My Boss My Musuh

My Boss My Musuh
Penyesalan Tiada Arti


__ADS_3

''Gue tekdung..''


Renita membelalakkan mata mendengar nya.


''OMOOO !!! Serius ?'' Renita memastikan, jika dia tidak salah dengar.


Wina mengangguk pasti.


''Selamat ya Win, akhirnya Marvello bakal punya temen.'' Renita kembali memeluk sahabat nya. '


''Asli gue gak nyangka! Tokcer banget si dia. Baru sebulan 'kan kalian nikah ?'' Renita melerai pelukannya.


Wina lagi-lagi mengangguk, dia masih terpaku melihat reaksi heboh sahabatnya ini.


''Udah berapa minggu ?''


''Baru dua minggu, makanya gue gak di bolehin ikut ke rumah si Mita. Ada ini soalnya.'' Wina mengusap perut ratanya. ''Pamali katanya.''


''Bener banget, bisa kena sawan.''


''Eh Ren, beneran yang loe ceritain tadi ?''.


'' Yang mana ? Kebiasaan banget sih, nanya sepotong-sepotong''.


''Elah, loe belum tua udah pikun. Tentang si Mita yang katanya teriak-teriak di rumah sakit.'' kata Wina dengan gemas.


''Ooo itu, ya bener lah. Orang gue liat sendiri pake mata kepala gue.'' kata Renita dengan mengunyah biskuit yang baru di ambilnya.


''Tapi gue juga kasihan sama dia. Seperti nya itu anak depresi berat deh..''


Begitulah, jika para wanita berkumpul. Apapun pembahasan nya, ujung-ujungnya pasti gosip.


''Ren..''


hmmmm..


''Tolong ya, jangan beritahu masalah keluarga gue ke yang lain.'' pinta Wina dengan wajah memelas nya.

__ADS_1


Seketika Renita teringat nasehat suaminya tadi.


'Pasti mereka juga butuh privasi.'


"Aman, Meskipun gue doyan gosip tapi mulut gue bisa di kontrol kok. Gak kayak mulutnya Reva yang suka kemana-mana.''


Wina menghela nafas lega.


...----------------...


Mita memeluk erat papan kayu bertuliskan nama Linda disertai tanggal lahir dan tanggal terakhirnya di dunia. Dia tidak mempedulikan tanah merah yang menempel di baju putihnya.


Mulutnya memang terkatup rapat, tapi kristal bening tak henti-henti membasahi pipi putihnya.


Setelah siuman tadi, Mita berkata pada ayahnya. Jika dia ingin ikut mengantar mamanya ke peristirahatan terakhirnya.


Dan Aryan mengizinkannya. Toh kondisinya sudah membaik, tidak histeris seperti sebelumnya.


''Ayo pulang, biarkan mama istirahat.'' Aryan memegang bahu putrinya.


Mita hanya diam, tidak menolak maupun mengiyakan. Kedua tangan nya semakin erat memeluk papan kayu itu.


''Biar aku saja.'' Melissa berbisik di dekat suaminya.


Aryan mengangguk.


''Mita..'' panggil Melissa dengan nada lembutnya.


Hening...


''Mita sayang sama mama ?''


Mita mengangguk lemah dengan posisi masih belum berubah.


''Mita mau mama sedih ?''


Mita menggeleng pelan.

__ADS_1


''Kalau Mita seperti ini, pasti mama akan sedih. Meskipun mama sudah tidak ada tapi mama bisa melihat Mita.''


Mita menoleh ke arah Melissa. Wanita paruh baya itu, memberikan senyum terbaik nya.


''Kita pulang ya, biar mama istirahat dengan tenang. Mau ?'' Melissa terus membujuk Mita.


Melissa memegang kedua bahu wanita itu, dan membantunya berdiri. Tak ada penolakan atau pemberontakan dari Mita. Hanya saja, tatapannya kosong ke depan.


Dengan pelan dan penuh ketelatenan, Melissa merangkul Mita menuju ke mobil. Dia juga mengisyaratkan semua orang yang masih tersisa untuk segera meninggalkan tempat itu. Takutnya Mita akan berubah pikiran, jika melihat masih ada orang di sana.


Sesampainya dirumah, Mita lebih banyak menghabiskan waktunya dengan menyendiri. Dia seperti mempunyai dunianya sendiri. Tak menghiraukan siapapun yang ada di rumahnya.


''Kamu temani dia.'' titah Oma pada putranya.


''Bagaimanapun juga ini bermula darimu.''


''Ini memang salahku, jika saja dulu aku tidak egois. Tidak akan ada korban seperti ini.'' pandangan Aryan masih tertuju pada putrinya yang masih termenung di balkon.


Oma menghela nafas, ''Maafkan ibu, ibu juga salah. Jika dulu ibu tidak memaksamu untuk berpisah dengan Linda. Mungkin, Linda masih bernafas hari ini. ''


''Bukan hanya Mita yang menderita. Tapi Melissa dan kedua anaknya juga menderita. Selama ini, mereka bertahan hanya demi ibu. Entah jika suatu saat ibu tiada. Mungkin mereka akan pergi.'' Oma menatap sendu.


Aryan menoleh ke arah ibunya dengan tatapan yang sulit di artikan.


''Kenapa kau menatap ibu seperti itu? Apa kau tersinggung, Aryan ?'' tanya Oma menyelidik.


Aryan membuang muka tanpa menjawab sepatah katapun pertanyaan ibunya.


''Sudahlah ! Kau urus saja putrimu itu. Biar bagaimanapun juga kau harus bertanggung jawab atas keadaannya. Hubungi psikiater untuk memeriksanya ! Sebelum lebih parah lagi.'' Oma menggerakkan tongkatnya perlahan-lahan meningalkan putranya.


Tadi Aryan sempat mencari tahu lewat pembantu di rumah ini. Pesan terakhir dari almarhum mantan istrinya tadi terngiang-ngiang di telinganya. Dia penasaran dengan apa yang di perbuat Mita selama ini. Sampai Linda memohon seperti itu pada putrinya di akhir hayatnya.


Dan apa yang dia dengar sungguh mengejutkan. Secara tidak langsung, dia telah mengubah karakter putrinya menjadi wanita jahat.


Seharusnya dulu dia sadar, jika Mita sangat bergantung padanya. Seharusnya dulu, dia menuruti permintaan Linda untuk memperkenalkan mereka di hadapan muara besarnya. Apapun respon mereka di terima dengan lapang dada. Seharusnya...


Aryan menghembuskan nafas kasar, penyesalannya sudah tak berarti untuk saat ini.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2