My Rich Husband

My Rich Husband
Part 106


__ADS_3

Diora segera membuka ponselnya untuk membaca isi pesan dari mantan kekasihnya. Seluruh pesan hanya berisikan permintaan Danzel agar Diora mau bertemu dengannya.


“Aku balas tidak ya?” Diora nampak bingung apa yang harus ia lakukan.


Wanita itu takut jika bertemu dengan mantan kekasihnya akan membahayakan nyawa Danzel, sebab ia sudah menandatangani kontrak perjanjian dengan suaminya dimana salah satunya tak mengijinkannya mencintai ataupun dekat dengan pria lain. Jika ketahuan maka suaminya tak segan-segan akan membunuh pria itu. Diora sangat tahu jika setiap ucapan Davis tidak pernah main-main. Namun, dilain sisi ia sangat penasaran dengan apa yang akan disampaikan oleh mantan kekasihnya itu.


“Maaf, aku tidak bisa, suamiku tak mengijinkanku.” Balasan pesan yang dikirimkan oleh Diora pada Danzel. Lalu ia mematikan ponselnya agar tak dapat dihubungi lagi. Hanya itu yang dapat ia sampaikan, nyawa lebih penting daripada rasa keingintahuannya.


Diora menghela nafasnya dalam-dalam. Kenapa disaat ia sudah mulai bisa menata hidupnya dengan suaminya, orang dimasa lalu harus muncul kembali. Tak bisakah ia tetap hidup bahagia tanpa bayang-bayang masa lalu lagi. Bahkan sejak pertama kali bertemu dengan Davis pun ia mulai bisa melupakan Danzel dengan sendirinya karena tertutup oleh tingkah laku Davis yang selalu membuatnya kesal, dulu. Sekarang, hanya perlakuan manis yang selalu membuat dirinya bahagia dan mau menerima suaminya.


...........


Davis masuk ke dalam mobil George. Sepasang sahabat itu pun langsung melaju ke jalan raya.


“Kenapa kau memintaku menjemputmu sepagi ini? Apa perbuatan licikmu ketahuan dan kau diusir oleh istrimu?” kelakar George dengan tebakan asalnya.


“Kau, jangan menyumpahiku agar Diora tau itu,” kesal Davis.

__ADS_1


“Aku tidak menyumpahimu, aku hanya menebak,” elak George.


“Banyak alasan saja kau,” timpal Davis.


“Lalu, kenapa kau memintaku datang sepagi ini?” George mengulangi pertanyaan yang sama.


“Siapa yang memintamu, aku tidak memintamu datang sepagi ini,” jawab Davis.


“Heh Mang Suep (George mendapatkan nama itu dari abang-abang es degan ketika di Bali) jika bukan kau terus siapa? Hantu? Jelas-jelas kau yang menelfonku tadi pagi,” cibir George.


“Memang aku yang menelfonmu, tapi bukan aku yang memintamu keluar sepagi ini.”


“Lord.”


“Lord?” George mengerutkan keningnya. “Kenapa dia memintaku bertemu dengannya?”


Pikiran George sudah melayang kemana-mana, apakah dia akan kena hantaman seperti Davis saat itu karena ketahuan sudah membawa paksa Gabby anaknya. Pria itu sudah menyiapkan mentalnya jika memang harus berhadapan dengan bos mafia itu.

__ADS_1


Davis mengedikkan bahunya. “Mana ku tau, kau tanya sendiri padanya.”


“Jadi, ini kita ke kartel Lord?” tanya George.


“Bukan, kita ke laut! Tentu saja ke kartel Lord, kau ini bagaimana!” geram Davis, tak biasanya sahabatnya itu bodoh dalam berfikir.


Tiga puluh menit pas perjalanan mereka. Sampai juga di tempat tujuan. Dua pria tampan itu langsung turun begitu gagahnya.


Para penjaga kartel menundukkan kepalanya memberi hormat.


“Sudah ditunggu Lord di dalam,” terang salah satu penjaga, langsung mengantarkan tamu bosnya.


Keduanya langsung masuk ke dalam ruangan dan duduk di sofa.


“Siapa dia? Apa asisten barumu?” tanya Davis pada Lord ketika melihat ada seorang pria bertubuh tegap dengan setia di samping bos mafia itu.


“Perkenalkan dirimu,” pinta Lord pada pria itu.

__ADS_1


Pria itu segera mememberi hormat dengan meletakkan tangan kanannya di dada kirinya seraya menundukkan kepalanya. “Saya Gio, mantan asisten tuan Dawson yang kini bekerja dengan tuan Lord.”


__ADS_2