
Mita mematut dirinya di Spion mobil. Memastikan penampilannya seperfect mungkin.
Hari ini Dia akan melakukan misinya. Yaitu menggoda Armand. Menjadikan Pria itu miliknya seutuhnya.
Setelah di rasa pefect. Mita keluar dari mobilnya. Berjalan dengan anggun menuju Lobby.
Saat memasuki Lobby banyak pasang mata tertuju kearahnya. Terutama mata lapar kaum Adam.
Bagaimana tidak.. Penampilan yang sangat aduhai. Mini dress berwarna merah menyala. Menampilkan lekuk tubuhnya secara sempurna.
Riasan super tebal dengan bibir merah menyala seperti habis makan darah satu ember. Pipinya merah seperti habis kena tampar.
Melangkah dengan angkuh menuju lift.
TING...
pintu lift terbuka tepat di lantai tertinggi gedung ini. Dimana ruangan Armand berada.
" Maaf anda dilarang masuk.." Dengan sigap Doni menghadang langkah nya.
" Kau hanya bawahan. Gak usah ikut campur. Aku datang sebagai sahabat bukan sebagai klien.." Mita menatap tajam laki-laki di depannya.
" Apapun alasannya Anda di larang masuk.." Doni berdiri tegak di depan pintu ruangan bossnya.
" Aku kemari untuk membayar ganti Rugi.." Geram Mita.
" Tetap apapun alasannya Anda di larang masuk".
Karena kesal Mita menginjak kaki Doni dengan high heels lancip miliknya.
Doni mengerang kesakitan. Meski tertutup sepatu, itu berhasil membuat jempol kakinya berdenyut.
Mita menerobos masuk begitu saja.
" Armand..."
" Maaf Pak saya sudah mencegahnya.." Doni memasuki ruangan dengan langkah terpincang-pincang.
" Kamu kembali bekerja. Biar Wanita ini saya yang urus.." Armand tak mengalihkan sedikit pun pandangan nya dari dokumen di depannya.
" Baik Pak..'' Doni menunduk hormat sebelum keluar ruangan.
" Ar.. Maafin Aku.." Mita langsung memegang lengan Armand.
" Lepaskan tanganmu ". Kata Armand dengan dingin.
" Ar.. Aku minta maaf". Tindakan Mita lebih berani lagi. Dia duduk dipangkuan Armand.
" Apa yang Kau lakukan.. Turun.." Geram Armand.
" Menjadikan mu milikku seutuhnya.."
...----------------...
Renita Akhirnya tiba di kantor Armand. Setelah satu jam lebih berhasil keluar dari kemacetan. Dia turun dari mobil dengan menggendong Marvello yang sedang tertidur.
Menitipkan Stroller anaknya terlebih dulu di pos satpam sebelum masuk ke Lobby.
" Yo.. Titip ini..Nanti kalau Dia bangun.. Saya hubungi. kamu antar ke atas ya.. " Pesan Renita pada Aryo.
" Siap bu boss.. Gak seru si Marvel Studio lagi tidur.." Celetuk nya.
__ADS_1
Renita melotot, " Apa kamu bilang.."
" Gak.. Gak.. Mbak Reni salah dengar.."
" Heran gue.. Tiap kesini kok mesti liat mukamu itu.." Renita berlalu begitu saja menuju Lobby.
'' Sudah jadi emak tambah galak aja perasaan..'' gumam Aryo.
...----------------...
Renita memasuki Lobby dengan menggendong anaknya juga membawa papper bag berisi makanan yang dia bawa.
Menyapa satu persatu orang yang Dia jumpai. Kadang juga berhenti sebentar karena di hentikan oleh karyawati yang gemas putra nya.
Meski sudah menjadi istri dari orang nomor satu di kantor ini. Renita tak kehilangan keramahannya. Sikapnya tetap sama seperti dulu.
" Aduh Ren anak loe.. Pengen gue bawa pulang deh.." kata Amel si resepsionis.
" Eh.. Ijin dulu sama bapaknya.."
" Aduh kalau itu nyerah gue.. Angkat tangan sebelum perang.." Kelakar Amel.
Renita tertawa.
" Udah ya gue ke atas dulu. Adakan laki guee.."
" Ada kok tadi ada klien datang, Paling bentar lagi juga keluar.. Udah dari tadi kok.." Kata Amel yang memang tidak tau menahu jika Armand sudah memutus kerjasama dengan Mita sebelumnya.
" Oke bye.."
Renita memasuki lift dan menuju ke lantai dimana sang suami bekerja.
Karena kedatangannya memang sudah memasuki waktu makan siang.
Dengan langkah ringan Dia menuju ruangan suaminya dan langsung membuka pintu. Dan ternyata....
Betapa terkejutnya Dia. Melihat pemandangan di depannya.
Armand dan Mita tengah berc**bu dengan penampilan Mita yang sungguh aduhai. Baju bagian depannya tersingkap.
Mita semakin agre*sif melakukan aksinya saat netranya melihat kedatangan Renita.
Renita mengeratkan pegangannya pada pepper bag yang dia bawa. Matanya berkilat tajam.
