
Tak berselang lama, dokter kandungan pun masuk ke dalam ruang rawat Diora.
“Ada yang bisa saya bantu, tuan?”
Davis pun langsung menatap ke arah suara itu. “Tolong cek kandungan istriku!” titahnya.
“Baik, permisi.” Dokter itu mendorong meja kecil berisi sebuah monitor yang berada disana.
Menyibakkan pakaian yang dikenakan Diora hingga memperlihatkan perut mulus. Untung saja dokter itu wanita. Segera mengoleskan gel, lalu transduser ditempelkan dan diputar pada permukaan perut Diora.
“Lihat bulatan-bulatan kecil di monitor, tuan, itu adalah anak-anak anda.”
Davis melihat dengan seksama monitor itu. “Yang mana anakku?” tanyanya bingung, sebab tak hanya ada satu bulatan saja.
“Semua.” Dokter itu tersenyum.
“Keempatnya?” Dokter mengangguk.
“Selamat, anda akan mendapatkan langsung empat bayi yang lucu.” Dokter itu menjelaskan. “Usia kandungannya masih sangat muda, baru menginjak tiga minggu, mohon untuk selalu menjaga kesehatannya, nutrisinya, dan jangan membuatnya stres. Semua akan mempengaruhi kesehatan janin dan ibunya.”
“Ya, terima kasih, kau bisa pergi,” usir Davis.
“Baik, permisi.” Dokter itu pun keluar.
__ADS_1
Davis begitu gembira, ia mencium perut istrinya bertubi-tubi. “Baik-baik di dalam perut Mommy, sayang, jangan menyusahkan Mommy ya, menyusahkan Daddy aja,” bisiknya seolah sedang berbicara dengan anak-anaknya yang masih berbentuk zigot.
Tangannya beralih mengusap lembut wajah Diora. Mencium dalam-dalam kening istrinya. “Maafkan aku, caraku memang salah untuk mendapatkanmu, tapi aku sungguh mencintaimu, jangan meninggalkan aku atau memintaku untuk meninggalkanmu. Ingat, disini ada buah cinta kita.” Menunjuk perut yang masih rata itu.
Ponsel Davis berbunyi, menghancurkan suasana yang sedang haru. Ia segera keluar setelah melihat siapa yang menelfonnya, karena tak ingin suaranya mengganggu Diora.
Diora langsung membuka matanya setelah mendengar pintu tertutup. Ia sudah sadar sedari tadi ketika merasa ada tangan yang mengusap perutnya, bahkan ia juga mendengar perbincangan dokter kandungan dengan suaminya.
Bulir bening tak terasa menetes hingga membasahi bantal. Tangannya mengusap perutnya. “Tumbuhlah dengan baik, Mommy mencintai kalian.” Matanya nanar menatap langit-langit. Ia tak tahu harus berbuat apa dengan suaminya. Hatinya masih terasa sakit mendengar kenyataan yang sesungguhnya. Namun dalam lubuk hatinya, ia merasakan betapa besar cinta yang diberikan suaminya.
Di luar ruangan, Davis terlibat perbincangan dari sambungan telefon.
“Ada apa?” tanya Davis setelah menggeser tombol hijau.
“Masuklah! Aku ada di lantai teratas.” titah Davis. Ia pun menunggu di depan ruangan hingga anak buahnya sampai.
“Maaf, jalanan padat.” Pria itu takut bosnya akan marah karena menunggunya terlalu lama.
“Ikut aku,” ajak Davis.
Davis dan anak buahnya pun berjalan menuju ruangan dimana Leoni dan dokter terakhir kali masuk. Sepertinya belum selesai pemeriksaan kesahatan Leoni. Mereka menunggu beberapa saat di depan ruangan.
Dokter dan Leoni pun terlihat keluar dari balik pintu yang baru saja terbuka.
__ADS_1
“Dok, saya mohon ambillah darah saya.” Leoni terus saja meminta hal itu.
“Maaf, kondisi kesehatan anda tidak baik, karena memiliki hipertensi.” Dokter itu terus menyampaikan alasannya.
Davis pun langsung berdiri setelah mendengarnya. “Apa golongan darahnya?” tanyanya pada dokter itu.
“A.”
“Ambil darahku, golongan darahku sama.” Davis mengajukan dirinya.
“Kami perlu memeriksa kesehatan anda dulu,” timpal Donter.
“Lakukan.”
“Mari.” Dokter itu mempersilahkan Davis untuk masuk.
Sebelum mengikuti dokter masuk, Davis berbicara dengan anak buahnya terlebih dahulu.
“Bawa wanita tua itu, amankan di markas, dan jangan lakukan apapun sebelum aku datang atau sebelum ada perintah dariku,” titah Davis.
“Baik.”
Davis pun masuk ke dalam.
__ADS_1
Anak buah Cosa Nostra langsung membawa Leoni ke markas dengan sedikit paksaan dan ancaman, karena wanita tua itu memberontak.