
Diora langsung masuk ke dalam ruang rawat suaminya setelah Gabby pun pamit untuk pergi. Bersamaan dengan perawat membawakan makanan dan obat.
“Biarkan aku saja yang membawanya,” pinta Diora pada perawat.
“Silahkan nona.” Perawat itu memberikan nampan berisi penuh makanan bergizi. Ia lalu memberi hormat dan kembali melakukan pekerjaan lainnya.
“Makan dulu, kau pasti sangat lapar.” Diora dengan telaten menyuapi suaminya setelah ia duduk dan menempatkan dirinya pada kursi samping brankar dan meletakkan nampan di meja geser.
Davis pun menurut saja dengan istrinya. “Kau, makanlah juga,” pintanya.
“Aku sudah makan dengan Gabby, saat kau mengobrol bersama asistenmu yang dingin itu,” kesal Diora mengingat betapa ketusnya jawaban George kita ia bertanya baik-baik tadi.
“Kenapa kau kesal?” tanya Davis seraya mencubit bibir istrinya yang memanyun begitu gemas ia melihatnya.
“Siapa yang tak kesal jika ditanya baik-baik jawabannya begitu ketus,” lapor Diora, lalu menceritakan apa yang ia alami tadi. Termasuk harapannya agar sahabatnya tak berjodoh dengan George.
“Jika suatu saat mereka saling mencintai bagaimana?” Davis mencoba bertanya kemungkinan terbaik hubungan antara George dan Gabby.
“Mana mungkin! Gabby tak pernah mau mencintai seorang pria setelah ia kecewa dengan seseorang, ia begitu anti dengan cinta dan pria,” sembur Diora menampik pertanyaan suaminya yang baginya sangat kecil kemungkinan akan terjadi.
__ADS_1
“Memangnya dia pernah menyukai seorang pria?” Davis mencoba mengorek informasi, siapa tahu jika ia bisa membantu George untuk mendapatkan Gabby. Mengingat dirinya pun dibantu oleh George untuk mendapatkan Diora.
“Pernah, tapi aku tak tau siapa orangnya, dia hanya berkata itu adalah cinta keduanya setelah papanya, ia bahkan menunggu pria itu hingga menutup dirinya rapat-rapat agar tak satu orang pun berani mendekatinya, namun kenyataan pahit didapatkannya saat dia melihat pria yang ditunggunya selama bertahun-tahun ternyata memiliki kekasih dan dia juga melihat pria itu membeli sebuah cincin untuk melamar seorang wanita.” Diora menceritakan semua yang ia ketahui tanpa menutupinya sedikitpun. “Aku hanya tau itu saja mengapa Gabby begitu membenci cinta dan pria.”
“Kau tau siapa nama pria itu?” Tak gentar Davis untuk mengulik target sasaran sahabatnya itu.
“Tidak, Gabby tak pernah menceritakan namanya karena saat dia bertemu dengan pria itu, lupa bertanya namanya, ia hanya mengingat wajahnya saja,” imbuh Diora. “Sudah, kenapa kita membahas sahabatku, lebih baik kau segera habiskan makanannya.” Ia melanjutkan menyuapi suaminya.
“Makanan rumah sakit tak enak, enakan memakanmu,” selorohnya ketika makanannya sudah habis seraya memberikan kerlingan genitnya, Diora yang tak polos lagi pun mengerti maksud dari ucapannya.
Diora mencubit gemas lengan kekar suaminya. “Kau itu sedang sakit.”
“Kau fikir enak bermain di atas? Capek tau, enakan di bawah tak perlu susah payah bekerja.” Wanita itu mengerucutkan bibirnya. Tubuhnya saja hingga kini terasa lelah, suaminya sungguh tahan lama sekali tak memuntahkan laharnya hingga lututnya sangat pegal karena ia jadikan sebagai tumpuan. “Bagaimana bisa kau kuat bermain di atas hingga berjam-jam?” tanyanya.
Davis terkekeh dengan pertanyaan istrinya. “Karena rasa nikmat menutupi segalanya.”
“Ada benarnya juga,” ucap Diora polos. “Tapi hanya ketika bermain saja terasa nikmat, setelah itu rasanya sangat pegal sekali,” imbuhnya sembari memukul pelan lututnya dengan kepalan tangannya.
“Sakit ya?” Diora mengangguk. “Sini.” Pria itu menepuk bagian kosong di sampingnya memberikan pertanda agar istrinya duduk di bagian itu.
__ADS_1
Davis langsung mengambil nampan yang sudah kosong, lalu meletakkannya di atas nakas.
Diora pun duduk di samping Davis, kakinya ia selonjorkan.
“Bagian mana yang pegal?” tanya Davis dengan lembut.
“Lututku.” Diora memegang bagian kakinya itu dengan sedikit memijitnya.
“Biar aku pijat.” Davis memijat kaki istrinya.
“Ternyata kau jago juga memijit.” Memberikan dua jempol untuk suaminya, tangan kekar itu begitu lihai merawat istrinya.
“Bahkan aku lihai memijat itu.” Tunjuk Davis pada bagian yang menonjol. “Mau mencoba?”
“Dasar mesum!” Mulutnya lagi-lagi berhianat dengan hati dan pikirannya. Buktinya, tangannya dengan sendirinya membuka kaos yang ia kenakan. “Tanganmu begitu nakal!” Mengumpati tangan suaminya yang sudah membuatnya basah lagi hingga dirinya dengan suka rela meloloskan pakaiannya.
Tersenyum puas Davis, lagi-lagi pria itu menggagahi istrinya. Kali ini dia yang bermain di atas, tak tega dengan Diora yang masih terasa pegal.
Rasa sakit Davis langsung sirna sudah tak ia rasakan, hanya kenikmatan dan kenikmatan yang begitu menggelora hingga mereka bermain selama satu jam setengah pada ronde kedua setelah ronde pertama dikacaukan oleh dua manusia yang tak diharapkan kedatangannya.
__ADS_1
“Minggu depan, peresmian perusahaan arsitekturmu,” ujar Davis setelah usai melakukan adegan panas mereka.