My Rich Husband

My Rich Husband
Part 103


__ADS_3

Cassandra dan Celine begitu murka tak menemukan Natalie di dalam ruang isolasi bawah tanah itu.


“Arghhhh ... bagaimana dia bisa keluar dari sini?” raung Cassandra, menendang kursi besi begitu kuat karena begitu emosi hingga kursi terpental. “Aww ... sakit!” rintihnya seraya memegang kakinya.


“Hahaha ... lanjutkan ma ... tendang lagi dengan kuat, lebih kuat lagi!” Celine begitu gembira mendengar rintihan itu yang sudah dua hari tak ia dengar.


“Apa katamu! Kurang ajar kau ya!” berang Cassandra, membenturkan kepala anaknya sendiri ke tembok dengan keras hingga darah pun keluar dari pelipis Celine.


“A-ampun ma ... ampun,” mohon Celine mengatupkan kedua tangannya dengan derai air mata kesakitannya.


Cassandra memejamkan matanya, menikmati suara tangis anaknya yang begitu merdu di gendeng telinganya. Senyum yang begitu mengerikan terbit di wajah yang tak seberapa cantik itu. Wajah penuh kepalsuan yang sudah dioperasi plastik hingga puluhan kali itu.


“Ahh ... suaramu begitu merdu, sayang.” Membelai wajah Celine dengan tatapan mata yang begitu membunuh, mengusap darah di pelipis anaknya lalu menjilatnya.


“Sadar ma ... aku anakmu!” Celine menampar dengan keras wajah Cassandra.


Sedetik kemudian wanita itu mulai tersadar. “Kau, kenapa? Kenapa kau berdarah?” Cassandra begitu panik.

__ADS_1


“Lupakan, kita harus mencari jalang itu,” ujar Celine, menepis tangan mamanya. Ia bisa mati di tempat jika tak mengalihkan perhatian wanita tua dengan gangguan jiwa itu. Segera berdiri untuk menelusuri sudut demi sudut ruangan.


“Coba kau cari di seluruh tempat ini!” titah Cassandra. “Wanita itu tak mungkin keluar dari area bawah tanah ini,” imbuhnya.


Area itu sangat sulit ditemukan, karena pintunya yang begitu tersembunyi dan akses kunci menggunakan sidik jari. Hanya orang tertentu yang dapat memasukinya.


Sudut demi sudut terus mereka cari, bahkan ke lubang semut sekalipun. Namun tetap mereka tak menemukan Natalie.


“Tak ada dimanapun.” Menggeleng pelan Celine sebagai pertanda.


“Dawson! Pasti dia menyembunyikannya!” tuduh Cassandra dengan mata mendelik kesal.


Begitu menikmati kebersamaan pasangan suami istri itu, hingga mereka lupa makan sesuatu. Olahraga panas yang terjadi berulang-ulang kali itu, membuat mereka terbuai dengan nafsu.


Jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam waktu Finlandia. Davis dan Diora masih saja berada di kantor Triple D Corp.


“My love.” Diora mengguncang-guncangkan tubuh suaminya.

__ADS_1


“Hmm ....” Tak berniat membuka matanya, Davis tetap setia merengkuh istrinya.


“Aku lapar,” rengek Diora, bunyi suara cacing di dalam perut yang sudah melakukan demo masal itu terdengar begitu nyaring di telinga.


Segera membuka matanya, Davis melihat jam yang berada di atas nakas. “Sudah tengah malam,” gumamnya, pantas saja istrinya begitu keroncongan. “Mau pulang?” tawarnya dengan sangat lembut.


Diora menganggukkan kepalanya seraya mengelus perutnya.


“Kita mandi dulu,” ajak Davis.


“Tidak,” tolak Diora. “Aku tak ingin mandi bersamamu, tubuhku begitu lelah,” imbuhnya. Otak sucinya yang sudah tercemar dengan adegan mandi bersama di dalam novel yang sering ia baca, mulai travelling kemana-kemana membayangkan adegan apa yang akan terjadi jika mandi bersama, bisa-bisa ia tak jadi pulang dan makan. “Kau, mandilah dulu,” pintanya.


“Baiklah.” Pria itu begitu menurut dengan perintah istrinya. Segera turun dari ranjang panas itu dan bergegas membersihkan dirinya.


Sepuluh menit kemudian, suara gemercik shower sudah tak terdengar lagi, pertanda Davis sudah selesai mandi.


“Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu di bathup.” Davis keluar dengan bathrobe seraya mengeringkan rambutnya dengan handuk.

__ADS_1


Diora pun mulai berdiri dengan selimut sebagai penutupnya. “Aaaa ...,” teriaknya.


__ADS_2