
Davis berkutat di depan komputernya, mencari semua bukti kecurangan Sanchez apapun itu.
Tak butuh waktu lama, Davis memiliki bakat seorang hacker handal yang terpendam. Ia meretas komputer milik Sanchez. Ia mendapatkan bukti bahwa pria itu memanipulasi laporan keuangan perusahaan demi menghindari pajak yang besar. Melakukan mal praktik di rumah sakit yang dikelola oleh perusahaan Sanchez, dan lebih parahnya lagi adalah pria itu merupakan seorang bandar narkoba.
“Nikmati buah dari kesombonganmu.” Seringai mengerikan terbit di bibir Davis.
Tak perlu banyak bicara, ia langsung menyebarkan berita itu.
“Saatnya menampar semua orang yang pernah memandangku sebelah mata.”
Ia langsung mengeluarkan ponselnya menghubungi George.
“Siapkan konferensi pers besok, aku akan mengungkap jati diriku sesungguhnya,” titahnya.
“Kau yakin?”
“Tentu saja, bukankah kita sudah menemukan pembunuh keluargaku? Alasan mereka bukanlah karena bisnis atau keserakahan, jadi untuk apa aku menutupi jati diriku lagi.”
“Baiklah.”
...........
Danzel, pria malang itu mengurung Eliana di dalam gudang selama satu minggu. Mendesak wanita itu untuk berkata jujur. Namun, Eliana memilih bungkam tak mengatakan apapun.
__ADS_1
Kondisi Eliana terikat di kursi, Danzel tak ingin wanita itu kabur jika tak diikat. Tak ada siksaan yang diberikan, pria itu masih memiliki belas kasihan.
Danzel duduk di kursi kayu, menyilangkan kakinya dan memasang wajah penuh emosinya. Tak ada lagi Danzel yang lembut penuh tatapan teduh seperti saat bersama Diora.
“Katakan! Siapa yang menyuruhmu?” Pertanyaan yang sudah kesekian kali diucapkan Danzel.
“Sudah ku katakan! Kau yang memaksaku untuk tidur bersamamu.” Jawaban selalu sama, tak pernah berubah.
Danzel sungguh kesal, pria itu bahkan mengepalkan tangannya menahan amarah agar tak berbuat kasar dengan Eliana.
“Kau, ingin berkata jujur atau aku akan mencari tau kebenarannya sendiri?” tawar Danzel.
“Sudah ku katakan, aku berkata jujur! Maka lepaskan aku dan nikahi aku!”
“Cih ... mana sudi aku menikahimu!”
“Tawaran terakhirku, kau ingin berkata jujur maka aku akan memaafkan dan melepaskanmu atau aku cari tau sendiri dan ku pastikan kau membusuk di penjara.”
“Sudah ku katakan aku berkata jujur!” Eliana masih tak mau mengatakan yang sesungguhnya. Ia yakin pasti orang yang membayarnya untuk melakukan itu akan melindunginya.
“Oke, itu keputusanmu.” Danzel membukakan pintu untuk seseorang.
Masuklah dua orang wanita dengan jas berwarna putihnya.
__ADS_1
“Periksa dia, apakah ada benihku yang bersarang di rahimnya atau tidak,” titah Danzel pada dokter kandungan dan perawat itu.
“Baik tuan.” Segera mereka merebahkan Eliana di ranjang yang sangat sempit pada gudang itu.
Danzel tak memperdulikan raungan Eliana yang memintanya untuk menghentikan dokter dan untuk percaya padanya. Ia melenggang keluar gudang, tak ingin melihat sesuatu yang tak ingin ia lihat.
“Apakah aku terlambat melakukan ini?” desah Danzel, menyandarkan tubuhnya pada tembok.
Selama ini ia mencari cara untuk membuktikan bahwa dirinya tak bersalah, hingga akhirnya ia berkonsultasi dengan dokter kandungan apakah bisa melihat dan mengidentifikasi cairan yang sangat penting itu. Ia hanya berharap, Diora mau kembali dengannya lagi jika terbukti tak bersalah.
Sedangkan di dalam gudang itu, Eliana memberontak tak mau dirinya diperiksa.
“Beraninya kalian melakukan itu pada calon istri Danzel Pattinson!” raungnya.
Dokter dan perawat itu hanya tersenyum tak menanggapi. Dalam pikiran mereka, wanita itu sepertinya sudah gila. Mana mungkin calon istri tuan Danzel Pattinson di sekap oleh tuan Danzel sendiri.
Karena Eliana terus memberontak dan menyulitkan. Terpaksa Dokter itu menyuntikkan obat penenang agar tertidur.
Tak berselang lama, pintu gudang terbuka dari dalam.
“Bagaimana?” Danzel nampak sudah tak sabar mendengar hasilnya.
“Tidak ada cairan itu di dalam rahimnya tuan,” jelas sang Dokter.
__ADS_1
Bersorak gembira di dalam hati Danzel. Akhirnya ia terbukti tak bersalah.
“Buatkan aku laporannya sebagai bukti,” pinta Danzel seraya memberikan amplop berisi uang.