My Boss My Musuh

My Boss My Musuh
Ngidam Dini Hari....


__ADS_3

Hoek.....


Hoek....


Hoek....


Jarum jam masih menunjukkan pukul dua dini hari, tapi Renita sudah terbangun karena merasakan perutnya serasa diaduk-aduk. Wanita itu berusaha mengeluarkan seluruh isi perutnya, tampak keringat juga membasahi pelipisnya.


Renita benar-benar tersiksa dengan kehamilannya kali ini, semenjak diketahui, rasa mual yang ia rasakan setiap pagi semakin parah. Dia juga tidak bisa makan nasi atau makanan berat lainnya, yang ia inginkan buah, buah dan buah. Makan makanan berat hanya saat ngidamnya kambuh.


"Apa masih mual?" Armand datang dengan memijit leher bagian belakang istrinya.


Renita hanya mengangguk, rasa mual tidak memberinya kesempatan untuk berbicara sekejap saja.


Beberapa saat setelahnya, mual itu terhenti berganti dengan lemas pada tubuhnya. Renita mendudukkan tubuhnya di closed, menyandarkan punggungnya lemah di sana.


"Lemas?" tanya Armand lagi.


Renita hanya mampu mengangguk sembari memegangi perutnya.


"Mas," panggil Renita pelan.


"Hmmm."


"Aku lapar," lirihnya.


"Mau makan apa?" Armand menyeka bulir-bulir keringat yang membasahi dahi dan leher wanita itu.


"Mie ayam sama kebab."


Armand menggaruk pelipisnya tidak tidak gatal. Jam segini kemana mencari makanan seperti itu, pikirnya.


"Aku buatkan nasi goreng aja, ya," bujuk Armand, "Atau nanti agak siang, sekitar jam delapanan. Kalau jam segini nyari dimana, Ren?"


Renita menggeleng lemah, matanya sudah berkaca-kaca.


"Aku maunya sekarang, pokoknya sekarang." Wanita itu merajuk seperti anak kecil.


"Ini masih malam, Renita. Mau nyari dimana?" tanya Armand frustasi.


"Di mana aja pokoknya sampai dapat." Dia menyilangkan tangannya di dada, tanda keinginannya tak bisa di tawar. Jurus merajuk sudah di keluarkan.


Kalau sudah begini, mau tak mau Armand harus menurutinya. Sebab jika tidak, Renita akan melakukan aksi mogok makan. Tentu saja, Armand tak ingin itu terjadi. Dia sangat mengkhawatirkan janin yang ada di kandungan istrinya. Kalau ibunya tidak makan, mau makan apa anaknya di dalam sana.


"Baiklah, akan ku carikan," kata Armand dengan pasrah.

__ADS_1


Senyuman Renita terkembang sempurna.


"Aku ikut," sahutnya cepat.


"Tidak! ini masih malam." Armand menolak tegas.


"Tapi, aku pengen makan di tempatnya," ucap Renita dengan tatapan memohon.


"Ya sudah, pakai jaketmu. Kamu siap-siap! Aku panggil Bi Lastri untuk menemani Vello."


"Oke," jawab Renita dengan antusias.


____________


Setengah jam sudah, Armand menyusuri jalanan sepi malam itu. Matanya awas meneliti tempat sekitar, barangkali masih ada kedai buka yang menyediakan makanan yang diinginkan wanita ngidam disampingnya.


"Mas, stop, Mas! Aku ingin itu," kata Renita tiba-tiba.


Armand menginjak remnya mendadak, matanya mengikuti pergerakan telunjuk sang istri.


"Katanya kebab sama mie ayam?"


"Itu aja," jawab Renita singkat.


"Yakin?"


"Baiklah, Tuan Putri."


Armand membelokkan mobilnya tepat di depan kedai yang menyediakan berbagai jenis makanan junk food. Dengan antusias, Renita turun dari mobil, meninggalkan sang suami.


