
Diora membalikkan tubuhnya dan membalas pelukan suaminya. Ia mendongakkan kepala untuk menatap manik mata elang itu. “Jika itu keinginanmu, maka akan aku lakukan.”
Davis melepaskan rengkuhannya, ia memegang erat kedua bahu istrinya, mensejajarkan wajahnya agar saling bertatapan dengan manik mata indah wanita di hadapannya.
“Apakah kau mau berjanji padaku tak akan meninggalkanku apapun keadaan dan kesalahanku?” pinta Davis.
Ada maksud terselubung dari permohonan itu, kelicikan yang Davis tutup rapat-rapat bisa saja sewaktu-waktu diketahui oleh Diora, ia tak ingin ditinggalkan ketika saat itu terjadi.
“Tentu saja.” Diora menganggukkan kepalanya.
Ada angin segar yang tiba-tiba datang di hati Davis, kegundahannya selama ini hilang sudah. Ia bisa bernafas lega sekarang. “Terima kasih.” Segera menyergah bibir indah yang terpoles lipstik tipis itu dengan penuh kasih. Kebahagiaannya tak dapat disembunyikan lagi.
“Tapi, jika kau melakukan kelicikan, aku tak tau bisa menepati janjiku atau tidak ... karena aku sangat membenci orang yang berbuat licik,” imbuh Diora ketika penyatuan dua bibir mereka berakhir.
Hancur lebur harapan Davis yang baru saja memberikan angin segar. Kegundahannya datang lagi menghampirinya. Tak apa, selagi tak ada orang lain yang mengetahui perbuatannya kecuali George, Gabby, dan Lord. Mungkin istrinya tak akan tahu.
Pria itu sepertinya sudah lupa dengan Eliana yang ia temui langsung untuk membuat kesepakatan licik itu. Dan ia juga tak tahu bahwa Danzel pria kaya mantan kekasih istrinya sudah mengetahui kelicikannya. Dua orang itu bisa saja menjadi ancaman bagi keharmonisan rumah tangganya.
“Hei, kenapa kau diam saja?” Diora menepuk pelan pipi suaminya karena Davis menatap kosong air kolam renang di hadapan mereka. Suaminya itu tak menjawab pertanyaan darinya, bahkan tak mendengarnya.
“Tidak apa, aku hanya sedang memandangmu dari pantulan air itu,” elak Davis. “Kau, bertanya apa tadi?”
“Siapa desainer yang merancang kapal ini?” Diora mengulangi pertanyaannya.
“Suamimu,” jawab Davis.
Diora melongo tak percaya menatap Davis dengan mata membulatnya. “Apa kau serius?”
“Tentu saja, apa kau meragukan kemampuanku?”
“Tidak, aku hanya tak percaya saja ternyata kau juga memiliki bakat seni arsitektur yang luar biasa,” puji Diora mengacungkan dua jempolnya.
“Tentu saja, aku sudah mempelajarinya sedari SMP,” jelas Davis.
Diora berohria pertanda dirinya paham mengapa suaminya bisa berbakat sekali dibidang itu. “Lalu, kau menyewa kapal ini dari siapa? Apa ini imbalan karena kau telah membuatkan pemiliknya desain yang sangat berkelas ini?” tanyanya begitu penasaran.
“Kau,” jawab Davis singkat.
__ADS_1
Diora mengerutkan keningnya tak paham. “Maksudnya?”
“Aku menyewanya darimu.” Davis menjelaskannya sembari menuntun Diora untuk masuk ke dalam istana megah di hadapannya.
“Aku tak punya kapal pesiar, darimana bisa aku menyewakan transportasi yang bahkan aku tak memilikinya,” protes Diora.
“Tentu saja kau punya, karena kapal ini milikmu, ini hadiah pernikahan dariku.” Davis membukakan pintu kamar utama agar istrinya masuk terlebih dahulu.
“Jangan bohong,” elak Diora masih belum percaya.
“Sungguh, aku sengaja membelikanmu ini, karena aku sudah memiliki kapal sendiri.” Davis membuka gorden yang memperlihatkan sebuah kapal pesiar tak kalah besar dan megah. “Itu milikku.”
Dari tempat Diora berdiri, ia bisa melihatnya. “Ku kira kau itu kikir, ternyata kau sangat boros.” Serba salah saja Davis dimata istrinya. Tak membeli kapal pesiar dikata pelit, membeli kapal pesiar dikata boros.
“Tapi ini tak gratis.” Pria itu tersenyum penuh arti.
“Jual saja lagi jika kau ingin aku membayarnya, aku tak memiliki uang,” kelakar Diora duduk menghempaskan tubuhnya di ranjang empuk yang ada disana.
“Aku ingin kau membayarku dengan tubuhmu.”
