
'' Roma Marvello.. Ponakan gembul om..'' Celoteh Rendi meniruka gaya iklan di televisi.
BUGGHH..
'' AWWW... Ello Mama mu KDRT sama Om..'' Adu Rendi dengan mengusap kepala belakang nya yang terasa panas. Akibat timpukan Kakak nya.
'' Ngomong aneh-aneh lagi.. ini mendarat di kepalamu..'' Renita menunjukkan gulungan majalah di tangan nya.
'' Iya ampun-ampun.. Kasar amat jadi cewek. Kok bisa sih mas Armand betah punya bini kayak dia..'' Rendi melirik Armand yang sedang santai dengan koran di tangannya.
Armand hanya menggeleng pelan.
Marvello tampak tersenyum senang menanggapi aduan si Om.
Rendi memanfaatkan liburan semester nya untuk mengunjungi Renita. Ingin melihat keponakan embul nya secara nyata katanya.
Karena memang semenjak Marvello lahir. Dia hanya melihat melalui sambungan video saja.
'' Kamu nggak ingin pindah kuliah disini Ren ?''. Tanya Armand.
'' Nggak lah Mas.. Kasian Bapak sama Ibu kalo di tinggal berdua. Lagian Aku juga nyambil kerja paruh waktu..'' Jawab Rendi.
'' Mungkin nanti kalo mau ngelanjutin S2''. Lanjut nya.
'' Nggak usah deh Mas.. Nanti tekor kamu nampung ini kunyuk. Dia makannya sebakul..'' Seloroh Renita di iringi tawa renyahnya.
Rendi berdecak. Kakak nya ini memang selalu menabuh genderang padanya.
Armand terkekeh pelan mendengarnya.
'' Ya sudah.. Kalau ada apa-apa jangan sungkan hubungi Mas.. Pasti Mas bantu.. Ingat langsung ke Mas aja.. Jangan ke mbakmu ini nanti yang ada kena omel.. Punya rekening kan ?''
'' Punya Mas.. Kebetulan di tempat kerja Aku sistem gajiannya langsung di transfer gitu.. Jadi mau gak mau harus buat rekening''. Kata Rendi.
'' Oke kirim saja nomor rekening kamu ke Mas..'' Kata Armand.
'' Beres Mas...''
__ADS_1
Renita terharu melihat sikap Armand pada keluarga nya. Dalam hati dia bersyukur mendapat suami seperti Armand. Peduli, Baik, Royal.. Meski kadang menyebalkan.
'' Mas ini kok Wina katanya gak jadi resepsi. Sayang lhoo undangan sudah di sebar..'' Kata Renita tapi matanya tertuju pada ponsel.
'' Itu dari Wina langsung apa bukan ?''
'' Katanya masih rencana..''
'' Mbak Ren lek tembung jare gak usah di percoyo.. Engko dadine gosip''. Celetuk Rendi
( Kalau masih katanya gak usah di percaya. Nanti jadinya Gosip).
'' Betul itu..'' Sahut Armand.
'' Ya kan Aku baca sesuai yang ada nih...'' Renita mengarahkan layar ponselnya pada Suaminya.
'' Kalu menurut aku gak mungkin. Keluarga Winata itu keluarga terpandang. Pasti mereka akan mengadakan resepsi. Apalagi Undangan sudah di sebar''. Kata Armand.
'' Semoga saja.. Biar Mama bisa tampil cetar ya Vello..'' Renita berbicara pada putranya.
'' Gak usah terlalu.. Ingat sudah ada Suami sama Anak. Apalagi penampilan kamu kayak nemenin aku acara di hotel Anggrek waktu itu. Langsung Aku kurung di kamar. Gak usah kemana-mana sekalian..''
'' Ren tetangga gak ada yang kepo pas Ibu sama bapak disini hampir satu bulan waktu itu..'' Tanya Renita pada adiknya.
'' Ya namanya tetangga. Mulut nya gitu wes mbak. Mereka banyak yang curiga. Baru menikah kok udah ngelahirin aja. Banyak yang bilang kalo dugaan mereka waktu itu benar. Apalagi itu Istrinya Pakde Salim.. Selalu jadi yang pertama kalau urusan makan daging tetangga..'' Kata Rendi dengan wajah kesalnya.
'' Mereka gak ngomong aneh-aneh kan di depan Ibu atau Bapak..??''
'' Nggak tau. Aku sendiri jarang di rumah. Sibuk kuliah sama kerja.. Kadang pulang habis isya. Di rumah paling cuma weekend. itupun kalo gak di ajak ngelayap..''
Armand hanya menjadi pendengar pembicaraan kakak beradik itu. Tidak ada niat untuk menyela apalagi ikut campur.
Dalam hati Dia merasa bersalah. Karena ulah nya keluarga Renita ikut kena getahnya.
Renita menghela nafas. Jujur Dia khawatir Bapak Ibunya sedih mendengar omongan pedas mulut para tetangga. Ingin menanyakan langsung tapi merasa tak enak hati.
...----------------...
__ADS_1
'' Mas kayaknya Aku butuh baju baru deh buat ke acara Wina nanti...'' Kata Renita saat melihat suaminya memasuki kamar.
Padahal acaranya masih beberapa hari ke depan. Tapi lihatlah Ibu satu anak ini sudah riweh soal baju.
Renita sibuk mengeluarkan satu per satu gaunnya di lemari.
'' Lah itu Apa bukan baju ?'' Tunjuk Armand dengan dagunya pada setumpuk gaun yang ada di kasur.
'' Itu udah gak muat di bagian...''
Renita menunjuk bukit barisannya sendiri.
'' Ada yang muat tapi gk bisa buat menyusui . Ada sih satu ini tapi kok nggak ada yang cocok sama baju kamu Mas.. Sama baju Vello juga..'' Renita menunjukkan satu persatu bajunya pada Armand.
'' Ya Kamu pakai yang bisa itu aja Ren...''
'' Heh.. Di bilangin nggak ada yang cocok kok...'' Renita mengulangi jawabannya dengan nada gemas.
'' Aku pengen Kita bertiga couplean gitu lhoo Mas.. Biar serasi.. Kan kesannya kompak..'' Lanjutnya lagi.
Dan tangan wanita itu berganti mengeluarkan satu per satu kemeja beserta jas milik Suaminya. Melakukan hal yang sama seperti pada bajunya tadi.
Akibatnya kamar yang semula rapi. Kini tak ubahnya seperti habis terkena terjangan Tsunami lokal.
'' Nih lihat gak ada kan warna yang cocok..''
'' Ren itu nanti baju-baju Aku jadi kusut semua..'' Keluh Armand.
Niat Armand masuk ke kamar ingin istirahat. Malah di buat pusing dengan ulah dan celotehan Istrinya.
'' Iya-iya nanti apa besok kamu beli sesuka mu. Pokok itu semua di beresin''. Armand menunjuk baju-baju yang menumpuk di ranjangnya.
'' Pusing aku melihat nya.. Buruan Aku mau istirahat..'' Perintahnya dengan nada memaksa.
'' Oke siap Kompeni...'' Jawab Renita dengan semangat enam sembilan.
Armand mengurungkan niatnya keluar kamar. Dan berbalik melotot ke arah Istrinya.
__ADS_1
'' Apa kamu bilang ??''
'' Kompeni hehe..''