
Dania memandangi pantulan dirinya di depan cermin. Kebaya biru pastel membalut sempurna tubuh langsingnya, menonjolkan sisi kesederhanaan tanpa meninggalkan kesan mewah, meski hanya dengan riasan natural. Rambut di sanggul kecil membuat penampilan wanita itu semakin terlihat manis.
Hari ini, Devan akan resmi melamarnya. Akan tetapi, ada yang aneh dengan gadis itu. Rona bahagia tak terpancar sedikitpun dari raut wajahnya. Seharusnya, dia bahagia bukan malah murung seperti ini.
"Seandainya, bukan sandiwara pasti aku akan menjadi wanita paling bahagia hari ini," gumamnya pelan.
"Ya Ampun, cantiknya adik iparku!"
Pekikan keras seseorang berhasil menyentak lamunan Dania.
"Aish, elo ngagetin aja."
"Loe ngelamun, Nya? Pasti deg-degan, pasti resah, 'kan? hayo... ngaku." Wina mencecar sang sahabat dengan berbagai sangkaannya.
Dania hanya diam, tak mengiyakan ataupun menyangkal. Raut mukanya bertambah suram, dan itu disadari oleh Wina
"Loe, kenapa, Nya?''
"Eh, gak kok, gu-gue gak apa-apa.'' Dania berusaha menunjukkan senyum termanisnya
"Yuk, keluar! keluarga calon loe udah dateng," ajak Wina.
Dania mengangguk, kemudian di bawa keluar dengan digandeng kakak iparnya.
Dania mencengkeram lengan kakak iparnya. Rasa gugup tiba-tiba melanda, ketika semua mata tertuju padanya.
"Win, gu-gue insecure," cicit Dania yang berusaha bersembunyi di balik punggung sahabatnya.
"Itu cuma nervous, wajar. Tarik nafas, buang perlahan."
Dania pun mengikuti arahan wanita itu. Berhasil, kondisinya mulai rileks dan dia kembali melanjutkan langkahnya menuju tempatnya.
Dania di dudukkan di tengah diapit oleh adik dari ayahnya beserta istri yang menjadi perwakilan mendiang orangtuanya. Diseberangnya, tampak Devan juga diapit dengan dua orang. Yang tak lain, ibu dari pria itu dan satu lagi, entah. Mungkin saudara dari almarhum ayah atau saudara ibunya.
Dania menundukkan kepala ketika menyadari Devan tengah menatap intens kearahnya. Tatapan yang seolah ingin mengulitinya hidup-hidup.
__ADS_1
"Kenapa jadi gugup gini, sih? Padahal ini hanya sandiwara," lirih Dania dalam hati
Wanita itu memilin ujung kebayanya untuk mengalihkan rasa yang tidak menentu. Dia benar-benar gugup, hingga dia tidak fokus pada acara yang tengah berlangsung.
"Baik, jadi kita putuskan. Pernikahan akan diadakan bulan depan."
Dania mendongak mendengar hal itu.
"Bu-bulan depan. Apa tidak terlalu cepat? Kita baru mengenal, dekat pun belum ada sebulan," sergah Dania.
Semua orang yang mendengar itupun saling melempar pandangan satu sama lain, merasa aneh dengan sikap calon pengantin wanita. Biasanya, dia akan bahagia jika pernikahan di percepat tapi, kenapa ini malah sebaliknya.
"Niat baik memang harus disegerakan, Dania Sayang. Lebih cepat lebih baik, bukan?" Sekar menimpali.
"Tap-tapi...."
Ucapannya terhenti ketika Devan menghunuskan tatapan tajam kepadanya.
"Baiklah."
_________________
Acara inti telah usai, para tamu tengah menikmati hidangan yang disediakan tuan rumah. Dania memilih mengasingkan diri dari keramaian. Dia hanya bisa menatap nanar dekorasi lamaran yang sudah di persiapkan kakaknya, dekorasi sederhana bertema bunga-bunga, bernuansa biru pastel yang senada dengan kebayanya.
David menyiapkan acara ini sedemikian rupa dengan sebaik mungkin. Entah bagaimana jadinya jika pria itu mengetahui kebohongannya. Pasti dia akan sangat kecewa.
"Maafkan Nia, Bang."
Setitik air mata lolos ke pipinya, namun dia segera menghapusnya agar tidak ketahuan.
"Ehem!"
Dania mengalihkan perhatiannya ke asal suara.
"Pak Devan."
__ADS_1
Tanpa mengucap sepatah kata, Devan mendudukkan dirinya disamping Dania. "Bagaimana perasaanmu?"
"Campur aduk."
"Apa kamu tidak bahagia bertunangan denganku?"
"Bahagia jika bukan sandiwara," jawab Dania datar.
"Ini sungguhan."
"Maksud, Bapak?"
"Tunangan sungguhan, kalau sandiwara tidak mungkin, 'kan? Aku membawa keluarga besarku kemari. Tidak mungkin aku membawa seserahan sebegitu banyaknya untukmu," ucap Devan.
"Itu artinya...."
Ada secercah harapan jika Devan mempunyai perasaan yang sama. Secercah harapan perasaannya akan berbalas.
"Aku ingin menganggap serius hubungan ini, di tengah kebohongan yang kita lakukan."
Senyum manis yang sempat terlukis di bibir gadis itu perlahan memudar. Tatapan penuh harap berubah menjadi tatapan penuh kekecewaan.
Dania tersenyum miris, mungkin dialah wanita paling malang di dunia ini. Bisa bersanding dengan pria yang dia cintai tapi si pria selalu menganggap semuanya kebohongan. Kenapa hanya kebahagiaan semu yang dia rasakan.
"Apa bapak tidak memiliki sedikit perasaan untuk saya?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut gadis itu.
Sakit rasanya mencintai seorang diri, ia juga ingin dicintai.
"Tidak ada karena kamu bukan tipe saya."
Jawaban yang mampu meremuk redamkan hati seorang Dania. Rasanya seperti ada ribuan pisau yang menancap di dadanya ketika mendengar Devan mengatakannya dengan ringan tanpa beban.
"Bagaimana jika seandainya saya memiliki rasa sama bapak?"
"Ya itu terserah kamu. Saya tidak bisa melarang kalau urusan hati. Hanya saja, saya tidak."
__ADS_1
Dania geram sendiri mendemnya ingin rasanya dia merobek mulut pria ini. Kejujurannya sungguh melukai hatinya.