My Boss My Musuh

My Boss My Musuh
Kisah Devania 6: Lagu Kesedihan


__ADS_3

Dinginnya angin, malam ini....


Menyapa tubuhku, namun tidak dapat....


Dinginkan panasnya hatiku ini


Andrew memejamkan mata guna meresapi bait-bait lagu yang sengaja di putar dari ponselnya. Waktu hampir menunjukkan tengah malam tapi, entah kenapa matanya enggan terpejam. Wajah ayu Dania mengenakan kebaya masih menari-nari dalam ingatannya.


Seandainya, dialah pria meminang gadis itu. Seandainya, dia yang menyematkan cincin di jari manis itu. Mungkin, saat ini dia akan menjadi pria paling bahagia. Sayangnya, itu hanya sebuah pengandaian. Akan tetapi, sebuah kenyataan seolah menampar keras dirinya jika gadis yang dia suka kini telah menjadi milik orang lain.


Pupus sudah harapan untuk bersanding dengan gadis pujaannya.


Terasa terhempasnya, kelakian ku ini....


Dengan sikapmu


Apakah karena aku insan kekurangan


Teganya kau mainkan....


Seketika, Andrew teringat akan semua penolakan Dania terhadap dirinya, bahkan gadis itu mengatakannya secara terang-terangan.


"Kamu ada hubungan apa sama dia?"


"Tidak ada dan tidak ingin terlibat hubungan apapun dengannya, Pak.''


"Kenapa?"


"Karena dia kakak dari kakak ipar saya."


Rekaman yang dikirim Armand kala itu, selalu terngiang di telinganya. Setelah kepergian Dania siang itu, Andrew segera menghubungi Armand untuk meminta bantuan. Dia ingin mengetahui secara pasti, bahwa Dania memang terpaksa menerima pinangan pria yang pernah dikenalkan menjadi pacarnya.


Berharap kenyataan manis yang didapat, justru malah sebaliknya.


Oh, Andaikan diri ini


Dapat mengubah buih yang memutih....


Menjadi permadani, seperti pinta


Yang kau ucap dalam janji cinta....

__ADS_1


Sungguh, mustahil bagiku


Menggapai bintang di langit


Siapalah diriku hanya insan biasa


Semua itu, sungguh aku....


Tiada mampu....


Salah aku juga, telah jatuh cinta


Insan sepertimu, seanggun bidadari


Seharusnya, aku cerminkan diriku


Sebelum tirai hati, aku buka....


Untuk mencintaimu.... (****)


Semakin di dengar bait reff lagu, semakin lantang hingga suaranya memecah keheningan malam itu. Andrew masih bertahan di taman samping rumah. Dia masih ingin menenangkan hatinya. Nada slow dari lagu semakin menambah kegalauan pria itu.


"Gak kurang kenceng, Kak." Sindiran seseorang dari arah belakang berhasil menyentak lamunan Andrew. Dia melirik sekilas untuk melihat siapa yang datang.


"Suruh Oma pakai penutup telinga. Cucunya lagi galau, butuh ketenangan," sahut Andrew dengan cuek.


"Lagak loe galau mirip ABG yang cintanya gak kesampaian tau gak. Lebay loe," cibir Wina.


Tatapannya seolah tengah mengejek kakaknya.


"Diem loe! Ada loe disini bukan bikin gue tenang malah bikin gue tambah puyeng."


"Loe kenapa, sih? Marah-marah mulu perasaan, mirip cewek lagi PMS tau gak?"


Wina mendudukkan tubuhnya di samping pria itu.


"Coba cerita ke incess Wina. Barangkali, incess bisa bantu."


"Dania," lirih Andrew.


Sorot matanya sendu menerawang jauh kearah depan.

__ADS_1


Mendengar hal itu, bukannya iba atau simpati, Wina malah meledakkan tawanya. Menurutnya, kakaknya ini sangatlah lucu. Hanya karena seorang wanita bernama Dania membuat seorang Andrew Winata sampai segundah ini, di tengah malam lagi. Padahal banyak wanita cantik diluaran sana yang mengejar-ngejar hingga tergila-gila padanya.


"Haha, sumpah loe lucu banget, Kak. Hahaha."


Wina sampai harus memegang perutnya yang terasa sakit akibat kebanyakan tertawa.


"Sebenarnya, loe ngenes karena cinta loe ditolak atau karena harga diri loe terluka," kata Wina masih dengan sisa tawanya.


Andrew tak menjawab sepatah katapun, hanya wajahnya yang terlihat semakin suram.


"Dia bilang, 'karena gue kakak dari kakak iparnya, tidak ingin terlibat hubungan rumit kedepannya'. S'lalu itu yang menjadi alasannya, padahal misalkan gue sama dia sah-sah aja, 'kan? Kita orang asing."


"Jujur, hati gue panas melihat Dania bersanding dengan pria lain. Ingin rasanya gue bawa kabur dia, lalu gue ajak kawin lari ..."


"Jangan gila loe, Kak!" Wina menyahut cepat dengan pekikannya.


"Gue belum selesai ngomong, makanya jangan maen potong," sungut Andrew dengan kesal.


"Gue juga masih waras, apalagi Dania adiknya adik ipar gue," sambung pria itu dengan wajah datarnya.


"Kalau dipikir-pikir benar juga sih alasan itu anak. Coba deh loe bayangin. Gue kakak ipar Dania dan loe kakak ipar Mas David. Misal, Dania kawin sama loe, otomatis Mas David jadi kakak ipar loe, padahal jelas-jelas dia adik ipar loe. Dan gue ... Ah, pusing gue."


Wajah Andrew semakin kesal saja setelah mendengar celotehan panjang lebar dari adik kesayangannya. Pria itu memilih masuk ke dalam rumah untuk istirahat. Percuma berada disini, bukan mendapat ketenangan malah hatinya semakin dongkol.


"Kak! Emang dasar ya, pantes Dania nolak cowok nyebelin kayak loe."


"Kak, tungguin!"


Bukannya berhenti, Andrew semakin mempercepat langkahnya tanpa peduli teriakan sang adik.


...----------------...


(****) Yt: Hari Perintang, Buih jadi permadani.


Segini dulu, penting up-nya rutin, ye gak?


Hayuklah, sebar bunga mumpung malam jum'at ini, eh....


Asal jangan bunga setaman, entar makin horor cerita gue. Hati atau kopi juga boleh...


See you next part...

__ADS_1


Babay....


__ADS_2