My Boss My Musuh

My Boss My Musuh
Hanya Sandiwara pt.2


__ADS_3

Dania mondar-mandir tak tentu arah di depan ruangan atasannya. Dia bimbang antara mengetuk pintu atau tidak, bagaimanapun juga, dia harus menjelaskan alasan dirinya melanjutkan kebohongannya kemarin.


Dania sudah mengayunkan tangannya kearah pintu, tapi untuk ke sekian kalinya dia mengurungkan niatnya. Tangannya hanya berakhir dengan menggantung di udara.


"Hei."


Dania menoleh saat pundaknya ditepuk dari belakang.


"Ngapain?" tanya Doni yang baru tiba dengan membawa setumpuk map.


"Kepo," sewotnya kemudian berlalu begitu saja kembali ke tempatnya.


Doni hanya menatap cengo kepergian gadis muda itu.


"Dasar gadis aneh," gumamnya.


Dia memilih masuk ke ruangan Devan untuk menyerahkan berkas.


Di dalam ruangan....


Devan tengah di pusingkan dengan celotehan ibunya yang tiba-tiba menelponnya, saat dia tengah disibukkan dengan pekerjaannya.


"Iya, Bu. Nanti Devan akan membawakan yang ibu minta," kata Devan.


"Benar ya, Van. Jangan janji-janji terus kamu! Ini janjimu yang ke sekian tapi gak pernah ditepati. Ibu kasih waktu seminggu. Weekend besok kamu harus membawanya ke hadapan Ibu," sahut renyah suara wanita diseberang sana.


"Bu, sudah, ya. Aku banyak kerjaan nanti aku telpon lagi," pungkas Devan.


Tanpa menunggu jawaban ibunya, dia mematikan sambungannya begitu saja.


Devan menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Dia benar-benar pusing, ibunya meminta untuk segera dibawakan calon mantu kehadapannya. Dan dia hanya di beri tenggat waktu seminggu.


"Loe kenapa, Van?" tanya Doni yang sudah berada di dalam ruangan.


"Kepala gue pusing. Ibu minta gue bawa calon, akhir pekan besok," jelas Devan.


"Ya tinggal bawa kok repot," celetuk Doni dengan entengnya.


Devan langsung melempar pulpen ke arah teman durjananya itu.


"Loe kalau gak niat ngasih saran mending diem. Mulut loe bikin gue makin pusing," sahut Devan dengan kesal.


"Nih, biar triple pusing loe." Doni meletakkan setumpuk map di hadapan Devan.


"Hufft, si bos kemana, sih?" tanya Devan dengan wajah keruhnya.


"Dia gak masuk lagi ngurusin bininya yang lagi bunting."


"Cepet kerjakan! Sore ini harus ada di meja saya," sambung Doni dengan menirukan gaya bicara Armand.


"Mending loe balik ke ruangan loe. Eneg gue liat muka loe," usir Devan.


Bukan melangkah keluar, justru Doni mendaratkan bobot tubuhnya di sofa ruangan itu. Salah satu kakinya dia tumpukan diatas kaki yang lain. Pria itu berlagak seolah dia seorang bos besar.


"Kerja! Jangan makan gaji buta loe," sewot Devan.


Moodnya pagi ini benar-benar buruk.


"Iya, nanti. Eh, tadi gue melihat sekretaris loe mondar-mandir gak jelas di depan ruangan loe," ucap Doni.


"Dania?" Devan memastikan.


Doni menganggukkan kepalanya.


"Mau apa lagi gadis aneh itu?" gumam Devan.


"Apa dia masih belum puas menyeret ku ke dalam masalahnya?"


"Loe punya masalah apa sama sekretaris loe?" Doni yang mendengar itupun mulai kepo.


"Gue dijadikan tumbal sama itu cewek."


"Hah! Tumbal, gak mungkin, 'kan? Gadis secantik itu nglakuin pesugihan. Apa gajinya sebagai sekretaris kurang? Ih, kok ngeri ya, gue." Doni terus saja membeo, sesekali dia juga bergidik ngeri.


Devan menjentikkan jarinya saat sebuah ide terlintas dalam otaknya.


"Gue punya solusi buat masalah gue. Saatnya balas dendam." Pria itu menyeringai.


"Loe punya masalah apaan sih sama sekretaris loe itu." Keingintahuan Doni berada di puncak level tertinggi.


"Kepo...."

__ADS_1


Doni hanya mendengus kesal.


___________


"Dania segera ke ruangan saya," titah Devan melalui interkomnya.


"Iya, Pak."


