
''Belum."
Ratna menghela nafas panjang. Dia tidak bisa membayangkan kemarahan suaminya, jika sampai tahu masalah ini.
"Bagaimanapun juga Kang Salim harus tahu, mbak," timpal Asih.
"Aku tidak tahu, Sih. Mas Salim pasti marah besar," ujar Ratna dengan lemah.
"Bagaimana ceritanya, Bude? Kok sampai seperti ini?" tanya Renita yang masih penasaran dengan cerita lengkapnya.
Ratna melirik sinis putri tunggalnya.
"Aku nggak tahu, dia keluar jam berapa semalam. Aku kira anak itu masih tidur karena kebiasaannya memang bangun siang. Tadi pagi, aku juga tidak mengecek kamarnya. Eh, sekitar jam tujuh tadi aku mendapat telpon dari seseorang, katanya itu anak sedang berada di rumah ketua RT daerah kos-kosan pacarnya. Ada yang melaporkan kalau tempat kos itu biasa dibuat mesum para anak muda, ada juga buat pesta narkoba. Untung dia gak ikut dibawa ke kantor polisi," tutur Ratna panjang lebar.
Renita dan ibunya masih mendengar dengan seksama. Tak ingin menyela karena sepertinya cerita Ratna masih berlanjut.
''Awalnya aku tidak percaya. Karena setahuku Nesa masih tidur di kamarnya. Tapi setelah aku cek ke kamarnya, aku semakin yakin jika itu Nesa putriku.''
''Terus kok bude bisa membawa Nesa pulang? 'Kan biasanya langsung di kawinin paksa di tempat.'' Pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut ibu satu itu.
Yang mana langsung dihadiahi pelototan tajam dari Asih. Renita membungkam mulutnya rapat-rapat, sepertinya dia salah bicara.
''Aku bilang masalah ini akan di selesaikan secara kekeluargaan dengan orang tua pacarnya Nesa. Dan warga disana setuju, lalu Nesa ku bawa pulang,'' jawab Asih.
''Terus setelah sampai di rumah, bude langsung ngamuk-ngamuk ke Nesa. Sampai dia ketakutan,'' tebak Renita.
Matanya melirik ke arah sepupunya yang sudah sesegukan dengan menundukkan kepalanya.
''Ren!'' Sekali lagi Asih memperingati putrinya.
Ratna tidak menjawab karena tebakan keponakannya benar adanya.
''Kamu memang sering kabur seperti itu, Nes?'' tanya Renita.
Nesa menggeleng kuat. ''Tidak! Baru semalam doang,'' bantahnya.
''Beneran?'' tanya Renita dengan tatapan menelisik.
Nesa mengangguk mantap.
''Kenapa kamu sampai kabur seperti itu? Jam berapa kamu keluar?'' Renita sudah seperti penyidik yang sedang mengintrogasi tersangka narapidana.
''Jam satu, aku kalut saat tahu aku positif. Aku benar-benar nggak bisa tidur. Aku nekad kesana untuk meminta pertanggung jawabannya tapi dia malah grepein aku,'' jelas Nesa dengan suara sengaunya.
''Terus kenapa dia nggak mau tanggung jawab? Padahal sudah jelas-jelas itu anaknya,'' kata Renita dengan kekesalannya.
''Dia masih nggak percaya kalau aku hamil. Karena selama ini kita selalu main aman.''
''APA!''
Nesa memejamkan matanya saat mendengar pekikan lantang ibunya, dia keceplosan.
__ADS_1
Renita tersenyum tipis, niatnya ingin kepo malah diluar dugaannya. Secara tidak sengaja, Nesa mengakui semua perbuatannya.
''Keterlaluan kamu, Nesa!'' bentak Ratna.
Emosi yang sempat mereda kembali memuncak tatkala mendengar pengakuan putrinya.
Wanita itu sudah beranjak, ingin menampar putrinya. Tapi berhasil di gagalkan oleh adik iparnya.
''Sudah, Mbak! Semua sudah terjadi. Jangan sakiti anakmu lagi.'' Asih menahan tubuh kakak iparnya agar tidak menyakiti putrinya lagi.
Nafas Ratna masih naik turun, dia terduduk lemas di sofa. Tiba-tiba terdengar isak tangis dari mulut wanita itu. Dia tidak menyangka putri yang selalu menjadi kebanggaannya, berani melempar kotoran di depan mukanya.
''Apa salah ibu, Nes? Sampai kamu tega membuat bapak sama ibu malu sampai sebegininya,'' ratap Ratna yang begitu memilukan bagi siapapun yang mendengar.
''Ada apa ini, Ratna? Kenapa banyak pecahan kaca dimana-mana?''
''Kang Salim.''
...----------------...
