar."
Armand menoleh saat merasakan sentuhan lembut di pundaknya. Rio berdiri tepat disampingnya.
''Ikhlaskan! Kau pasti akan mendapat gantinya," ucap Rio.
Tangis Armand semakin pecah di pelukan sahabatnya. Dia tak tahu harus bagaimana lagi, orang tuanya tidak ada disini, sedangkan mertuanya juga jauh darinya.
Armand terdiam sejenak, dia belum memberi kabar pada mereka.
''Ada apa, Ar?''
"Aku belum memberi kabar mertua ku."
"Kau tenang saja, tadi sahabat istrimu sudah memberitahu mereka. Dan sekretarismu tengah menjemput mereka. Lebih baik, sekarang kita urus putrimu." Rio memberi saran.
''Tapi, aku tidak bisa meninggalkan istriku yang belum sadarkan diri."
''Reva akan menjaganya, anakku sedang bersama mami."
Armand terdiam menatap lekat makhluk mungil di depannya, dia masih belum rela untuk meninggalkan bayi mungil itu.
''Ikhlaskan, Ar." Rio kembali berucap seolah tahu apa yang ada di pikiran sahabatnya.
Armand mengangguk lemah. Dia mulai mengurus pemakaman putrinya dengan di bantu sang sahabat.
...----------------...
''Papa! Kita harus kembali sekarang, Pa." Amalia berteriak panik memanggil suaminya.
''Ada apa, Ma? Kenapa teriak-teriak seperti itu," ucap Setiawan.
''Renita, Pa, Renita ..."
"Apa Renita sudah melahirkan? Bukannya bulan masih bulan depan? Kenapa secepat ini?" tanya Setiawan bertubi-tubi.
''Bukan, Papa! Lebih gawat dari itu." Amalia memasukkan asal barang-barangnya ke dalam koper. Pikiran wanita paruh baya itu, semrawut tidak karuan. Ternyata, ini jawaban dari keresahannya selama beberapa hari terakhir.
''Mama, kenapa, sih? Ngomong yang jelas ke papa. Jangan sepotong-sepotong begitu. Papa bukan cenayang yang bisa langsung memahami ucapan mama," protes Setiawan.
__ADS_1
''Papa tidak usah memancing emosi mama. Kita harus kembali hari ini juga, kondisinya gawat darurat, Papa. Renita keguguran!"
Setelah itu, Amalia langsung menyeret koper besarnya keluar kamar.
''Astaga ..."
...----------------...
Terdengar lenguhan pelan dari bibir pucat wanita yang terbaring lemah diatas brankar. Reva yang mendengar itupun langsung menghampiri sang sahabat.
"Ren, lo sadar?"
Renita mengerjapkan matanya beberapa kali, perlahan namun pasti, dia mulai membuka mata menyesuaikan cahaya yang masuk ke retinanya. Tangannya meraba area perut yang terasa sangat berbeda baginya.
"Di mana bayiku?" Pertanyaan yang pertama kali dia ucap saat sadar.
Reva hanya bisa terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Lidahnya kelu untuk mengatakan kenyataan yang sebenarnya.
"Awwshh, perutku." desisan pelan dari mulut sang sahabat berhasil menyadarkan lamunan Reva.
''Ren, di buat baring aja. Loe baru siuman. Gue panggil dokter dulu."
Renita segera mencekal lengan sahabatnya.
"Loe, loe di periksa dulu, ya , Ren. Kesehatan loe lebih penting."
"Gak, gue mau lihat bayi gue." Renita bersikukuh pada keinginannya. Dia memaksa bangun mengabaikan rasa nyeri yang tidak tertahan.
"Jawab, Va. Dimana anak gue? Gue mau lihat?" Renita berteriak dengan mengguncang tubuh sahabatnya.
"Awsssh, aduh," desisnya lagi ketika merasakan sakit luar biasa pada area perutnya.
"Ren, jangan banyak gerak dulu. Loe habis operasi."
''Gue cuma pengen lihat anak gue, Va." Tangis Renita pecah saat itu juga.
