
"Ih, lucu ya, Mas. Jadi pengen punya satu kayak gitu," kata Renita memandang kagum bayi mungil yang terlelap dalam tempatnya.
"Aku gak. Soalnya sudah ada Vello. Aku ingin perempuan yang lucunya seperti itu," balas Armand dengan mengusap perut sang istri yang sedikit membuncit.
"Dek, kamu pinter ya, habis di traktir banyak sama emakmu langsung minta keluar. Pasti kamu kebelet pup ya." Perkataan yang lolos begitu saja dari bibir Dania.
Pletak!
"Aww! Sakit, Wina," sungut Dania tidak terima saat jitakan keras mendarat di kepalanya.
"Udah waktunya, Nya." Wina memutar bola matanya.
"Lagian lu ngomongin kagak di filter."
"Benar, 'kan? Tadi emaknya habis makan berpiring-piring, apa salah kalau gue ngomong gitu," sanggah Dania mencari pembenaran.
"Terserahlah, Nya. Pusing ngomong sama lu," kesal Wina.
"Hus-hus, diam. Kalian ini dari tadi debat mulu. Enggak capek apa?" Renita menengahi perdebatan mereka.
"Dia nyebelin sumpah," sahut Wina menunjuk adik iparnya.
"Tumben loe bijak, Bumil." Dania berkomentar.
Renita hanya bisa mengusap dada. Berusaha sabar menghadapi duo ipar durjana, sedangkan Reva memilih memejamkan mata tanpa memedulikan keributan yang di timbulkan para wanita heboh itu, tubuhnya benar-benar letih.
"Dania, kita pulang. Sebelum abangmu jadi macan kesetanan. Dia udah neror gue mulu dari tadi. Winda nangis katanya, padahal udah gue sediakan ASI cadangan buat dia," celetuk Wina tanpa mengalihkan perhatiannya dari ponsel.
"Ya udah ayo, gue juga gak mau kena getahnya."
"Kita pamit dulu, Va. Nanti balik lagi sama Mas David," pamit Wina kepada sahabatnya.
Armand dan Renita pun melakukan hal yang sama, dengan alasan Armand tidak ingin istrinya kecapekan.
"Iya, hati-hati."
Tak lama setelah kepergian mereka, terdengar lengkingan keras seorang wanita memasuki kamar rawat itu. Siapa lagi, jika bukan Marina, Ibunda Devario.
"Mana cucuku?"
"Keep calm, Mom. Ini rumah sakit bukan rumah," tegur Rio.
"Huh! Ini anak benar-benar...." Marina mencubit keras lengan putranya. "Gak ngabarin kalau cucu mommy keluar."
Rio hanya bisa mendesis merasakan panas pada lengannya.
"Aku aja taunya pas Reva udah sampai di rumah sakit, Mom. Dia tadi lagi keluar sama teman-temannya. Tau-tau dapat telpon Reva mau melahirkan." Rio mencari pembelaan untuk dirinya sendiri.
"Dasar! Mestinya istrinya di temenin, Devario. Udah tau istri hamil besar di biarkan pergi sendiri. Huh!" Marina benar-benar geram sekaligus gemas oleh putra semata wayangnya ini.
"Ya maaf, Mom."
"Bagaimana keadaanmu, Sayang?" Marina beralih menghampiri menantu kesayangannya.
"Udah baikan, Mom. Cuma ngerasa lemas," jawab Reva dengan lemah.
"Kau belum makan?"
__ADS_1
Reva menggeleng pelan.
"Devario, ini kenapa istrimu gak dikasih makan, biar pulih tenaganya," omel Marina kepada putranya.
"Mom, aku yang gak mau. Dari tadi Rio udah nawarin aku. Aku gak nafs*," jawab Reva.
"Mestinya di kasih susu apa roti gitu lho, Yo. Nanti kalau si baby minta ASI, bagaimana? Airnya sudah keluar, 'kan, Va?"
"Sedikit."
"Enak gak enak harus diisi. Kasihan si baby."
"Makan, ya meski sedikit," bujuk Marina.
Reva mengangguk pelan.
"Siapa nama cucu mommy, Yo?" tanya wanita paruh baya itu di sela menyuapi sang menantu.
"Brilian Adityawarman."
"Nama yang bagus, mommy akan memanggilnya Billy."
...----------------...
Suara tangisan kencang memecah keheningan malam di ruang perawatan Reva.
Rio yang baru terlelap pun terpaksa membuka matanya kembali untuk melihat putra kecilnya.
