My Rich Husband

My Rich Husband
Part 57


__ADS_3

Davis segera berlari ketika ia mendengar suara teriakan dari ruangan mempelai wanita yang tepat berada di samping ruangannya.


“Keluar!” bentak Davis. Ia langsung menyeret jas yang dikenakan oleh Danzel hingga pria itu terseret ke belakang.


“Lepaskan!” sentak Danzel mencoba memberontak.


Bukannya melepaskan, Davis malah mencekik leher Danzel dengan mata yang mendelik. Dirinya tak terima mengingat wanitanya tadi dibentak.


“Kau tidak berhak membentaknya, hanya aku yang berhak atas dirinya!” ketus Davis semakin mempererat cekikannya hingga Danzel sulit untuk bernafas.


Diora langsung berjalan untuk memeluk Davis dari belakang, ia sudah hafal bagaimana caranya meredakan amarah pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu, harus dengan memeluknya karena ia sudah dua kali melakukan itu.


“Hentikan ... ku mohon hentikan,” ujar Diora sembari terisak.


Davis langsung melepaskan cekikannya. “Pergilah! sebelum aku benar-benar membunuhmu,” ancamnya serius dengan tatapan membunuh.

__ADS_1


“Pergilah, ku mohon,” pinta Diora dari balik punggung Davis. Dirinya tak mungkin tega melihat Danzel tersiksa seperti itu.


Danzel tersenyum getir mendengar Diora mengusirnya dan lebih memilih Davis. “Jadi semua yang ku katakan benar? Dasar murahan, aku tak menyangka ternyata kau sepicik itu,” sindirnya dengan sinis.


Davis tak terima wanitanya dikatakan wanita murahan dan picik. Tangannya sudah mengepal hendak menghajar Danzel, namun sudah dicegah oleh Diora. Tangan Davis digenggam oleh Diora agar tak melayangkan tinjunya.


“Ya ... kau benar, semua yang kau katakan benar ... anggap saja aku seperti apa yang kau katakan,” raung Diora menatap Danzel dengan mata sendunya.


Diora merasa sakit, bahkan tak menyangka Danzel akan menuduhnya seperti itu. Namun itu lebih baik, dengan begitu Danzel akan cepat melupakannya.


“Sekali lagi ku katakan, keluar!” bentak Davis penuh penekanan.


“Jika kau datang hanya membuat keributan, lebih baik kau pulang saja,” ketus George sembari melepaskan cengkramannya.


George tak memperdulikan Danzel yang tengah terpukul. Ia kembali masuk ke ruangan Diora.

__ADS_1


Di dalam ruangan, Gabby tengah menenangkan Diora agar tak bersedih. Ia tahu jika sahabatnya itu sedang terpukul dengan perkataan mantan kekasihnya.


“Siapa yang mengijinkanmu memasang wajah sedih karena pria itu? Berhenti bersedih, atau aku cium kau sekarang juga,” ancam Davis sembari berjalan angkuh mendekati Diora. Membuat Diora menangis dengan kencang ketika dirinya sudah berada di dekat Diora.


“Kau bisa diam tidak!” seru Gabby tak terima sahabatnya diancam. “Kau keluar saja, kau hanya mengganggu disini, lihat sekarang dia jadi menangis kencang,” usirnya.


“Aku yang menyewa gedung ini, jadi terserah aku,” tolak Davis tak bergeming.


“Kalian bisa diam tidak! ... dan kau.” Diora menunjuk Davis. “Aku menangis karena kau menginjak kakiku! ... singkirkan kakimu itu,” terangnya.


Mereka pun langsung melihat ke arah kaki Diora, memang benar saat ini kakinya sedikit terinjak oleh pantofel yang dikenakan Davis. Hanya seujung sepatu saja, namun rasanya sangat sakit karena wanita itu sedang tak memakai alas kaki.


“Oh aku tidak terasa,” seloroh Davis menyingkirkan kakinya.


“Ku kira kau sedih karena kejadian barusan,” sergah Gabby.

__ADS_1


“Itu juga salah satunya, salah lainnya aku sedih karena dihari pernikahanku, tak ada orang tua yang mengantarkan ke altar,” jelas Diora dengan wajah sedihnya.


“Aku bisa meminta papaku untuk mengantarkanmu ke altar jika kau mau,” usul Gabby.


__ADS_2