
Esok harinya, George sudah mempersiapkan konferensi pers di gedung Triple D Corp. Bukan hanya memperkenalkan Davis sebagai pemimpin perusahaan, namun juga memperkenalkan Diora sebagai istrinya.
“Kalian sudah siap?” tanya George.
“Apa aku harus dikenalkan juga?” Diora nampak ragu.
“Tentu saja, apa kau tak ingin dikenal sebagai istri pria terkaya di Eropa?” Davis berucap seraya membelai dengan lembut rambut istrinya.
“Bukan seperti itu, tapi—“
“Tapi apa?”
“Kau tak memiliki mantan kekasih yang gila harta atau fans fanatic yang begitu terobsesi padamu kan?”
“Memangnya kenapa?”
“Aku takut akan dilabrak oleh mereka, dicakar-cakar wajahnya dengan kuku mereka, dijambak rambutnya.” Diora bergidik ngeri membayangkan itu semua.
“Kau terlalu banyak memikirkan hal yang konyol.”
“Aku hanya mengantisipasinya saja.”
“Jika ada orang yang berani melakukan itu padamu, maka aku yang akan melenyapkannya,” ucap Danzel sungguh-sungguh.
Diora pun mau untuk ikut konferensi pers. Ia percaya suaminya pasti akan melindunginya.
...........
Kini mereka telah duduk di aula yang begitu luas. Sudah terdapat wartawan yang menunggu kehadiran orang nomor satu di Eropa itu. Kilat lampu flash dari jepretan kamera menyilaukan pandangan mereka.
“Terima kasih atas kehadirannya, saya George Gabriel Giorgio selaku wakil direktur sekaligus asisten presiden direktur Triple D Corp akan memperkenalkan secara langsung wajah asli sang pemilik perusahaan,” ujar George, lalu mempersilahkan Davis untuk berbicara.
“Perkenalkan, saya Drake Davis Dominique selaku presiden direktur Triple D Corp dan ini istri saya Diora Doris Dominique.”
Riuh suara wartawan saling melontarkan pertanyaan, hingga tak ada satupun pertanyaan yang jelas untuk didengar.
__ADS_1
“Mohon tenang, jika ingin bertanya silahkan angkat tangan terlebih dahulu.” George menengahi kegaduhan itu.
Akhirnya sesi tanya jawab berjalan secara rapi dan teratur, sesuai arahan George.
“Mengapa anda menyembunyikan identitas anda?”
“Karena saya kira orang yang membantai keluarga saya adalah pesaing bisnisnya, sehingga saya menutupi identitas untuk keselamatan selama membangun bisnis dan mengungkap kebenarannya.”
“Apakah benar yang melakukan perbuatan keji itu pesaing bisnis keluarga Dominique?”
“Tidak.”
“Apakah anda sudah menemukan pelakunya?”
“Sudah.”
“Apa motifnya? Apakah mereka sudah mendapatkan balasan yang setimpal?”
“Semua karena dendam pribadi, saya sendiri yang akan membalaskan dengan balasan setimpal.”
“Kapan anda menikah? Mengapa pernikahan dilakukan secara tertutup?”
“Sudah dua minggu.”
Davis memberikan isyarat pada George agar menyudahinya. Ia sudah malas menanggapi pertanyaan yang terlalu ingin tahu semua urusannya itu.
“Sekian konferensi pers hari ini.”
Melenggang pergi ketiga orang itu, meninggalkan wartawan yang masih banyak pertanyaan.
...........
Davis membawa Diora untuk ke ruangan pribadinya, dimana terdapat ranjang yang begitu besar.
Langsung menghambur ke pelukan suaminya, Diora terisak didada bidang itu. Ia begitu paham bagaimana rasanya kehilangan, sebab ia pun merasakan kehilangan seorang mama dan sosok papa. “Mari kita bahagia bersama.”
__ADS_1
Semakin mengeratkan pelukannya, Davis begitu bahagia istrinya dengan suka rela memeluknya. “Ku harap kau bisa menerima baik buruknya diriku,” lirihnya.
Diora melepaskan rengkuhannya, langsung menautkan bibirnya dengan suaminya. Masa bodoh dengan urat malu, ia hanya ingin melakukan itu dengan suaminya.
Davis pun membalasnya, lidah mereka saling beradu. Ia yang sudah lama memendam hasrat pun tak kuasa lagi menahan. Tubuhnya sudah sangat panas ingin mengeluarkan sesuatu yang sudah menggebu itu.
“Boleh aku melakukannya?” ijinnya, dijawab anggukan kepala oleh istrinya.
“Kau sudah tak datang bulan lagi?” Anggukan kepala lagi sebagai jawaban.
Tak mau melewatkan kesempatan emas, Davis langsung merebahkan tubuh istrinya. Tak melepas pagutan keduanya. Lidahnya mulai bermain melakukan foreplay. Meninggalkan begitu banyak jejak kepemilikan di tubuh istrinya.
Perlahan Davis mulai melepas helaian benang istrinya dan juga dirinya, “Engh ...” erang Diora saat merasakan tangan suaminya meraba punggung mulusnya. Mengusap lembut sesuatu di bawah sana yang tak pernah terjamah oleh siapapun.
Kecupan dan gigitan lembut Davis berikan, “Emh ....” Diora menyilangkan kedua tangannya di atas dua bola kenyalnya, dia malu meskipun keadaan ruangan remang-remang dan itu adalah suaminya. Tapi ini adalah kali pertamanya.
“Tidak perlu malu, kau adalah istriku?” Menyingkirkan dengan lembut tangan itu, Davis mulai bermain di benda kenyal itu, menyesap, hingga remasan ia berikan.
“Aku tahu, ta-tapi—“ Akh! Sekuat tenaga Diora menggigit bibir bawahnya menahan sakit, spontan kedua tangannya meremas pundak kekar suaminya.
“Ini sangat sempit,” gerutu Davis ketika berusaha menerobos masuk kelembutan di balik rimba hitam itu. Tangannya mulai memberikan sentuhan kecil dikelembutan itu, agar istrinya lebih rileks lagi. Basah sudah sesuatu yang ia jamah dengan jemarinya.
“Akhhh sakit,” teriak Diora yang merasa kesakitan ketika suaminya berusaha untuk yang kedua kalinya, sekuat tenaga Davis mendorong masuk hingga akhirnya menerobos ke dalam sangkarnya.
Rintihan, erangan, desahan menggema di ruangan berukuran lima puluh meter persegi itu.
“Oh tubuhmu sangat nikmat!” ujar Davis yang begitu menikmatinya.
“Uhhh ... ahhh ....” Mendengar itu keluar dari mulut istrinya membuat Davis menaikkan tempo permainannya.
Begitu lama mereka melakukan permainan itu, hingga akhirnya, “ahhh ....” Mereka mengelurkan kenikmatan puncaknya secara bersama-sama. Davis menanampan benihnya di dalam rahim istrinya.
Davis terkulai lemas ambruk di samping istrinya.
Memberikan kecupan bertubi-tubi di wajah Diora yang sudah terpejam karena lelah, seraya mengucapkan, “terima kasih sudah memberikanku itu.” Kemudian merengkuh tubuh istrinya penuh kasih sayang.
__ADS_1