" Mbak Reni.." Panggil Doni.
Renita langsung menutup pintu sepelan mungkin agar tidak ketahuan Suaminya. Meletakkan jari telunjuk di bib*r nya sebagai tanda jangan berisik.
" Ini kamu ajak Vello.." Bisik Renita.
Dengan hati-hati menyerah kan anaknya yang masih terlelap pada Doni. Memasangkan gendongannya pada pria itu.
" Kamu ajak kemana terserah. Asal jangan bawa kabur aja. Saya sudah sedia ASI di botol nya. Kasih itu ke Dia saat bangun nanti. Semua perlengkapan nya ada di Stroller. Kamu ambil aja di pos satpam.."
" Tap.. tapi mbak.. "
Belum sempat Doni menyelesaikan ucapannya. Tubuhnya sudah di dorong masuk ke dalam lift.
" Bye-bye sayang.. Sama om dulu ya.. Mama mau membasmi hama.." Renita melambaikan tangannya sebelum pintu lift tertutup.
...----------------...
__ADS_1
BRAKKKK!!!!
Dengan langkah lebar juga Amarah. Renita menuju pasangan yang masih asik dengan kegiatannya itu.
Tanpa basa basi Renita langsung menjambak rambut Mita. menyeret nya sampai turun dari pangkuan suaminya.
" Awwww.. Ssshh.. ADUH.. ARMAND.. TOLONG AR.. SAKIT.." Teriak Minta kesakitan.
Sedang Armand masih terkejut melihat kedatangan istrinya.
" Ren.. Ini.. Ini.. Gak seperti yang kamu lihat Ren.."
" DIAMMM..!!?? BELUM WAKTUNYA KAMU NGOMONG.." Renita menatap tajam Suaminya.
Armand langsung mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Cari aman saja daripada ikut kena amuk banteng betina.
" Apa loe pikir gue bakal pergi mewek kejer gituu.. Gue mesti bilang ' Oh Aku terkejut Suamiku main dengan wanita lain diruang kerjanya..' gitu.." Renita mendramatisir ucapannya dan mengeratkan genggamannya di rambut Mita.
'' Awwww...sssss...''
" Atau Loe pikir gue bakal ngaruh sama drama yang Loe buat ini. Gue ninggalin suami gue. Trus loe bisa leluasa miliki dia. MIMPI...!!!??" Renita menghempaskan kasar kepala Mita.
" Cihh.. Gak semudah itu Markonah.. Loe nyari gara-gara sama gue.. Gue jabanin.. Mungkin Waktu itu gue diem aja loe hina gue.. Loe fitnah gue.. Ngatain gue sekretaris gatel yang menggoda bossnya. Itu semua karena gue jaga Anak dalam perut gue. Tapi kalo sekarang loe mau ngajak duel. Ayo mau berapa ronde.." Kata Renita dengan berapi-api. Matanya sudah memerah karena emosi.
" Ar.. Lihatlah Istrimu ini.. Dia menganiaya aku.." Mita mengeluarkan jurus buaya muara nya.
Mungkin jika dulu Armand akan luluh dengan air mata wanita itu. Tapi sekarang tidak.
" Drama banget hidup loe.." Cibir Renita.
"Loe bilang Gue ngerebut tunangan loe ini kan sampai ngatain anak dalam perut gue bukan anak Dia segala. Nih mumpung ada orang nya loe ambil kalo Dia mau.." Renita mendorong tubuh suaminya hingga tepat berada di depan Mita.
Armand gelagapan sendiri di buatnya. Dia takut istrinya salah paham. Dan pergi lagi darinya.
" Ren.. Kamu.. kamu salah paham.."
" DIAMM...!!!???" Renita menatap tajam suaminya.
Lagi-lagi Armand mengatupkan mulutnya rapat-rapat.
" Gue bisa nyari seribu laki modelan Dia.. Gue bisa dapetin yang lebih dari Dia..." Renita menunjuk wajah Armand.
" Kamu dengar kan Ar. Dia lebih rela melepasmu daripada mempertahankan mu. Lebih baik kalian pisah saja. Aku siap jadi pengganti nya..." Mita berusaha memprovokasi mereka.
" Dasar rubah.." desis Renita.
" DIAM KAU MITA.. JANGAN BUAT SUASANA SEMAKIN RUNYAM.." Bentak Armand.
Dia sudah geram mendengar ucapan Renita. Di tambah Mita menyulut Api dalam bensin.
" Oke begini saja.. Kau pilih Aku atau Wanita ini.." Renita bersedekap dada. Di hadapan pelakor harus berlagak sombong.
" Istriku.." Tegas Armand.
" Kau dengar ulat bulu.. Dia memilih Aku.. jadi siapa Disini yang gatel.. heh.." Renita mengejek Wanita di hadapannya ini.
Karena malu. Mita memilih pergi dari tempat itu. Tak peduli lagi dengan Penampilan nya yang sudah Na'udzubillah. Akibat ulah tangan Renita.
Hatinya begitu sakit dengan penghinaan ini.
Dia pikir rencananya akan berhasil. Ternyata... malah berakhir seperti ini.
__ADS_1