My Rich Husband

My Rich Husband
Part 116


__ADS_3

Masa bodo dengan harga diri dan urat malu, lagi pula Diora menawarkan hal itu kepada suaminya sendiri.


“Kau yang memimpin, tanganku masih diinfus.” Davis menggoyangkan tangan kirinya.


“Ta-tapi aku belom pernah di atas, selama ini kan kau yang selalu melakukannya.” Wanita itu menggigit bibir bawahnya malu.


Sial! Wajah istrinya begitu menggoda jika seperti itu, Davis tak kuasa menahannya. “Kau, sudah membangunkan anaconda yang tertidur.” Ia menunjuk sesuatu yang menonjol di bawah sana. Diora pun ikut melihat ke arah itu. “Tanggung jawab!”


Langsung melahap bibir yang sudah melambai-lambai untuk segera dilahap itu. Diora pun membalasnya tak kalah bergairah.


Tangan Davis mulai mendaki, memelintir sesuatu di balik kaos putih itu, meremasnya seperti squishy. Puas bermain dibagian itu, jarinya mulai masuk ke bagian bawah istrinya, mengusap lembut bagian sensitif disana.


Oh shit! Tubuh Diora langsung menggelinjang terbuai permainan tangan suaminya, kenikmatan yang tiada tara melambungkannya hingga ke nirwana. Ia begitu menikmati sentuhan yang begitu lembut itu, bahkan ia sudah begitu basah. Wanita itu sudah membuka lebar kakinya, siap untuk mendapatkan prosesi selanjutnya.


Namun, Davis langsung menarik tangannya dan melepaskan pagutannya. Membuat Diora mendesah kecewa.


“Kenapa menyudahinya?” kesal wanita itu. Lagi-lagi ia ditinggal ketika sedang enak-enaknya.


“Aku sedang sakit, bagaimana bisa aku melakukannya, kecuali kau mau memimpin.” Seringai penuh pesona membuat Diora tanpa pikir panjang langsung menindihnya.


Wanita itu sudah sangat menginginkannya, ia melucuti helaian kain yang membungkus keduanya. Polos sudah kini mereka.


Davis tersenyum penuh kemenangan, akhirnya istrinya yang polos sudah tak polos lagi. Buktinya, kini Diora sedang mencoba memasukkan anacondanya ke dalam gua.

__ADS_1


“Sulit,” gerutunya yang tak bisa memasukkan benda tumpul itu.


“Naikkan pinggulmu.” Diora menurutinya, Davis langsung memasukkan.


Jlep!


Uh ... terasa nikmat dirasa keduanya atas penyatuan itu.


“Bagaimana caranya?” Wanita itu tak tahu harus berbuat apa, ini adalah kali pertamanya melakukan gaya woman on top.


“Goyangkan seperti saat aku melakukannya.”


Mulai menggoyangkan pinggulnya dengan ritme pelan, Davis memejamkan mata begitu menikmatinya.


Tangan kekar itu berpegangan pada benda kenyal yang terombang ambing ketika sang pemilik menaik turunkan pinggulnya.


Ritme permainan semakin dipercepat, decitan bunyi brankar yang bergoyang hebat pun terdengar menggema di ruangan mewah itu.


“Uh ... ah ... kau hebat baby.”


Klek!


Bunyi pintu dibuka dari luar, membuat sepasang manusia yang sedang memadu kasih itu memandang ke arah sumber suara.

__ADS_1


“Oops ... maaf, aku tidak tau, silahkan lanjutkan dulu.”


Ternyata Gabby dan George yang datang menggangu prosesi pencetakan bayi. Mereka langsung menutup kembali pintunya.


“Kau tak menguncinya?” Davis menahan pinggul istrinya yang akan melepaskan penyatuannya. Enak saja mau menyudahi permainnya disaat sedang nikmat-nikmatnya.


“Aku lupa, ku fikir tak akan ada yang datang.” Diora menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


“Lanjutkan, biarkan mereka menunggu.”


Mereka pun melanjutkan aktifitas olahraga yang menguras peluh meskipun ruangan sudah sangat dingin.


Satu jam permainan berakhir. Diora dan Davis langsung memakai kembali pakaian mereka.


“Maaf membuat kalian menunggu.” Wanita cantik itu berucap diambang pintu.


“Lain kali jangan lupa menguncinya, untung saja tak ada orang yang diam-diam memvidoe kalian dan menjual ke situs web dewasa,” decak Gabby seraya bangkit dari duduknya.


“Aku lupa.” Diora menampilkan senyum canggungnya. “Ada apa kalian pagi-pagi sekali kemari?”


“Aku membawakanmu makanan, ku fikir kau akan lupa makan karena terlalu sedih, ternyata kau sudah memakan suamimu.” Gabby memperlihatkan kantong berisi makanan cepat saji yang ia beli tadi. “Tapi tak tau dengannya, kau tanya sendiri saja padanya,” imbuhnya menunjuk pria dingin di sampingnya dengan dagunya.


Diora hendak mempersilahkan masuk, namun ia urungkan ketika George sudah membuka suaranya.

__ADS_1


“Bisa kalian tinggalkan aku berdua dengannya?” pinta George menunjuk Davis yang sedang menatap ke arah mereka. “Ada urusan penting yang ingin kita bahas,” imbuhnya dengan nada dan ekspresi datar.


“Silahkan.” Diora pun akhirnya menunggu diluar bersama sahabatnya. Pasti urusan pekerjaan fikirnya, apa lagi urusan penting sepasang lelaki itu jika bukan pekerjaan.


__ADS_2