“With my pleasure (dengan senang hati).” Entah mengapa wanita itu akhir-akhir ini begitu mesum, ia selalu saja menginginkan percintaan panas dengan suaminya. Seolah ia sangat nyaman melakukannya.
Diora langsung menghampiri suaminya, memberikan sentuhan magic pada wajah dan dada bidang Davis. Tangannya mulai melepas satu persatu kancing kemeja yang masih rapat tertutup itu.
Tatapan wanita itu begitu penuh kabut gairah, berangsur turun tangannya melepaskan ikat pinggang dan melemparnya asal. Segera melepaskan ritsleting celana suaminya hingga menyisakan pembungkus yang memperlihatkan anaconda sedang menegang meraung ingin keluar mencari gua.
“Kau mulai nakal.” Davis sudah terbakar dengan foreplay yang diberikan istrinya, ia langsung menyergah bibir dan beradu lidah.
Tubuh mereka kini sudah merapat tak ada celah sedikitpun. Tangan Diora mencengkram rambut suaminya dan menahan kepala prianya agar memberikan ciuman yang lebih.
Tangan Davis pun demikian, ia memegang tengkuk istrinya. Kepalanya berpindah ke kiri dan ke kanan silih berganti.
Diora menaikkan kedua kakinya ketika miliknya mulai berkedut dan melingkarkan pada pinggul suaminya, menggesekkan naik turun miliknya dengan milik suaminya. Hanya melakukan itu saja sudah memberikan sensasi yang begitu melayangkan dirinya ke nirwana.
Tangan kekar itu langsung menopang tubuh istrinya dengan kedua tangan diletakkan pada bagian tubuh belakang yang padat itu. Tangan Davis memegang dan meremas dua bola bagian belakang istrinya seperti mainan squishy.
Oh shit! Diora sungguh terbakar gairah yang membuncah. Ia semakin mempercepat ritme peraduan lidahnya hingga bunyi cecapan terdengar jelas di ruangan yang begitu luas itu. Tubuh wanita itu bahkan sengaja ia naik turunkan dengan lebih cepat untuk memancing gairah lawan mainnya.
__ADS_1
“I want you (aku menginginkanmu),” bisik Davis ditelinga Diora dengan suara sensualnya.
“As you wish, My Love (sesuai keinginanmu, cintaku).” Diora melepaskan kain pembungkus bagian atasnya hingga memperlihatkan sesuatu berukuran tiga puluh enam D terpampang nyata dan memenuhi kornea mata Davis.
Pria itu langsung melahap habis benda kenyal itu dengan mulutnya. Menyesapnya dan memilin dengan lidahnya.
“Aku menginginkannya, My Love.” Diora sudah tak kuat lagi menahan, ia sudah benar-benar basah dan menginginkan penyatuan.
“Seperti yang kau inginkan, My Wife.” Davis merebahkan tubuh Diora di meja, ia ingin bermain dengan posisi yang berbeda.
Pria itu langsung melepaskan kain terakhir yang membungkus keduanya hingga kini mereka sama-sama polos. Mengangkat kaki istrinya dan membuka lebar untuk mempermudah jalannya.
“Ah ... aku tak kuat lagi, tolong jangan siksa aku,” rancau Diora ketika suaminya bermain lidah di bagian sensitifnya dan mengalirkan kenikmatan yang begitu membahana.
“Are you ready? (Kau siap?)” Diora menganggukkan kepalanya sebagai pertanda.
Jlep!
“Ah ... nikmat ....”
Penyatuan pun dimulai, Davis mulai memompa istrinya dengan ritme pelan. Ia begitu menikmati tubuh istrinya.
“Apa kau sudah mengunci pintunya?” tanya Diora disela kenikmatannya.
Davis menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Ia tak ingin diganggu lagi kegiatan panasnya sehingga ketika masuk langsung ia kunci pintunya.
“Faster please!” pinta Diora disela desahannya.
Davis menaikkan ritmenya hingga bunyi gesekan kedua tubuh begitu nyaring terdengar disana.
“Uh ... ah ... aku ingin keluar, My Love.”
“Aku juga, mari keluarkan sama-sama.”
Pria itu semakin cepat memompa hingga terjadi gempa di meja tempat mereka bercinta. Decitan dari kaki meja yang bergesekan dengan lantai pun menjadi saksi bisu betapa bergairahnya mereka berdua.
“Ah ...,” erang keduanya ketika mencapai puncaknya dan Davis memuntahkan bisa anacaondanya di dalam gua dibalik hutan rimbun istrinya.
__ADS_1
“Thanks for loving me (terima kasih telah mencintaiku).” Davis mengecup kening istrinya yang penuh dengan peluh hasil olahraga mereka. Ia menggendong Diora dan merebahkan di ranjang. Mereka pun terkulai lemas usai bercinta selama dua jam itu. Beruntung masih ada sisa waktu tiga jam untuk istirahat sebelum acara dimulai.