My Boss My Musuh

My Boss My Musuh
Usaha Dania


__ADS_3

Hari ini, Dania berangkat lebih pagi dari biasanya. Apalagi alasannya, jika bukan untuk segera bertemu dengan sang pujaan hati. Dia berniat membersihkan ruangan atasannya serta membuatkan kopi. Berharap usahanya kali ini, bisa menarik simpati Devan. Sehingga, pria itu mau melirik dirinya dan membalas perasaannya.


Iya, sebucin itu Dania kepada Devan. Padahal, pemuda itu tak pernah sedikitpun beramah yang dengannya. Jangankan bersikap ramah, bicara saja hanya sepatah dua patah kata, tanpa senyum sedikitpun. Sikapnya dingin, bermuka datar mirip papan berjalan.


Tapi sekali lagi, jatuh cinta itu bagaikan melihat tai kucing rasa coklat, justru sikap dingin pria itu yang menjadi daya tarik tersendiri bagi seorang Dania.


"Eh, Mbak Dania, rajin banget. Pagi-pagi sudah sampai kantor. Mau jadi karyawan teladan ya," sapa Aryo.


Satpam yang masih betah menjomblo itu, memang suka sekali menggoda komplotan Renita cs.


"Ssstt..., kamu lebih tampan kalau mulutmu itu terkunci, Yo. Masih pagi jangan buat orang badmood," balas Dania.


Setelah mengatakan itu, dia melenggang masuk begitu saja.


Suasana lobby masih sepi, hanya para OB yang sudah datang untuk mengerjakan tugasnya. Dengan langkah riang, Dania menuju lift khusus, menuju lantai dimana dia bekerja.


Ting....


Tak menunggu lama, pintu lift terbuka.


Dania meletakkan tasnya di meja, lalu bergegas masuk ke ruangan Devan. Langkah pertama, dia mulai membereskan beberapa berkas yang berserakan dimeja, kemudian menyapu lantai. Dan tak lupa, dia juga mengepelnya. Benar-benar seperti inem.


Entah, bagaimana reaksi abangnya? Jika mengetahui Dania seperti ini di kantor. Mungkin David akan langsung meminta Dania mengundurkan diri dari pekerjaannya.


Setelah semua rapi, Dania memajang bunga segar yang sempat dia beli tadi. Untuk sentuhan terakhir, gadis itu menyemprotkan pengharum ruangan beraroma buah segar.


"Perfect."


Setelah selesai menyelesaikan semuanya, Dania menuju kamar mandi untuk merapikan kembali penampilannya. Karena sebentar lagi, sang pujaan hati akan segera tiba. Dia harus berpenampilan semenarik mungkin. Membersihkan satu ruangan saja, lumayan membuat dirinya berkeringat.


"Mbak Dania, siapa yang membersihkan ruangan Pak Devan?" tanya seorang office girl, ketika Dania baru keluar dari toilet.


"Memangnya, kenapa?" Bukan langsung menjawab, Dania malah balik bertanya.


"Ruangannya sudah bersih, rapi dan wangi. Segar lagi," jawab wanita muda itu.

__ADS_1


"Mbak ya, yang bersihkan," tebaknya.


"Enak aja, dikira gue nginem disini," elak Dania dengan kesewotannya, "udah, deh. Gak usah kepo. Mestinya loe bersyukur, itu tempat udah bersih. Pekerjaan loe jadi berkurang. Mungkin aja tadi udah dibersihkan sama yang lain."


"Iya juga, ya...." Dia menggaruk kepala belakangnya, "ya udah, Mbak. Aku kembali ke bawah."


Dania menghela nafas lega, selepas kepergian si office girl.


"Untung gak ketahuan. Bisa berabe kalau sampai mereka tahu. Gue bisa menjadi kecurigaan publik," gumam Dania sembari mengusap dadanya.


"Siapa yang curiga?" Suara bass dibelakangnya, sukses mengejutkan gadis itu.


"Astaga, Pak Devan. Untung jantung saya sehat. Kalau enggak bisa koit ditempat saya," pekik Dania.


Dia kembali mengusap dadanya. Jika tadi karena lega, sekarang karena terkejut.


"Siapa yang curiga?" Devan mengulangi pertanyaannya.


"Ah, bu-bukan siapa-siapa. Bapak salah dengar kali," elak Dania.


Tak ingin ambil pusing, Devan memilih memasuki ruangannya.


"Siap, Pak."


...----------------...


Devan tertegun ketika melihat tempat kerjanya tampak berbeda. Tak dapat dipungkiri, tampilannya cukup menyejukkan dan harumnya suskes membuat dirinya tenang. Netranya, menangkap sekuntum bunga segar yang berada di atas meja. Tanpa dia sadari senyum tipis tersungging di bibirnya.


Semenjak Dania diangkat menjadi sekretarisnya, bunga segar dengan jenis dan warna berbeda selalu berada di tempat itu. Wanita itu, memang selalu menyempatkan untuk menggantinya setiap pagi.


Baginya, bunga itu menggambarkan perasaanya yang selalu mekar untuk Devan. Tapi sayangnya, Devan tak pernah menyadari hal itu.


''Permisi, Pak...."


Kedatangan Dania membuyarkan lamunan pria itu. Devan segera mengubah raut wajahnya seperti asalnya, datar tanpa senyum.

__ADS_1


Devan hanya menanggapi dengan deheman.


Pria itu segera mendaratkan bobot tubuhnya ke kursi putarnya. Sedangkan Dania, menyuguhkan minuman pesanan pria itu.


Dania keluar sebentar, kemudian masuk kembali dengan tablet di tangannya. Dia mulai membacakan agenda atasannya untuk hari ini.


"Berarti, jadwal saya setelah makan siang, kosong?" tanya Devan.


"Iya, Pak."


"Kamu ikut saya. Temani saya bertemu klien diluar untuk menggantikan Pak Armand."


Ingin rasanya, Dania berteriak saat itu juga. Tapi dia tahan karena ada Devan disana.


"Sumpah demi apa? Gue diajak keluar berdua sama do'i. Mimpi apa gue semalem? Dania loe mesti tampil paripurna." Dania berseru riang dalam hati.


"Kenapa masih disini? Senyum-senyum sendiri. Sudah tidak waras kamu?" tanya Devan dengan sarkas, saat melihat wanita didepannya tak kunjung beranjak dari ruangannya.


Dania mengerucutkan bibirnya mendengar itu.


"Masa cantik-cantik begini, dikata gak waras? Nyebelin!" gumamnya kesal.


"Permisi." Wanita itu nyelonong keluar begitu saja.


Tak peduli, jika Devan akan menganggapnya bawahan tidak sopan.


...----------------...


"Aaarrrgh, gue diajak keluar sama dia!" Dania memekik tertahan setelah berada diluar.


Bahkan, dia menepuk pipinya berkali-kali, untuk memastikan jika ini bukanlah mimpi belaka. Tak puas dengan menepuk pipi, dia ganti mencubit tangannya sendiri.


"Aww, sakit."


Sejurus kemudian, senyum cerah terkembang di bibir merahnya.

__ADS_1


"Berarti bukan mimpi, ini nyata." Dania berseru riang.


Dia berjingkrak tak jelas, meluapkan rasa bahagianya. Mengabaikan tatapan aneh orang-orang yang berada di lantai itu. Sadar akan hal itu, Dania berdehem untuk menetralisir perasaan. Bersikap sebiasa mungkin kembali ke tempatnya.


__ADS_2