
Gwen baru saja selesai mandi, ia hendak turun untuk menonton televisi. Matanya menangkap gerak gerik mamanya yang begitu tergesa-gesa keluar dari kamar.
“Mama mau kemana?” tanya Gwen pada Leoni yang hendak keluar rumah dengan menggunakan pakaian serba hitam.
“Melenyapkan batu yang menghalangimu untukmu kembali dengan Davis,” jawab Leoni.
“Sudah aku katakan berapa kali, ma, aku tak ingin kembali dengan Davis, aku sudah nyaman hidup sendiri mengurus Selena,” terang Gwen.
“Mama tak mau tahu, kau tetap harus kembali dengan Davis, kau bisa hidup enak tak harus bekerja banting tulang.” Leoni tak ingin dibantah, ia yang sudah dibutakan oleh harta tak memperdulikan penolakan dari anaknya, sekalipun Gwen tak ingin kembali dengan Davis, ia tetap akan mencari cara hingga Gwen dan Davis bersatu lagi. “Mama pergi, kau jaga rumah,” pamitnya langsung menuju garasi.
Gwen merasa mamanya akan melakukan suatu kejahatan, ia tak ingin orang tuanya itu berbuat sesuatu yang membahayakan orang lain.
“Aku harus mengikutinya,” gumam Gwen. Ia pun langsung menuju mobilnya dan mengejar mamanya yang sudah melaju jauh.
Mobil Leoni berhenti tepat di dekat Helsinki University.
Gwen pun ikut berhenti di seberang gerbang universitas itu dan mengamati mamanya.
__ADS_1
“Kenapa mama berhenti disini?” gumam Gwen.
Tak berselang lama, Leoni pun terlihat menghidupkan kembali mobilnya. Saat itu juga terlihat Diora berlari keluar gerbang universitas itu.
“Diora!” Gwen langsung keluar dari mobilnya.
Mobil Leoni mulai melaju sangat kencang dan mengarah ke Diora.
“Diora awas ...!” teriak Gwen sembari berlari menuju Diora yang berlari di pinggir jalan.
“Diora ...!” teriak Davis sama terkejutnya ketika mobil itu melaju kencang ke arah istrinya.
Gwen berhasil mendorong Diora, beruntung Davis langsung menangkap tubuh istrinya yang sudah tak sadarkan diri akibat shock dan pingsan.
“Gwen ...!” Leoni langsung memberhentikan mobilnya ketika ia melihat dari spion ternyata yang ia tabrak bukanlah Diora, namun putrinya. Ia turun langsung menuju anaknya yang sudah tergeletak di jalan dengan darah yang mengucur begitu derasnya.
Leoni langsung bersimpuh dan mengangkat kepala Gwen sembari terisak. “Gwen ... bangun nak bangun ... kenapa kau mengorbankan dirimu hanya untuk perempuan yang merebut kekasihmu darimu!”
__ADS_1
“Kau sengaja ingin membunuh istriku!” raung Davis yang mendengar dengan jelas penuturan Leoni. Ia hendak mengeluarkan pistolnya namun diurungkan. Sebab dirinya ingat jika peluru di pistolnya hanya tersisa satu dan sudah ia gunakan untuk menembak tangan Eliana.
Davis melihat wanita yang bersimpah darah. Matanya membelalak ketika mantan kekasihnya yang menyelamatkan istrinya.
“Angkat dia, bawa ke mobil!” titah Davis pada orang yang berkerumun.
Davis bangkit dengan menggendong Diora. Ia langsung menuju mobil Leoni karena paling dekat dengan lokasinya. Tubuh istrinya ia dudukkan pada kursi bagian depan.
“Cepat!” Davis segera membukakan pintu bagian belakang, Leoni masuk terlebih dahulu dan disusul oleh Gwen yang direbahkan pada paha Leoni.
Davis langsung masuk dan duduk di kursi kemudi. Ia langsung menancap gas tanpa harus meminta kunci terlebih dahulu pada Leoni, sebab ketika Leoni turun tak mematikan mobilnya.
“Kau, harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu!” geram Davis mencengkram erat stir.
Davis memberhentikan mobil tepat di depan pintu UGD setelah sampai di rumah sakit yang paling terdekat dengan Helsinki University.
Perawat yang berjaga langsung sigap membawa brankar menuju mobil, mengangkat Gwen, dan langsung membawa masuk untuk segera diberi penanganan.
__ADS_1
Davis pun mengangkat tubuh istrinya, membawanya masuk ke UGD. Ia tak memperbolehkan siapapun mengangkat Diora.
“Tolong periksa dia juga! Pastikan dia baik-baik saja!” titah Davis.