"Sabar, Ren. Nanti Pak Armand pasti bakal kasih lihat ke elo. Loe istirahat dulu ya, jangan banyak gerak. Sebentar lagi, suami loe datang." Reva berusaha menenangkan sang sahabat, diam-diam tangannya memencet tombol darurat untuk memanggil tenaga medis yang berjaga.
"Ya Allah, Nduk. Kok bisa sampai begini. Yang sabar ya, Cah Ayu. Nanti pasti dapat gantinya." Suara teriakan Asih menggema di ruang rawat putrinya.
Dia langsung memeluk erat sang anak dengan menangis tersedu-sedu.
Renita yang baru tenang hanya bisa menatap bingung wanita yang melahirkannya. Dia masih belum memahami apa yang di ucapkan sang ibu.
__ADS_1
"Ganti apa, Bu? Apa yang mesti di ganti?"
Seketika, Asih terdiam. Dia melirik sahabat putrinya bertanya melalui isyarat mata, 'Apa Renita belum mengetahui'. Reva menanggapi dengan gelengan pelan.
"Apapun yang terjadi anak ibu harus sabar. Putri ibu wanita kuat, putri ibu pasti bisa melalui semua ini."
''Apa sih, Bu? Jangan buat Reni semakin bingung? Reni hanya ingin bertemu bayi Reni. Kenapa semua berbelit-belit seperti ini?" Renita tak bisa lagi menahan kekesalannya. Dia berucap dengan nada meninggi di hadapan semua yang ada disana.
''Ren."
Renita mengembangkan senyumnya melihat sang suami memasuki ruangan. Tanpa banyak bicara, pria itu langsung memeluk erat istrinya. Air matanya kembali menetes hingga membasahi baju pasien yang dipakai istrinya. Namun, dengan segera dia menghapusnya. Dia tidak ingin terlihat lemah di depan sang istri, dia harus kuat demi keluarganya.
Melihat Armand datang, baik asih maupun Reva beserta suami memilih keluar. Membiarkan pasangan suami-istri itu menyelesaikan masalahnya.
''Kamu nangis, Mas?" tanya Renita ketika sang suami melerai dekapannya.
Wanita itu memperhatikan intens mata suaminya yang memerah dan berair.
''Ini tangis bahagia, 'kan, Mas? Karena putri kita telah lahir. Iya, 'kan, Mas?" Renita mencecar suaminya dengan pertanyaan bertubi-tubi.
Armand terdiam sejenak, kemudian menggeleng pelan.
''Apa maksud dari gerakan mu itu, Mas?"
Armand bungkam seribu bahasa, tangisnya kembali pecah dengan mendekap erat tubuh mungil itu.
"Tuhan lebih menyayanginya."
''Tidak mungkin." Renita menggeleng tidak percaya, air mata tiba-tiba meluncur bebas di pipi pucatnya.
"Di mana dia?" tanya Renita dengan nada lemah.
''Nanti kalau sudah sembuh, aku ajak menemuinya."
''Kenapa tidak menungguku bangun? Aku juga ingin melihatnya," teriak Wanita itu mengguncang keras tubuh suaminya dengan tangis yang semakin menjadi.
''Ssstt, diam ya. Kita ikhlaskan dia. Kasihan princess di sana," ucap Armand dengan mengusap lembut punggung sang istri untuk menenangkan.
''Aku ibu yang jahat. Seandainya, aku membiarkan semua mainan itu berserakan dia masih ada bersama ku. Seandainya, aku tidak ceroboh dia masih nyaman ada di perutku. Aku ibu yang jahat, Mas." Renita meraung-raung dalam dekapan Armand.
Wanita itu terus menyalahkan dirinya atas kepergian bayinya. Renita terus memberontak di iringi lengkingan kerasnya hingga Armand kewalahan menahan tenaga wanita itu.
"Dokter, dokter," teriak Armand.
__ADS_1
Dokter dan suster yang memang sudah tiba sejak tadi, langsung masuk ke dalam ruangan. Dokter segera menyuntikkan obat penenang di lengan wanita itu. Tak menunggu lama, obat itu mulai bereaksi, pergerakan Renita semakin melemah hingga pada akhirnya tak sadarkan diri di dekapan suaminya.