My Boss My Musuh

My Boss My Musuh
Dia Sebelas Duabelas mirip Kompeni


__ADS_3

BRAKK!


Tangan kekar Armand menggebrak meja dengan kuat, setelah mendengar penjelasan rinci asistennya. Sorot matanya memerah menandakan si pemilik tengah berada pada emosi level tertinggi.


Devan hanya bisa pasrah menerima amukan dari atasannya.


''Bagaimana ini bisa terjadi, Devan! Ini proyek bernilai triliunan. Kenapa bisa sampai kecolongan?'' tanya Armand penuh kegeraman.


Tangan Armand terkepal kuat, hingga otot-otot tertampak jelas. Nafasnya naik turun akibat emosi yang sudah merasuki jiwa.


''Ma-maaf, Pak. Saya juga tidak tahu. Saya baru mendapat laporan tadi pagi,'' kata Devan dengan nada bergetar.


Meski, dia terlihat tenang tapi ketakutan akan kemarahan si Bos terpancar jelas dari sorot matanya.


''Apa papa sudah mengetahui masalah ini?'' tanya Armand dengan nada geramnya.


''Be-belum, bapak orang pertama yang saya hubungi.''


Armand berusaha mengatur nafasnya beberapa kali, agar emosinya stabil. Bagaimanapun juga dia sadar, masalah ini tidak akan selesai, jika dirinya emosi. Dia butuh ketenangan agar bisa berfikir jernih untuk menangkap si pelaku.


Sewaktu Armand masih berada di rumah sakit tadi. Dia mendapat kabar dari asistennya, jika uang pembangunan proyek yang jumlahnya tidak sedikit di bawa kabur oleh Manager Keuangannya.


''Keberadaannya sudah di lacak?''


''Masih berusaha, Pak?''


''Kenapa lelet sekali? Menangkap kepar*t satu saja tidak becus!'' Suara Armand kembali menggelegar dalam ruangan itu. Hingga, terdengar jelas keluar.


''Ren, laki loe kenapa, sih?'' tanya Dania saat melintas di depan ruang kerja Armand.


''Tau, gue gak peduli. Masih sebel gue ditinggal gitu aja. Untung, loe ikut. Jadi, gue bisa pulang buat bayar taksi. Coba kalau kagak ada loe, mungkin gue masih tertahan di sana. Dompet gue ketinggalan di mobil,'' oceh Renita panjang lebar untuk menumpahkan kekesalannya.


Kedua wanita itu terkejut saat mendengar gebrakan tangan Armand. Padahal posisi mereka berada di luar ruangan.


''Buset! Laki loe kalau ngamuk serem juga, Ren,'' kata Dania.


''Itu gak seberapa.'' Sorot mata wanita itu berubah dingin.

__ADS_1


Peristiwa beberapa bulan silam kembali terlintas dalam ingatannya.


''Udahlah, gak udah urusi dia. Asal gak ada korban masih aman.''


Renita melenggang pergi begitu saja, setelah mengatakan itu. Dia tidak menyadari, jika ucapannya berhasil memunculkan rasa penasaran dalam benak sang sahabat, yang masih belum mengerti maksudnya.


''Ayo, malah bengong. Tunggu pujaan hati loe dekat kolam aja. Mumpung Vello tidur, kita bebas mau ngapain sesuka hati. Loe kalau tetap disini yang ada malah jamuran,'' seru Renita.


''Iya....''


...----------------...


''Devan!'' panggil Dania.


Dia bergegas menghampiri pria pujaannya, meninggalkan sahabatnya begitu saja.


''Ada apa?'' Devan bertanya dengan wajah minim ekspresi.


Dania menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, bingung mau menjawab apa.


''Kamu disini juga? Ada urusan apa?''


''Pekerjaan.''


Dania memajukan bibirnya. ''Pelit amat jawabannya. Ayo, dong tanya apa gitu, ke aku. Dengan senang hati menjawabnya,'' batinnya lagi.


''Perlu bantuan, Pak Devan?'' tanya Dania menawarkan diri sembari menaik turunkan alisnya.


''Tidak perlu! Kamu urus saja urusan kamu. Saya buru-buru. Dan kamu sudah membuang-buang waktu saya,'' kata Devan dengan dinginnya.


Setelah itu, dia berlalu begitu saja dari hadapan Dania. Tanpa mempedulikan gadis itu yang ternganga dengan tingkahnya.


''Andai saja itu muka adonan kue. Langsung ku remat-remat sampai mengembang.'' Dania menggerutu kembali ke tempatnya.


''Hahaha....''


''Hahaha....''

__ADS_1


''Hahaha...''


Kedatangan Dania disambut gelak tawa dari Renita. Bahkan, wanita itu sampai menyusut air mata yang keluar dari sudut matanya.


''Sumpah! Sakit perut gue, Nya.'' Renita masih melanjutkan tawanya.


''Ketawa terus! Gue sumpahin, loe gak bisa berhenti tertawa, Ren,'' sungut Dania.


''Oke-oke, sorry. Bukan maksud gue tertawa diatas penderitaan loe. Tapi sumpah lucu banget,'' ucap Renita berusaha menghentikan tawanya.


Semakin manyunlah bibir gadis jomblo itu.


''Untung, kakak ipar loe gak disini. Bisa di-bully abis-abisan loe sama dia.''


''Asal loe bisa kendalikan itu mulut. Semua akan aman terkendali,'' kesal Dania dengan mendudukkan kasar tubuhnya di sebelah Renita.


''Kok loe bisa tertarik sama dia, sih, Nya?'' tanya Renita.


Dia berusaha mengorek informasi, jiwa detektif dalam dirinya mulai bangkit.


Dania mengedikkan bahunya acuh. Dia sendiri juga tidak tau, kenapa dia bisa tertarik dengan manusia jelmaan es itu.


''Sikapnya sebelas duabelas mirip Kompeni. Mending loe pindah haluan ke Doni, deh, Nya. Mending dia kemana-mana.'' Renita memberi saran.


''Ya, gimana dong, Ren? Hati gue nyantol-nya ke dia. Loe kira berkendara pakai pindah haluan segala,'' ucap Dania yang diakhiri kesewotan dari mulutnya.


''Mending dari mana? Orang lemot gitu, hih. Ogah gue ketularan lemotnya kek Reva,'' lanjut Dania lagi.


''Jatuh cinta itu bagaikan melihat tai kucing rasa coklat. Gak peduli yang taksir cuek, nekat dikejar.''


''Loe nyindir gue,'' sergah Dania cepat.


''Gak, bercanda, Nya. Sensi amat,'' jawab Renita dengan menahan tawanya.


''Ngomong-ngomong, loe gak takut sama abang loe? Berani-beraninya loe ngejar cowok, kek Reva aja. Entar kalau akhirnya kayak Reva juga, mewek,'' kata Renita dengan julidnya.


Dania terdiam mendengar perkataan sahabatnya. Jika dipikir-pikir ada benarnya juga. Mengingat, abangnya yang begitu posesif. Pastilah, David akan menjadi rintangan terbesar baginya. Tapi, gelora cinta yang menggebu membuat Dania nekat untuk memperjuangkan rasa cintanya.

__ADS_1


''Tapi, apa Devan mau membalas rasaku ini dan berjuang bersama ku, kelak?'' tanya Dania dalam hati.


__ADS_2