My Boss My Musuh

My Boss My Musuh
Membujuk Banteng Betina


__ADS_3

''Ren, udah dong jangan marah-marah gak jelas gini,'' Armand masih berusaha keras merayu istrinya.


Pasalnya sejak pulang dari rumah sakit siang tadi, Renita masih mendiamkan nya hingga sore hari.


Melihat suaminya mendekat, Renita segera menjauhinya. Wanita itu, masih kesal karena Armand tak kunjung menjawab pertanyaan nya tadi.


''Aku mau ketemu sama Mita,'' kata Renita dengan nada sewot nya.


''Buat apa, Ren ? Kamu mau ngajak duel orang gila? Lalu apa bedanya kamu sama dia?''


Renita menatap tajam suaminya, ''Maksudmu aku sama gilanya gitu!'' Renita melototkan matanya hingga bola mata itu seakan mau keluar dari tempatnya.


Armand merapatkan mulutnya, karena sadar dia telah salah bicara.


''Bu-bukan begitu, Ren. Maksud ku nggak ada gunanya kamu nemuin dia,'' Armand memegang kedua lengan istrinya. Tapi Renita segera melepas paksa sentuhan tangan itu


Armand menggaruk kepala belakangnya. Bingung sendiri bagaimana cara membujuk istrinya yang sudah terlanjur ngambek ini.


''Ayo dong, Ren. Aku mesti gimana ? Biar kamu berhenti ngambek kayak gini,'' rengek Armand pada istrinya.


''Mau aku berhenti ngambek?'' Dengan patuhnya laki-laki itu mengangguk.


''Jawab pertanyaan ku tadi,'' kata Renita dengan bersedekap dada.


''Yang mana ?'' tanya Armand bingung.


Renita memutar bola matanya jengah.


''Oke, aku ulangi. Hubungan kamu sama si Hama itu, lebih dari sekedar sahabat 'kan ?''


Hening..


''Tuh kan, nggak dijawab berarti benar. Fix, kamu ada apa-apa sama dia. Makanya, dia terobsesi gitu sama kamu,'' Renita memanyunkan bibir nya.

__ADS_1


Armand menghela nafas, ditariknya istrinya hingga duduk ke pangkuannya.


CUP..


''Nggak usah cium-cium! Nggak bakal mempan. Aku akan tetep ngambek sampai kamu jawab pertanyaan aku,'' Renita ingin beranjak tapi Armand segera mendekap erat pinggang nya.


''Aku nggak ada apa-apa, aku sama dia cuma bersahabat,'' kata Armand dengan penuh kelembutan. Laki-laki itu menaruh dagunya di pundak sang istri.


''BOHONG!'' sarkas Renita cepat.


''Nggak ada pertemanan murni antara laki-laki dan perempuan. Pasti salah satu dari mereka ada yang memendam rasa.''


''Tapi aku ngga punya rasa apapun sama dia, Renita,'' Armand berujar dengan gemasnya.


Rasanya serba salah menghadapi istrinya ini, di bujuk salah nggak di bujuk makin parah. Mana kalau ngambek betah berhari-hari.


''Kamu nggak punya, tapi dia punya. Makanya dia terobsesi gitu sama kamu,'' Renita masih sewot saja.


Entah kenapa ? Tiap kali mendengar nama Mita, mood wanita itu selalu tidak baik. Seakan si Mita membawa pengaruh buruk untuk dirinya.


''Ar, kamu suka cewek yang gimana?'' tanya Mita kala itu.


''Maksudnya?''


''Kamu sukanya sama cewek yang seperti apa? Apa cantik, mulus, sexy gitu lhoo. Atau jangan-jangan kamu nggak suka cewek ? sukanya sama laki-laki,'' Mita memicing tajam.


UHUK..HUUKK..


Perkataan Mita berhasil membuat Armand tersedak minuman nya.


''ssst.. Jangan keras-keras Mit, nanti ada yang salah paham lagi,'' Armand melirik sekelilingnya karena posisi mereka ada dikantin sekolah yang sedang ramai-ramai nya.


''Jadi, yang aku katakan benar ?'' suara Mita semakin keras saja.

__ADS_1


''Aku normal, Mita,''


''Lalu, cewek seperti apa yang kamu suka. Armand! Jawab dong,'' Mita menggoyang-goyang kan lengan Armand.


''Nggak aneh-aneh, nggak agresif itu aja. Sama bisa mengimbangi watak aku tanpa harus banyak menuntut ini itu,'' ucap Armand.


''Berarti kayak aku dong,'' ceplos Mita.


Armand langsung menoleh ke arah Mita.


Mita yang sadar akan ucapannya, segera menutup mulutnya rapat-rapat.


''Bercanda, Ar,''


''MAS!!''


''Apa ?'' Teriakan istrinya berhasil membuatnya tersadar dari lamunan nya.


''Kamu nggak dengerin aku, mas! Nyebelin banget sih jadi orang. Percuma aku ngoceh dari tadi,'' kesal Renita.


Armand menghela nafas, ''Kamu ngomong apa? Maaf ya, aku nggak denger malah melamun sendiri.''


''Pokok aku mau ketemu, Mita. Sebelum hari H, kalau nggak aku nggak mau resepsi-resepsian,'' ancam nya.


''Iya, Oke aku turuti. Kita kesana besok. Nanti aku tanya Mita di bawa ke rumah sakit mana,'' akhirnya Armand menyetujui permintaan istrinya ini.


Daripada acara yang hampir seratus persen jadi taruhannya. Bisa-bisa dia yang kena omel Ibu Ratu tujuh hari tujuh malam.


Renita mengembangkan senyumnya. Wanita itu langsung menghambur memeluk suaminya.


''Terimakasih, suamiku,'' kata Renita dengan riangnya.


''Ini gak gratis! Aku minta jatahku sebelum menjemput Marvello,'' mata Armand sudah berkabut. Gerakan istrinya yang ada di pangkuan nya, membuat miliknya beraksi.

__ADS_1


Tanpa basa-basi, Armand langsung menyerang istrinya tanpa ampun. Sedang Renita hanya bisa pasrah menerima dan berusaha mengimbangi suaminya yang sudah terlanjur terbakar gair*h itu.


Tak berapa lama suara-suara surgawi mereka memenuhi ruangan kamar, sepasang suami istri itu, berhasil menciptakan hawa panas di sore hari yang dingin itu.


__ADS_2