Tepat pukul empat sore, Armand bersama kedua bawahannya sampai di depan rumah mertuanya. Mereka telah merampungkan urusan pembangunannya disini. Mungkin dalam beberapa hari ke depan Armand dan sang istri harus kembali ke kota karena tanggungjawab yang sudah menunggu. Armand tidak bisa terus-terusan melimpahkan pekerjaannya kepada asistennya.
''Kalian tidak masuk dulu?'' tanya Armand, memberi tawaran pada asisten dan sekretarisnya.
''Terimakasih, Pak. Kita langsung ke hotel saja. Sepertinya didalam sedang ada tamu. Kelihatan ramai begitu,'' tolak Doni secara halus.
''Masa sih?'' Armand melongokkan kepalanya untuk mengintip di dalam rumah.
''Oh, ya sudah. Saya turun dulu.''
Armand memasuki rumah lewat pintu samping. Dari sana, dia bisa mendengar kedua mertuanya bersama dua orang lainnya tengah membicarakan sesuatu yang serius. Tapi, apa itu? Armand tidak memahaminya. Dan dia mengabaikan saja, karena memang bukan urusannya.
''Ren, ada apa ini?'' tanya Armand dengan nada pelan.
Matanya melirik ruang tamu, tempat kedua mertuanya dan saudara dekat istrinya berada.
''Eh, Mas, sudah pulang?'' Renita yang sedang menjaga putranya di depan televisi pun segera menghampiri sang suami. Dia meraih tas yang ada di tangan suaminya lalu mengajaknya masuk ke dalam kamar.
''Ada apa, Ren?'' tanya Armand sekali lagi. Karena tak mendapat tanggapan dari sang istri.
''Ada masalah serius,'' jawab Renita singkat.
Armand mengerutkan keningnya. ''Apa?''
''Mandi dulu, gih! Bau asem,'' titah Renita dengan mengendus bau badan suaminya.
''Sembarangan! Aku pakai parfum tahan keringat ya,'' sanggah Armand tidak terima.
''Tetap aja, kamu habis dari luar, badan kamu kotor, Mas.'' Renita menyerahkan handuk lalu mendorong tubuh suaminya keluar kamar.
''Iya-iya..., tapi itu ada apa?''
__ADS_1
''Karma di bayar tunai.''
''Hah! Maksudnya?''
''Sana mandi!'' Renita sudah berkacak pinggang dengan mata melotot ke arah suaminya.
''Iya....''
...---------------...
''Apa maksudmu, 'Karma dibayar tunai' tadi, Ren?''
Sepertinya, rasa penasaran pria itu masih bersarang dalam benaknya. Dia bahkan, rela mengikuti kemanapun istrinya melangkah.
''Si Nesa hamidun tapi pacarnya nggak mau tanggung jawab. Belum siap katanya,'' jelas Renita.
Armand mengerutkan alisnya, ''Kok bisa? Orang ngelakuinnya siap-siap aja. Pas diminta jawab malah gak bisa. Gak gentleman itu namanya.'' Armand berkomentar.
''Lakinya sudah didatangi apa belum?''
''Lagi di datangi sama Pakde Salim minta bantuan bapak,'' sahut Renita.
''Kalau dia tidak mau tanggung jawab. Langsung datangi orangtuanya. Pasti itu si laki-laki tidak bisa berkutik,'' saran Armand.
''Masalahnya, Mas. Dia itu anak perantauan, orang tuanya ada diluar Jawa. Kalau di daerah sini, sudah dari tadi, Mas. Nggak usah pakai konferensi meja ruang tamu segala,'' kelakar wanita itu dengan entengnya.
''Itu namanya karma dibayar tunai. Dulu sering ghibahin ibu ke orang-orang. Ngatain keluargaku yang tidak-tidak. Sekarang, omongannya jadi boomerang sendiri ke keluarganya,'' lanjut Renita lagi.
''Gak boleh begitu, Ren.'' Armand menasehati istrinya.
''Bodo amat. Yang kelas, saat ini aku puas, Mas. Yang berlaku buruk ke aku atau keluargaku sudah mendapat balasannya.''
''Jangan jadi pendendam, Ren.''
''Aku nggak dendam, Mas. Kejadian ini cukup jadi pengingat. Apapun yang kita tanam itu pula yang kita tuai. Itu namanya karma tabur tuai. Kalau kita berlaku baik yang hasilnya pasti baik, Kalau kita berlaku buruk ya, hasilnya seperti kejadian ini.''
...----------------...
Hai, Hai,... Terimakasih yang masih setia menanti kisah Armand Renita...
Maaf, jadi jarang up.
Efek galau nunggu acc dari Entun, serasa di gantung gengs....
Ngajuin kontrak dari tanggal 17 lalu, belum ada kabar sampai sekarang...
Curcol dikit, hehe...
Dukungannya jangan lupa ya, like, ❤ , vote dan hadiahnya...
Babay....
__ADS_1