My Rich Husband

My Rich Husband
Part 155


__ADS_3

“Aku seperti sedang mengumpulkan keluarga besar,” cicit Lord yang hatinya terasa berbunga melihat kebahagian tiga wanita yang ia sayangi itu.


Lord, Davis, dan George memutuskan untuk duduk bersama di sofa dan memandangi masing-masing wanitanya yang asik mengobrol.


Sofa itu lumayan jauh jaraknya, sehingga apa yang diperbincangkan tiga pria itu tak akan terdengar. Kecuali mereka berteriak.


“Aku bukan anggota keluargamu,” timpal George meluruskan.


“Maka, segeralah ajak Gabby menikah, agar kau menjadi anggota keluarga kami,” saran Davis.


“Kau fikir menikahi wanita itu semudah kau menikahi istrimu,” kesal George.


“Dia kan sama-sama wanita,” balas Davis.


“Masalahnya, wanita satu ini berbeda, pendiriannya begitu kuat, terlebih aku sudah pernah membuatnya sakit hati dan kecewa.” George menghembuskan nafasnya kasar.


Mendengar penuturan George barusan, Lord menjadi naik darah. Ia tak suka ada pria yang menyakiti hati anaknya, apa lagi sampai tahap kecewa. Berarti itu sudah sangat fatal.


“Bedebah! Kau apakan anakku?” Lord sedikit meninggi suaranya hingga membuat tiga wanita itu menatap ke arahnya.

__ADS_1


“Ssttt ....” Tiga wanita itu kompak memberikan isyarat untuk diam. Tak lupa mata melotot pun mereka perlihatkan. Apa lagi ibu hamil itu yang matanya sudah membulat sempurna ke arah suaminya.


Langsung diam, tak ada yang berani buka suara lagi.


“Lebih baik kita keluar saja,” bisik Davis memberikan saran agar mereka bisa leluasa untuk berbincang.


“Ide bagus.”


Tiga pria itu pun berdiri bersamaan. Belum sempat mereka berpamitan, si ibu hamil sudah membuka suaranya.


“Mau kemana kalian?” tanya Diora dengan nada meninggi.


“Mengobrol, di luar, agar tak mengganggu kalian,” jelas Davis hati-hati sekali dalam berbicara agar tak diamuk.


“Ini mau pergi.” Davis segera melangkahkan kakinya karena merasa diusir dan tak diharapkan kehadirannya oleh sang istri.


Mendengus sebal ibu hamil itu, seharusnya suaminya tetap di dalam dan terus mencoba merayu dirinya agar tak merajuk, bukannya sungguh keluar. Wanita itu bertekad akan menaikkan level perangnya dari siaga menjadi waspada.


Lord, Davis, dan George memutuskan untuk berbincang di cafe yang berada di dekat rumah sakit.

__ADS_1


Hembusan angin segar menerpa wajah tampan di tempat duduk yang paling pojok. Aura mereka begitu terpancar hingga membuat kaum wanita menatap minat ke arah mereka.


“Cih inginku congkel mata mereka satu-satu yang berani menatap seperti itu.” Davis yang masih kesal karena didiamkan oleh istrinya menjadi ikut mudah marah-marah.


“Coba saja kalau kau berani,” tantang George.


“Apa kalian ini gila? Mereka tak bersalah, untuk apa menghukum seperti itu,” potong Lord.


“Lihat saja mata mereka itu, melihat ke meja kita semua.” Davis menunjuk para pengunjung dengan dagunya.


“Aku sudah tahu, kalian itu jangan percaya diri, mereka tak memandang kalian, tapi mengagumiku yang sudah berumur tapi masih tetap tampan dan menawan,” kelakar Lord dengan menaikkan sedikit alisnya.


“Dasar pak tua narsis.” Davis dan George melempar kentang goreng yang mereka pesan ke wajah Lord.


Hap!


Kentang goreng masuk ke dalam mulut Lord.


“Jika ingin menyuapiku jangan menggunakan cara yang ekstrim,” seloroh Lord seraya mulutnya terus mengunyah.

__ADS_1


Davis dan George memutar bola matanya malas.


Mereka bertiga pun mengobrol satu sama lain. Tak lupa, Lord menginterogasi George mengapa bisa pria dingin itu membuat anaknya sampai tahap kecewa. Setelah diceritakan oleh George, Lord paham dan tak jadi marah dengan pria dingin itu.


__ADS_2