
''Gimana kabarmu, Manda?''
Renita berbicara dengan adik iparnya melalui panggilan video. Dia menyandarkan ponselnya pada botol mineral yang ada di atas meja, sedang dia sendiri, memangku Marvello yang sedang aktif-aktifnya.
"Lemes Mbak Ren, kehamilanku kali ini agak manja,'' keluh Amanda dengan nada lemah, wajahnya juga terlihat pucat.
Amanda tengah hamil anak keduanya. Wanita itu, mengalami mual dan muntah parah. Itu sebabnya, dia tidak bisa hadir di acara sang kakak kemarin.
"Padahal, aku pengen banget gendong ponakanku yang gemoy ini," kata Manda dengan gemasnya, "Kalau aku ada disana, sudah ku uyel-uyel itu pipinya," lanjutnya.
Renita tertawa mendengarnya. "Sebelum kamu nyentuh pipinya, kakakmu sudah ngomel duluan, Nda,'' kata Renita di sela tawanya.
"Mommy, aku mau cama dedek itu." terdengar suara Cleo di seberang sana.
"Bukan dedek sayang, tapi kakak kecil." Manda menjelaskan pada putrinya.
"Tapi, kata Daddy, kakak cudah becal. Dia macih cecil, halusnya dedek dong." Cleo mendebat ibunya dengan suara khasnya
"Cleo, imut bener, sih. Mama Reni jadi kangen," celetuk Renita yang sudah tidak tahan mendengar kegemasan bocah kecil itu.
"Macacih, Ama Eni," teriak Cleo dengan girangnya.
"Terimakasih untuk apa, sayang?" tanya Renita karena belum memahami maksud Cleo.
"Mbak Reni, sudah bilang dia imut. Makanya, dia bilang makasih. Dia selalu begitu kalau ada yang memujinya. Kayak kecetilan gitu, lho, Mbak," tutur Manda panjang lebar.
"ooo, Gitu."
"Iya, kecentilan mirip ibunya." Armand tiba-tiba bersuara lalu duduk di samping istrinya.
"Mas, ngagetin aja,'' protes Renita.
"ihhh, Gak ya. Aku nggak pernah seperti itu. Dasar jelangkung, ngikut aja," kata Manda dengan wajah kesalnya.
"Biarin," balas Armand cuek
"Udah ah, suami aku udah pulang. Bye keponakan aunty yang montok." Amanda melambaikan tangannya.
"Bye, Aunty Manda." Renita menggerakkan tangan mungil putranya, membalas lambaian tangan tantenya.
Panggilan pun berakhir, yang mana membuat Marvello menangis seketika. Karena melihat layar sudah gelap.
''Udah dek, besok lagi ya.'' Renita menenangkan putranya yang semakin histeris.
__ADS_1
''uluh-uluh, Sini sama papa. Siapa yang nakal, hem? Tante apa Mama?" tanya Armand dengan mengambil alih anaknya.
Marvello seolah mengadu pada ayahnya, mata mungil itu tampak memerah. Setelah beberapa lama, tangis bayi itu mulai mereda saat berada di pangkuan ayahnya, hanya menyisakan isakan kecil dari mulut mungilnya.
Renita hanya menggelengkan kepala melihat tingkah anaknya itu. Semakin besar semakin banyak saja akalnya, ketika dilarang atau dia menginginkan sesuatu yang tidak segera di turuti, maka bayi mbul itu akan mengeluarkan jurus andalannya, menangis histeris.
''Makin banyak saja ini akalnya.'' Renita mencubit gemas pipi putranya.
Terlihat bibir mungil itu mulai bergetar, menandakan dia akan mengeluarkan suara emasnya lagi. Dengan sigap, Armand segera mengalihkan perhatian anaknya ke arah lain agar lengkingannya tidak keluar.
''Ren, sudah! Jahil banget, sih.'' Armand memperingati istrinya.
''Iya-iya, habisnya geregetan aku sama dia, Mas. Makin hari ada aja tingkahnya. Kamu ajak dulu dia, aku siapin air buat kamu mandi,'' kata Renita.
''Iya.''
...----------------...