Dania merapikan sejenak penampilannya, setelah dirasa cukup. Dia segera menuju ruangan yang berada tepat di hadapannya.


Wanita itu masuk setelah mendapat sahutan dari dalam.


"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Dania.


"Duduk!"


Dania pun menurut, duduk tepat di seberang meja kerja atasannya.


"Saya ingin membicarakan sesuatu kepadamu."


Gadis muda itu mengernyit bingung. "Apa, Pak?"


"Saya ingin kamu membayar perbuatanmu terhadap saya, beberapa waktu belakangan ini." Devan menatap serius wanita di depannya.


"Oh, baik, saya bersedia potong gaji. Bapak minta berapa?"


"Bukan dengan uang, melainkan dengan perbuatan," ucap Devan dengan menatap intens kearahnya.


Dania menelan ludah kasar, dalam hatinya bertanya-tanya.


"Apa yang dia inginkan? Jangan-jangan, dia minta aku melayaninya di ranja*g seperti novel-novel yang pernah gua baca. Kalau itu, BIG NO! Gue bakal menolak keras."


Berbagai pikiran buruk berkecamuk dalam benaknya, hingga suara bariton berhasil menyadarkan lamunan gadis itu.


"Dania, apa kau bersedia?" tanya Devan dengan suara lantang.


"Eh, iya, a-apa, Pak?" Gadis itu tergagap.


"Aku bicara panjang-lebar dan kau tidak mendengarkan," geram Devan.


Dania hanya menunjukkan deretan gigi putihnya.


"Kalau bapak bersedia, bisa diulang, Pak."


"Saya ingin kamu pura-pura menjadi calon istri saya di depan orang tua saya."


Dania menganga tidak percaya, apakah ini mimpi? Jawabannya tidak. Dia merasakan sakit saat mencubit kecil tangannya.


"Apa kau bersedia?"


Dania terdiam sejenak. "Mungkin ini cara yang tepat, agar aku bisa membayar perbuatanku, jadi aku tidak perlu lagi merasa bersalah," batinnya.


"Baik saya bersedia," ujarnya mantap.


"Bagus! Akhir pekan besok, kamu saya ajak menemui ibu." Devan tersenyum puas.


"Secepat itu?" Dania membeo.


"Ya, karena orang tua saya sudah mendesak saya. Batas waktunya hanya sampai itu."


"Baiklah," ucapnya pasrah.


________________


Akhir pekan yang direncanakan pun tiba. Sabtu pagi, mobil Devan sudah terparkir di halaman rumah Dania. Tak lama menunggu, Dania keluar dengan setelan casual-nya. Dress bermotif bunga-bunga selutut, rambut panjang sebahu yang sengaja di gerai dengan aksen jepit kecil dan riasan natural mebuat penampilan gadis itu terlihat sangat manis.


Devan sempat terpana dengan penampilan berbeda dari sosok sekretarisnya pagi ini.


"Maaf, membuat bapak lama menunggu."


Ucapan Dania berhasil menarik kesadaran Devan dari rasa kagumnya. Dia berdehem pelan untuk menetralisir perasaanya.


"Tidak. Cepat masuk! Siang sedikit macet," titahnya dengan nada dingin.


Dania mengangguk.


Di sepanjang perjalanan hanya ada keheningan diantara mereka. Baik Dania maupun Devan tak ada yang berniat membuka pembicaraan. Devan fokus dengan kemudi nya, sedangkan Dania sibuk memandangi pemandangan yang berada di luar sana. Suara lagu dalam mobil itu, yang menemani perjalanan panjang mereka.


Setelah menempuh perjalanan selama dua jam, akhirnya mobil yang di kendarai Devan memasuki halaman yang tidak terlalu luas. Rumah sederhana dengan berbagi jenis tanaman menghiasi halaman, menambah sejuk suasana rumah itu.


Di teras rumah tampak seorang wanita paruh baya tengah menunggu kedatangan putranya, bahkan dia berdiri saat mobil putranya terparkir sempurna di halaman rumah.

__ADS_1


"Itu ibunya bapak?" tanya Dania.


"Iya."


Mendengar itu, Dania meremat jari-jarinya. Entah kenapa? Tiba-tiba, dia merasa gugup luar biasa. Seperti akan bertemu dengan calon mertua sugguhan, padahal ini hanya sebuah sandiwara.


"Ayo, turun," ajak Devan.


Dania menahan lengan kelar yang hendak membuka pintu.


"Kenapa?" tanya Devan.


"S-saya takut," cicit Dania.


"Tidak apa-apa, ibuku baik. Lagian, ini hanya sebuah sandiwara," ucap Devan menenangkan.


