
Armand melangkah gontai memasuki kediaman orang tuanya. Seminggu berlalu, masalah rumah tangganya belum juga terselesaikan. Tidak ada perubahan yang signifikan, hanya saja istrinya tidak terlalu mendiamkannya seperti waktu itu. Jika ditanya, Renita masih mau menjawab meskipun hanya sepatah dua patah.
''Pagi, Ma, Pa.'' Armand menyapa kedua orang tuanya yang tengah bersantai di halaman belakang bersama cucu mereka.
Tampak Marvello bergerak aktif kesana kemari mengejar kelinci yang baru di belikan Omanya beberapa hari yang lalu. Bayi gembul itu, sudah bisa berjalan meski masih tertatih-tatih. Kadang juga harus terjatuh karena langkahnya belum terlalu seimbang.
''Pap, pap, pap....'' Vello menghampiri ayahnya yang baru tiba diiringi lengkingan riang khasnya.
Armand yang melihat itupun langsung menyambut anaknya, lalu membawanya ke dalam gendongan.
''Kirain bakal diabaikan lagi,'' sindir Amalia.
''Ma....'' Setiawan langsung memberi peringatan kepada istrinya.
''Biarin aja kenapa sih, Pa. Biar dia merasa,'' protes Amalia yang tidak terima.
''Itu anak seperti itu juga ulah papa yang kurang tegas. Papa selalu mendiamkan segala tingkah Armand. Anak melakukan kesalahan bukannya langsung di tegur, malah dibiarkan saja. Istrinya gak tahu apa-apa di bentak-bentak tidak jelas. Masalah kantor di bawa masuk dalam rumah tangga.'' Amalia mengoceh panjang lebar menyalahkan sang suami.
''Sudah tau, kalau mama yang nasehatin gak pernah di dengar. Mestinya papa langsung bertindak, dong,'' sambung wanita itu dengan berapi-api.
''Gimana mau di dengerin, Ma. Baru mendengar sedikit saja sudah bikin kepala pusing. Gak ada bedanya antara menasehati dengan mengomeli,'' sahut Setiawan dengan santainya.
Amalia mendengus kasar mendengar jawaban suaminya. ''Huh, dasar bapak sama anak sama-sama bikin pusing.''
''Lama-kelamaan darah tinggi mama kumat gara-gara kalian.''
''Makanya, Oma. Jangan cuka malah nanti kelutannya nambah.'' Armand menimpali dengan menirukan suara anak kecil.
Marvello hanya terkekeh hingga menampilkan lima buah giginya. Dia mengira si ayah sedang mengajaknya bermain.
''Diam kamu, Ar,'' sentak Amalia.
''Atut.... Nenek lampir ngamuk.'' Bukannya berhenti, Armand semakin gencar menjahili ibunya.
PLAKK!
''Panas, Ma,'' ucap Armand saat tangan lembut ibunya mendarat keras di lengannya.
''Makanya, Ar. Jangan cari masalah sama nini rempong satu itu,'' celetuk Setiawan.
''Kalian....'' Amalia tak melanjutkan ucapannya.
Berlalu begitu saja dengan kekesalannya. Tak lupa membawa serta cucunya ikut bersamanya.
Beberapa saat kemudian, wanita paruh baya itu sudah terlihat rapi. Dia menghampiri suami dan anaknya yang berada di taman belakang.
''Mama ada acara baby shower di rumah teman mama. Disana banyak anak kecil, Vello pasti suka.''
''Terserah mama saja. Asal cucu papa gak kecapekan,'' balas Setiawan.
__ADS_1
Kini, tinggallah dua pria beda usia tengah menikmati waktu senggangnya. Armand tak henti-hentinya menghisap batang rokoknya. Setiap kali habis, dia menyulut kembali dengan yang baru, hingga tanpa terasa dia hampir menghabiskan satu bungkus miliknya.
''Jaga Kesehatan, Ar. Frustasi boleh tapi jangan keterusan,'' kata Setiawan menasehati putra semata wayangnya.
''Aku pusing, Pa,'' lirihnya dengan mengepulkan asap tebal dari mulutnya.
Pandangannya tampak menerawang entah kemana.
''Apa istrimu masih mendiamkan mu?'' tanya Setiawan.
Armand hanya mengangguk pelan.
''Tidak separah waktu itu. Sekarang, dia sudah mau menjawab setiap pertanyaanku.''
''Rumah tangga memang seperti itu. Kadangkala, ada kerikil tajam bahkan badai sekalipun. Semua tergantung kita, bagaimana cara kita menyikapinya? Asalkan jangan sampai kita di tumbangkan oleh hal itu. Tidak ada perjuangan yang mudah.''
''Jadikan keluarga sebagai penenang pikiran. Bukan sebagai pelampiasan,'' tutur Setiawan mengakhiri nasehatnya.