''Gengs, gue bingung, bantuin gue. Sumpah gue pengen cepet-cepet balik kesana,'' adu Reva pada ketiga cs-nya melalui panggilan video yang di hubungkan pada mereka.
''Loe, kenapa sih, Va? Nongol-nongol udah ngadu kagak jelas,'' tanya Renita.
''Iya, gue juga bingung,'' sahut Dania.
''Sama.'' Wina menimpali.
Ketiganya hanya bisa menahan tawa mereka termasuk Armand yang ada di samping sang istri.
''Ya, tinggal comot itu suster cowok satu. disana banyak 'kan?'' Wina menanggapi dengan menahan tawanya.
''Loe kira gorengan, main comot,'' dumel Reva
''Jangan lupa, cari yang ganteng,'' sahut Dania.
Sedangkan Renita sudah tertawa sedari tadi.
''Loe bertiga tega banget, sih. Gue serius ini! Sumpah gue bingung. Siapa yang mau bantu gue, buat pura-pura jadi calon suami gue? Masa si Doni? Malu cuy, gue udah bilang 'end' ke dia. Harga diri kalau minta bantuan ke laki satu itu,'' cerocos Reva.
Mendengar itu, terlintas sebuah ide dalam benak Armand untuk menjodohkan sahabatnya dengan sahabat istrinya itu.
''Kondisi bokap loe, gimana sekarang?'' tanya Renita.
''Udah mendingan tapi mesti di jaga betul-betul emosinya, biar gak stres. Sekarang, malah gue yang stres,'' keluhnya lagi.
__ADS_1
''Perasaan loe ngeluh mulu dari tadi, Va. Heran gue, bawa santai aja keles,'' celetuk Wina.
''Santai gundulmu, Win. Tiap jam tiap menit bahkan tiap detik, yang di tanyain bokap ke gue selalu sama, 'kapan kamu bawa calonmu'. Sumpah beneran stres gue." Reva memegang kepalanya sendiri.
"Sabar, Bu," goda Dania.
"Selalu sabar gue, Nya.''
Armand meminta istrinya untuk menanyakan dimana ayah Reva di rawat. Meski merasa aneh, Renita tetap menuruti permintaan suaminya.
"Va, bokap loe di rawat di rumah sakit mana?''
''Di rumah sakit pusat kota, ngapa loe nanya-nanya?''
''Weekend besok. Suami gue ada acara di daerah situ, kebetulan gue juga ikut. Jadi, sekalian jenguk bokap loe,'' papar Renita.
''Widih, Bu Bos mau diajak jalan-jalan sama Pak Bos,'' ledek Wina.
''Iri bilang bos,'' cetus Renita.
''Boleh banget kesini aja, gue juga kangen sama si mbul,'' kata Reva dengan antusias.
''Oke sampai jumpa besok, gue mau molor. Si dia udah narik-narik baju gue. Bye!'' Renita memutus sepihak panggilan itu.
''Apa rencanamu, Mas?'' Renita memicing tajam ke arah suaminya.
''Tau aja, kalau aku punya rencana,'' jawab Armand dengan memperlihatkan gigi putihnya, ''Aku berencana menjodohkan Reva dengan Rio,'' lanjut pria itu.
''Bukannya temen kamu itu, benci sama wanita ya, mas?''
''Makanya itu, aku mau memperlihatkan ke dia kalau semua wanita tidak seperti yang dia pikirkan selama ini,'' jelas Armand.
''Emang dia mau?'' tanya Renita yang meragu akan rencana sang suami.
Armand berfikir sejenak. ''Kita harus memanipulasi keadaan,'' ujar Armand
''Caranya?''
''Aku akan meminta bantuan keluarganya.'' sebuah ide terlintas di pikiran Armand.
''Kamu yakin ? ini akan berhasil, Mas. Mereka dua orang asing, lho. Belum tentu mereka mau,'' ucap Renita penuh keraguan.
''Kita belum mencoba, jangan pesimis dulu,'' jawab Armand.
__ADS_1
''Aku mau hubungi keluarga Rio dulu. Setelah itu kita tidur.'' Armand menaik turunkan alisnya.
''Modus, Mas.''