"Saya, saya.... Takut ketahuan." Dania beralibi, padahal bukan itu.


Dirinya benar-benar gugup dan takut, seperti ketakutan seorang wanita yang tidak akan mendapat restu dari orang tua pasangannya.


"Kamu tunggu disini," ucap Devan sebelum keluar.


Devan membukakan pintu untuk Dania, lalu menggenggam lembut tangan dingin gadis itu. Dania sempat terkesip diperlakukan sedemikian rupa oleh atasannya, jantungnya berdetak hebat.


"Semoga Pak Devan tidak mendengarnya," bisiknya dalam hati.


"Kenapa lama sekali, sih, Van? Ibu udah gak sabar ketemu calon menantu ibu." Kedatangan Devan dan Dania langsung disambut dengan omelan ibunya.


"Haduh! Cantiknya calon menantuku. Pinter kamu milihnya," puji Sekar, ibu Devan, "namamu siapa anak cantik?"


"Dania, Bu," jawab Dania sopan, kemudian dia mencium tangan wanita paruh baya itu.


"Sudah cantik, sopan lagi, paket komplit.Yuk, masuk, ibu sudah masak banyak. Kalian pasti lapar, 'kan? Habis perjalanan jauh." Sekar mengambil alih tangan Dania yang sedari tadi berada di genggaman Devan.


Dia juga menuntun calon menantunya masuk ke dalam rumah. Dan Devan mengekori dua wanita beda usia itu tanpa sepatah katapun.


"Makan dulu, baru kita ngobrol."


Dengan antusias, Sekar melayani calon menantunya, mulai dari mengambilkan nasi beserta lauknya.


"Tidak usah, Bu. Biar saya sendiri, nanti merepotkan," ucap Dania yang merasa tidak enak.


"Sudah, tidak apa-apa. Ini wujud kebahagiaan ibu, akhirnya Devan memambawa calonnya ke rumah."


Dania menatap pria yang berada di seberang sana, sedangkan yang ditatap hanya menanggapi dengan datar.


Ada perasaan bahagia dan tidak tega yang di rasakan Dania ketika melihat perlakuan Sekar padanya. Bahagia karena dia merasakan kembali kasih sayang seorang ibu, tidak tega karena dia telah membohongi wanita sebaik ibu Devan. Dia tidak akan tega mengecewakan wanita itu.


Makan siang bersama siang itu sangatlah hening, hanya ada dentuman sendok dan garpu yang beradu pada piring.


Setelah acara makan siang usai, ketiga orang itu berkumpul di ruang keluarga untuk mengakrabkan diri satu sama lain.


"Dania kerja apa kuliah?" Sekar memulai pembicaraannya.


"Saya sekretarisnya Pak Devan, Bu," jawab Dania sopan.


"Ooo, ceritanya cinlok. Udah berapa lama kalian pacaran?"


"Kami tidak pacaran," sahut Devan dengan datar.


"Loh! Kok gitu?" Sekar cukup terkejut ketika mendengar jawaban putranya.


"M-maksudnya, kita ti-tidak pacaran, Bu, tapi teman serius." Dania segera menjelaskan, agar ibu Devan tidak curiga.


"Oalah, kamu ini, Van. Hampir buat ibu jantungan. Lantas, sudah berapa lama kalian dekat?"


"Baru satu bulan, Bu," jawab Dania lagi.


Wanita itu merutuki atasannya dalam hati, kenapa selalu dirinya yang menjawab, sedangkan Devan seperti manekin hidup saja.


"Kalau orang tuamu kerja apa, Dania?"


"Ayah dan ibu saya sudah meninggal, Bu. Saya tinggal bersama Abang saya," Dania menjawab pelan.


"Astaga, maaf ibu tidak tau," ucap Sekar merasa tidak enak.


Dania tersenyum. "Tidak apa-apa, Bu. Saya sudah ikhlas."


"Kamu yang sabar ya, sama dia. Devan memang anaknya seperti itu irit bicara, bahkan terkesan tidak peduli. Aslinya, dia baik dan penyayang, kok," kata Sekar seolah mempromosikan putranya.


"Dia penyemangat ibu setelah ayahnya tiada. Sewaktu Devan masih berusia sepuluh tahun." Sekar mengenang sosok ayah Devan.

__ADS_1


"Jadi, kapan kalian akan meresmikan hubungan kalian? Jangan kelamaan! Ibu sudah kebelet pengen gendong cucu."


Devan dan Dania saling menatap satu sama lain, keduanya bingung harus menjawab apa.


__ADS_2