"Ren, jangan lari-lari!" Armand berteriak memperingatkan istrinya, lalu bergegas menyusul wanita hamil itu sebelum terjadi apa-apa padanya.


Setelah sampai di dalam Renita segera memesan makanan yang dia inginkan.


"Mbak, saya pesan beef burger jumbo ini satu, pizza satu sama cola satu. Oh, ya ketinggalan kentang goreng jumbo juga. Terus ayam kriuk tanpa nasi di bungkus."


Pelayan dengan sigap menulis semua pesanan ibu hamil itu.


"Baik, mohon di tunggu ya, Mbak."


Tak berselang lama, pesanan Renita datang. Armand menelan ludahnya kasar melihat banyak makanan yang tersaji diatas meja. Kenapa istrinya jadi rakus begini semenjak hamil? tanyanya dalam hati.


"Kamu yakin mau menghabiskan ini semua?"


Renita mengangguk tanpa ragu.

__ADS_1


"Nanti perutmu sakit, Ren," kata Armand.


"Dia yang minta." Renita nmengusap perut ratanya, "anggap saja ini ganti seharian gak bisa makan. Kalau siang dia mintanya buah melulu, 'kan? Pas tengah malem atau dini hari kayak gini minta makan. Itu namanya anak pinter," cerocosnya panjang lebar.


Armand menghembuskan nafas kasar. Keinginannya seperti sebuah boomerang baginya.


"Yang sabar ya, Papa, menghadapi fase ngidam ekstremnya dedek," kata Renita dengan mulut penuh makanan.


"Hmmm...."


"Kamu gak mau." Renita menawari suaminya.


Dia menyodorkan potongan pizza didepan mulut pria itu.


"Boleh. Kebetulan aku jadi ikutan lapar liat kamu makan." Armand menerima suapan istrinya.


Renita tersenyum menanggapi, kemudian melanjutkan kembali makannya.


"Tapi, kalau aku gendut, gimana?" tanya Renita tiba-tiba, "secara dia selalu minta makan tengah malam begini, mana habis makan selalu ngajak tidur lagi."


Wanita itu terus menggerutu tapi tak tak berhenti melahap makanannya. Armand di buat gemas melihat tingkah istrinya.


"Kalau takut gendut makannya ya berhenti. Takut tapi tetep ngunyah mulutnya." Armand berkomentar.


Yang mana hal itu langsung mendapat tatapan sengit wanita di sampingnya.


"Bilang aja kamu gak ikhlas nurutin ngidam aku," sewotnya.


"Eh, kok jadi ngambek," batin Armand.


"Perkataan ku benar, 'kan? Dimana letak salahnya?" tanya Armand dengan polosnya.


"Kalau takut gendut ya, berhenti makan. Bukan ngunyah terus. Lihat makanan segitu banyaknya hampir habis dalam waktu kurang dari setengah jam," lanjutnya lagi.


"Mas!" Renita berteriak kesal.


"Ssstt, di kedai orang gak baik teriak-teriak. Mana tengah malam begini, bisa ganggu istirahat orang," bisik Armand.


"Bodo! Kamu nyebelin."


"Kalau aku gendut pasti kamu jadi punya alasan buat cari wanita lain yang lebih seksi lebih bohay dari aku, apalagi sebentar lagi tubuhku mirip gajah bengkak. Pasti kamu illfeel sama aku," cerocos ibu hamil itu.


"Makannya selesaikan dulu, gak baik makan sambil ngomel-ngomel."


Tak berselang lama, ibu hamil itu menyelesaikan acara makan besarnya, hingga dia bersendawa keras tanda kekenyangan.

__ADS_1


"Udah, yuk pulang. Kamu bayar sekalian ambil ayam kriuk buat Vello. Aku tunggu di mobil." Renita berlalu begitu saja dari hadapan suaminya yang menatap cengo kearahnya.


"Aneh sekali, sebentar ngomel, sebentar marah, sekarang seperti tidak terjadi apa-apa. Setelah ini, apalagi?"


__ADS_2