My Rich Husband

My Rich Husband
Part 35


__ADS_3

Davis menuruni anak tangga dengan hentakan kaki yang mantap, menggambarkan kekesalannya saat ini. Dengan berat hati ia harus memakai pakaian milik Diora. Sweater berwarna pink dengan bulu-bulu tebal nan halus yang sangat ketat jika dipakai pada tubuh kekar Davis, ditambah celana hangat panjang dengan motif hello kitty. Membuat Diora yang berada di belakang Davis tertawa cekikikan.


George mengalihkan pandangannya melihat arah suara dimana hentakan kaki berasal. Dirinya sangat ingin tertawa dengan tampilan sahabatnya itu. Tampilan yang tadinya seperti anggota Man in Black, kini berubah menjadi pria hello kitty. Namun ia hanya menahan tawanya dengan mengatupkan bibirnya agar suara nyaring yang dapat menjatuhkan imagenya tidak keluar.


“Berani kau menertawakanku!” sungut Davis setelah ia menghempaskan tubuhnya pada sofa yang berukuran panjang. Ia tak duduk di kursi semula, sebab sudah basah.


“Aku tidak menertawakanmu,” elak George dengan wajah dinginnya serta mengedikkan bahunya pertanda dirinya tidak melakukan apa yang dituduhkan kepadanya.


“Kau pasti sengaja kan mengerjaiku?” tuding Davis menunjuk Diora yang duduk pada sofa sama namun berjarak.


“Fitnah lebih kejam daripada tidak memfitnah,” kelakar Diora sembari menepis jari Davis yang menudingnya. Lalu ia sedikit tersenyum bahagia melihat kekesalan pria arogan itu, idenya berhasil membalas Davis agar kesal.

__ADS_1


Davis menghembuskan nafasnya kasar, ingin rasanya ia memberi pelajaran pada Diora dengan langsung menerkamnya saat ini juga. Namun ia urungkan, sebab itu bukanlah misi ketiganya.


“Sopan santunmu sebagai tuan rumah mana? Kau menelantarkan tamumu tidak kau tawari minuman,” cibir Davis dengan melipat kedua tangannya di dada.


“Maaf, mau minum apa?” tawar Diora merasa sedikit tak enak, sebab dirinya yang dibuat kesal sedari kedatangan Davis mendadak lupa dengan etikanya dalam menyambut tamu.


“Susu hangat,” jawab Davis.


“Tidak mungkin seorang wanita tak memiliki susu,” tampik Davis, pandangannya kini beralih melihat sesuatu yang menonjol di dada Diora yang tertutup baju tidur hangat dan tebal itu. “Bahkan kau selalu membawa dua kemanapun kau pergi,” lanjutnya memberikan tatapan penuh arti.


“Dasar mesum!” berang Diora menyilangkan kedua tangannya di dada. Ia paham dengan arah pandangan yang diberikan Davis. “Aku akan membuatkanmu jahe hangat,” tegasnya tak menerima permintaan lainnya.

__ADS_1


Diora kini berada di dapur, membuatkan jahe hangat dari bubuk jahe kemasan siap seduh. Ingin dirinya mengerjai lagi dengan menambahkan bubuk cabai agar minumannya lebih terasa panas lagi di bibir, namun ia tak sejahat itu.


“Silahkan diminum sebelum menjadi es jahe.” Diora meletakkan dua gelas kecil ke meja di hadapan Davis dan George.


“Kau tidak meracuniku kan?” tanya Davis penuh sindiran.


“Aku tidak sejahat itu tuan,” balas Diora lalu mengerucutkan bibirnya kesal.


“Siapa tahu kau kesal denganku atau kau ingin membunuhku agar hutangmu tidak aku tagih,” tuduh Davis menghakimi.


“Aku memang kesal denganmu tapi aku tak sejahat yang kau fikirkan,” tukas Diora, lalu memberikannya sebuah sindiran. “Jangan selalu berfikiran buruk dengan seseorang, sebab fikiran buruk yang selalu kau fikir itu, bisa saja menggambarkan bahwa dirimu memiliki sifat yang kau tudingkan terhadap orang lain.”

__ADS_1


__ADS_2