
Satu minggu kemudian, selama kurun waktu itu Diora sungguh tak memberikan jatah kepada suaminya meskipun Davis sudah merengek bahkan memancing istrinya seperti biasa dengan bermain tangan dibagian sensitif. Namun wanita itu sungguh berpendirian teguh ingin menghukum suaminya hingga ia harus melawan hasratnya sendiri.
Setelah hukuman itu berakhir, pagi hari sekali Davis langsung mengajak Diora bertempur kembali.
Minggu dipagi hari, seharusnya digunakan untuk bertamasya keliling kota, jalan-jalan bersama keluarga, teman, ataupun pasangan. Namun tidak dengan Diora dan Davis, mereka terlihat sedang berseteru di ruang tengah.
“Aku ingin bertemu mamaku!” rengek Diora untuk kesekian kalinya dalam satu minggu. Setiap hari ia selalu meminta hal itu terus pada Davis. Namun suaminya selalu saja beralasan.
“Iya, nanti jika aku tak sibuk,” kilah Davis selalu sama.
“Ini kan hari minggu, kau pasti tak akan sibuk karena libur.” Skak! Davis diam tak berkutik.
Melihat suaminya yang diam saja, Diora berspekulasi bahwa Davis tak mau mengantarkan dirinya karena takut dengan papa Gabby. Mengingat kejadian saat pernikahannya dulu, dimana Davis dan George terlihat begitu tegang melihat Lord.
__ADS_1
“Ck! Kalau kau tak mau mengantarkan aku, biar aku pergi bersama Gabby ke rumah papanya.” Diora sudah tak sabar lagi, baru bertemu mamanya sebentar sudah dipisahkan lagi.
Diora sudah bersiap dengan ponselnya hendak menelfon sahabatnya. Namun, benda pipih itu langsung disambar oleh Davis.
“Jangan bermain ponsel jika sedang berdua, nikmati waktu kita bersama.” Ponsel dalam genggaman Davis hancur setelah sengaja dibanting dengan keras. Belum ada kabar lagi dari Lord tentang kondisi Natalie yang tiba-tiba saja drop. Ia tak ingin Diora menemui mamanya dalam kondisi tak baik.
“Ponselku ...,” raung Diora segera memungut kembali alat komunikasinya. “Kau, harus menggantinya!” Menatap tajam dengan bibir cemberut.
“Akan ku ganti sepuluh jika kau mau,” sombong Davis.
“Aku mau sekarang!” pinta Diora harus dituruti.
“Besok saja, hari ini mall tutup ada unjuk rasa.” Alasan Davis seperti membohongi anak kecil saja.
__ADS_1
Diora hendak protes, mana ada mall tutup dan hari ini tak ada berita masyarakat berunjuk rasa. Namun diurungkan ketika bel berbunyi. Ia hendak membuka pintu, tapi dicegah oleh suaminya.
“Biar aku yang membuka, kau, gantilah bajumu dengan yang tertutup,” titah Davis. Istrinya kini hanya menggunakan kaos putih polos dan sehelai kain pembungkus bagian bawahnya saja. Bahkan tak menggunakan dua batok yang menutup bagian atas. Tentu saja Davis tak ingin ada orang lain yang melihat istrinya seperti itu.
“Hm ....” Segera bergegas ke atas Diora untuk mengganti pakaiannya.
Davis langsung membukakan pintu untuk tamu tak diundangnya, sebelumnya ia mengecek pada layar yang terhubung dengan kamera di pintu luarnya terlebih dahulu, untuk melihat siapa gerangan yang datang.
Segera mengajak dua tamu yang datang untuk duduk di sofa yang sangat nyaman.
“My Love, siapa yang datang?” Suara lembut Diora dari tangga membuat tiga orang memutar kepala mereka ke arahnya.
Diora langsung berlari setelah melihat siapa yang datang.
__ADS_1