Armand tertohok, mendengar kalimat terakhir yang diucapkan ayahnya. Dia tertunduk lesu, saat mengingat semua kesalahannya.
''Tidak ada manusia yang sempurna. Papa juga pernah mengalami masalah sepertimu. Teruslah berusaha, raih kembali hati istrimu. Kembalikan kepercayaannya. Dan satu lagi, jangan kau ulangi kesalahanmu.'' Terselip peringatan tegas dalam nasehat pria paruh baya itu.
''Pulanglah! Manfaatkan waktu akhir pekan ini dengan istrimu,'' perintah Setiawan sebelum masuk ke dalam rumah.
...----------------...
''Mbak Reni lagi di dapur. Katanya dia mau buat kue, Tuan,'' jawab Bi Lastri dengan sopan.
''Terimakasih, Bi. Bibi istirahat saja. Sekarang akhir pekan saya kasih bibi libur.''
''Terimakasih, Tuan. Saya permisi dulu,'' kata Bi Lastri diiringi senyum cerahnya.
Dia segera menghentikan pekerjaannya, kemudian berlalu dari hadapan majikannya.
Armand segera menuju tempat dimana sang istri berada. Dia memperhatikan dari kejauhan semua gerak-gerik wanita pujaannya. Renita terlihat riang menjalani kegiatannya. Tampak senyum cerah tersungging dari bibir cerewet itu, senyum yang beberapa hari ini redup karena ulahnya. Sesekali terdengar senandung riang darinya. Tanpa sadar, Armand ikut menarik kedua sudut bibirnya. Dia bahagia melihat istrinya bahagia seperti ini.
''Ehemm!''
Renita terlonjak, ketika mendengar deheman keras dari arah belakangnya.
''Bikin kaget aja. Untung jantung ku sehat. Coba kalau enggak, bisa-bisa langsung koit,'' celoteh wanita itu.
Armand tersenyum tipis, Renita mulai mengeluarkan sisi aslinya. Itu artinya, suasana hatinya sedang membaik.
''Buat apa?'' tanya Armand setengah berbisik di telinga sang istri.
Tangannya melingkar begitu saja tanpa permisi di perut rata itu.
"Adonan,'' jawabnya singkat.
__ADS_1
''Adonanku kemarin jadi apa belum, ya,'' kata Armand sembari mengelus perut rata itu.
Renita mengerutkan dahinya. ''Adonan apa?''
''Aku buatnya sampai melukai punyamu.'' Armand terkikik geli setelah mengatakan itu.
Puk!
Renita memukul pelan lengan suaminya. Bisa-bisanya mesum gak tau tempat, pikirnya.
Renita membersihkan tangannya. Sekarang tinggal menunggu adonannya mengembang, baru dia akan membagi beberapa bagian. Baru setelah itu, dia akan menggorengnya.
''Belum jadi kok sudah selesai?'' tanya Armand dengan polosnya.
''Biar dia mengembang,'' jawab Renita.
Setelah itu, dia menuju ruang keluarga untuk menonton acara gosip kesayangannya. Pandangannya berubah sendu. Ketika tanpa sengaja, matanya melirik karpet, tempat Marvello biasa bermain. Ada kerinduan yang menelusup dalam hatinya. Satu minggu lebih, dia tidak melihat anaknya.
''Kenapa?'' tanya Armand ketika melihat raut sedih sang istri.
''Aku rindu Vello. Bagaimana dia sekarang?''
''Dia lagi jadi ajang pamer mama. Hampir tiap hari mama bawa Vello ketemu teman-temannya.''
''Mama itu orang paling aneh di dunia. Biasanya, kalau orang disuruh ngasuh bayi bakal ngeluh alasan ini itu. Beda dengan emak rempong satu itu, lihatlah! Dia malah antusias. Aji mumpung, pertengkaran kita dimanfaatkan untuk menguasai Marvello,'' ucap Armand panjang lebar dengan pandangan lurus pada layar datar di depannya.
''Ayo, nanti sore jemput Vello,'' ajak Renita.
Armand segera mengalihkan pandangan kearah istrinya.
''Itu artinya....''
Renita mengangguk pelan.
''Beneran?'' tanya Armand memastikan.
Renita mengangguk mantap disertai senyum manisnya.
''Akhirnya....'' Armand berseru riang, ''terimakasih, Ren.'' Dia langsung memeluk erat wanita disampingnya.
''Aku janji tidak akan mengulangi kesalahanku lagi,'' ujar Armand.
''Aku tidak butuh janji, aku butuh bukti.''
''Akan ku buktikan! Jika aku sampai mengulanginya lagi. Aku siap kehilanganmu,'' Armand berkata mantap.
''Benar, ya? Jangan kejar aku, jangan cari aku,'' kata Renita dengan menuding wajah suaminya.
''Iya....''
__ADS_1