My Rich Husband

My Rich Husband
Part 76


__ADS_3

Diora menggelengkan kepalanya dan menahan taplak serta sapu tangan yang ia gunakan tak sesuai fungsi semestinya.


Wanita itu terus memohon agar petugas villa tak mengambil benda yang akan menyelamatkannya dari ketakutan akan paparan sinar matahari.


Namun, pria berbaju khas bli bali itu tetap tak gentar untuk mengambil kembali kain bermotif kotak-kotak hitam putih yang bertengger di kepala bule cantik yang ia nilai aneh.


“Berikan saja! aku akan membelikanmu yang baru,” titah Davis mulai jengah, ia tak mungkin mengeluarkan pistolnya dan mengancam petugas villa itu. Bisa-bisa ia di deportasi saat ini juga jika memberikan ancaman kepada warna negara Indonesia.


“Tidak ... ku mohon bujuk pria itu agar tak mengambil kain ini,” pinta Diora memohon dengan sungguh-sungguh sembari menggelengkan kepalanya. Meskipun wajahnya tertutup dan tak terlihat ekspresi apa yang ditunjukkan olehnya, namun dari nada bicaranya terlihat jelas jika wanita itu sedang ketakutan.


“Kembalikan! Benda itu bukan milikmu dan bukan hakmu! Kau tak berhak atas benda itu! Sama saja kau mencurinya!” tegas Davis dengan tatapan tajam menghunus istrinya.


Davis mulai mengambil paksa taplak dan sapu tangan itu. Lalu mengembalikannya kepada pegawai villa.

__ADS_1


“Lain kali, jika bukan milikmu jangan kau sembarangan ambil!” nasihat Davis dengan nada sedikit membentak.


Wajah Diora kini sudah mulai memutih, kulitnya yang memang seperti susu seolah tak memiliki pigmen warna itu membuat Davis tak melihat perbedaan raut istrinya.


Davis seolah biasa saja, ia mulai memejamkan matanya, menutupi dengan kacamata hitam, serta tiduran di atas pasir putih.


Sedangkan Diora, kini nafasnya mulai tersengal. Seolah oksigen yang banyak berputar di sekitarnya tak dapat masuk di paru-parunya dengan mudah.


Satu detik kemudian, tubuh Diora mulai lemas. Ia ambruk tak sadarkan diri. Kepalanya tepat mendarat sempurna pada bagian tubuh suaminya yang seperti belalai gajah.


“Hei ... jika kau ingin melakukan itu jangan disini!” sentak Davis yang kini merasakan panas dingin di tubuhnya akibat kejantanannya ditindih oleh kepala istrinya.


Diora tetap tak bergeming, ia tetap memejamkan matanya dan tak terganggu dengan sentakan suaminya.

__ADS_1


“Kau tidur?” Davis menggoyang-goyangkan tubuh Diora, lalu membalikkan tubuh istrinya itu karena tak ada respon apapun.


Pria itu kini baru menyadari jika bibir Diora yang tadinya berwarna merah muda, sudah berubah menjadi putih pucat.


Davis langsung memegang denyut nadi di tangan dan leher. “Denyut nadinya melemah,” gumamnya.


Tanpa banyak bicara, pria bertubuh kekar yang selalu menggendong paksa Diora itu langsung mengangkat tubuh enteng istrinya.


Davis berlari dengan sangat kencang melewati wisatawan lain yang menatapnya seolah ingin mencari tahu apa yang terjadi dengannya hingga terburu-buru seperti itu.


“Panggilkan dokter yang paling kompeten sekarang juga!” titahnya ketika ia berpapasan dengan pegawai villa. “Jika dalam waktu satu menit tak ada dokter yang datang, aku kan meratakan villa ini!” ancamnya dengan sorot mata tajam.


Davis merebahkan tubuh istrinya dengan sangat hati-hati. Ia memegang erat tangan dengan jari-jari lentik itu. Mengusap lembut wajah Diora, seolah ia tak ingin terjadi hal yang buruk dengan wanita cantik yang ia paksa untuk menikah dengannya.

__ADS_1


__ADS_2