"Ssstt, kenapa hmm?" tanya Rio sembari mengangkat bayi mungil itu, meski agak kaku.
"Pantas nangis, basah begini," gumamnya.
Dia berusaha mempraktikkan apa yang dilakukan suster tadi saat mengganti baju putranya. Setelah beberapa saat....
"Akhirnya, selesai juga. Nyaman?"
Bayi mungil itu sudah berhenti dengan tangisnya. Hanya saja, dia tidak tertidur kembali malah membuka mata seperti berusaha mengenali suara sekitar.
"Lucu banget, kamu. Daddy jadi gemas pengen nyubit tapi sayang." Rio terus saja mengajak bayinya berbicara, sesekali mulutnya juga menguap akibat kantuk yang tak tertahan.
"Dia bangun?" tanya Reva dengan suara seraknya.
"Iya, tadi basah jadi ku ganti."
"Kenapa gak bangunin aku?"
"Tidurmu lelap banget, aku gak tega."
"Ya sudah, bawa sini biar ku kasih ASI. Siapa tahu dia mau tidur. Kamu ngantuk, 'kan?''
"Hmmm...."
Dengan hati-hati, Reva menerima putranya, kemudian mulai mengASIhi. Tak lupa Rio juga menaikkan ranjang pesakitan sang istri agar bisa nyaman saat menyu*ui.
"Kamu tidur aja, aku tau kamu masih ngantuk, Yo. Tidurmu juga larut," perintah Reva melihat suaminya malah duduk disampingnya.
"Kantukku sudah hilang."
__ADS_1
"Terimakasih," ucap Rio tiba-tiba.
"Untuk?"
"Karena sudah menyadarkan aku, bahwa tidak semua perempuan itu sama. Kamu berhasil menyembuhkan tarumaku. Kau mau menyayangiku dengan tulus, tidak melulu tentang harta. Dan sekarang...." Pria itu menggantungkan ucapannya untuk menarik nafas.
"Kamu memberiku apa yang kuinginkan. Aku menyayangimu." Dia menatap intens wajah sang istri.
Rasa sayangnya tumbuh berkali-kali lipat untuk wanita ini.
Reva hanya menanggapinya dengan senyum kecil. Menurutnya, yang dia lakukan bukanlah apa-apa.
"Aku tau."
Rio mengernyit, hanya itu jawaban istrinya. Tidak kalimat romantis atau apa sebagai tanggapan lain, pikirnya.
"Dia udah tidur, letakkan dia ke tempatnya."
Pria itu mengangguk, kemudian melakukan apa yang diperintah istrinya. Saat akan kembali ke tempatnya tiba-tiba Reva memanggil.
"Sini, tidur disebelahku. Aku tau kamu gak nyaman tidur di sofa seperti itu. Masih ada cukup tempat untuk kita berdua."
"Kau memang pengertian tanpa aku mengatakan."
Wanita itu menggeser sedikit tubuhnya agar suaminya bisa naik. Setelah menyamankan posisinya tak menunggu lama, Rio bisa tertidur lelap dengan mendekap erat tubuhnya.
Reva hanya bisa memandangi wajah itu. Dulu, pria ini adalah orang yang paling menyebalkan menurutnya. Tiada hari tanpa percekcokan, bila bertemu. Sikap dingin dan mulut pedasnya selalu berhasil membuat tensi darahnya naik. Siapa sangka, kini pria menyebalkan itu menjelma menjadi sosok yang sangat menyayangi dirinya, posesif hingga dia kadang jengah dengan sikapnya yang over.
"Aku mencintaimu," gumamnya tepat di depan wajah saat suami.
"Aku tau."
Reva mengernyit. "Kau belum tidur?"
"Bagaimana aku bisa tidur jika wanita di sisiku sedari tadi menatap aku tanpa berkedip. 'Kan aku gugup," kelakar pria itu.
"Aish, nyebelin."
"Tidurlah dalam dekapan ku." Rio semakin mendekap tubuh mungil itu.
"Lebay."
"Tidak."
"Lebay."
"Tidak."
"Sudah, tidur," titah Rio.
"Iya, kamu ju...."
"Diam! pejamkan mata."
"Gimana mau merem, kalau mulutmu gak berhenti ngoceh, Vario," sahut Reva dengan kesal.
"Kamu kira kau motor," sanggahnya tidak terima.
__ADS_1
"Diam, tidur!"
"Iyaaa...."