My Rich Husband

My Rich Husband
Part 156


__ADS_3

“Kau, apakah sudah memberitahu kepada istrimu tentang perbuatan licikmu itu?” tanya Lord pada Davis. Ia bertanya seperti itu karena ingin segera memberitahukan juga kepada Diora tentang siapa dirinya sebenarnya.


“Hmm ....” Davis yang sedang menyeruput minumannya itu hanya bergumam tak jelas.


“Telan dulu minumanmu itu, baru kau menjawabku,” hardik Lord yang sudah penasaran.


“Lagian kau itu bertanya saat aku sedang asik menikmati minuman,” balas Davis menyalahkan.


“Sekarang kau sudah tak minum, ayo jawab!”


“Kau, sangat ingin tahu?” goda Davis.


“Tentu saja, pertanyaan macam apa itu! Jika tak ingin tahu, aku tak akan bertanya denganmu.” Lord sudah siap mendengar jawaban menantunya.


“Diora sudah tahu perbuatan licikku.” Davis tak memberitahu bahwa istrinya tahu bukan dari dirinya langsung, namun dari kejadian yang tak terduga. Akan turun derajatnya di mata Lord jika sampai pak tua itu tahu.


“Lalu, apa dia memaafkanmu?” Telinga Lord semakin menajam untuk mendengarkan jawaban.


Davis tersenyum, otak liciknya mengingat lagi perkataan Lord saat di pesta. Pak tua itu akan memberitahu juga rahasia dirinya kepada Diora ketika rahasia Davis terbongkar dan dimaafkan.


Davis tak ingin mendapat amukan sendiri, ia ingin Lord juga merasakan mendapatkan imbas dari ibu hamil itu.

__ADS_1


“Tentu saja, dia terlalu mencintaiku, apa lagi ada empat bayi sekaligus di perutnya,” bohong Davis, ia memasang wajah seperti biasanya lagi agar tak dicurigai mengatakan kebohongan.


“Benarkah?” Lord nampak berbinar.


“Tentu saja, kau juga harus mengatakan rahasiamu itu secepatnya,” bujuk Davis. Dalam hatinya ia tersenyum puas membayangkan Lord akan diamuk atau didiamkan oleh Diora.


Pft! Mau saja dibodohi Davis, padahal sangat jelas jika Diora sedang mengibarkan bendera perang. George menertawakan Lord dalam hatinya.


Lord bersemangat sekali. “Aku akan memberitahukan padanya sekarang juga.” Ia segera menelfon seseorang. “Antarkan hasil tes DNA yang ada di laci meja kerjaku!” titahnya.


“Kemana, tuan?” Orang dalam sambungan telefon itu bertanya.


“Baik.”


Panggilan pun terputus. Lord menarik kedua sudut bibirnya. “Sebentar lagi aku tak akan ada beban yang harus disembunyikan.”


Davis dan George mengangguk. “Selamat.”


Padahal dalam hati mereka sedang merutuki kebodohan Lord yang mudah saja percaya dengan apa yang dikatakan Davis.


...........

__ADS_1


Sementara itu, di dalam ruangan Diora.


“Apa kau sungguh tak ingin menikah?” tanya Diora pada Gabby.


“Tentu saja.” Gabby begitu yakin mengatakannya.


“Kenapa?” Natalie nampak penasaran.


“Karena tak ingin saja.” Gabby mengedikkan bahunya.


“Tapi aku melihat dari mata George, sepertinya dia menyukaimu,” ujar Diora. Setelah beberapa kali melihat tatapan pria dingin itu ke sahabatnya, ia yakin sorot mata elang George memancarkan sesuatu yang berbeda.


“Boleh juga pria itu, tampan dan berwibawa, cocok denganmu yang cantik,” imbuh Natalie. “Menikah saja dengannya, pasti papamu juga akan merestui, dia pasti akan menjagamu. Memiliki pasangan itu enak, ada yang merawat kita dan menemani kita, jadi tak akan kesepian,” hasutnya. “Iya kan?” Ia mencari pembenaran pada Diora.


Diora yang asik mengunyah buah menganggukkan kepalanya.


“Tidak, aku sudah cukup bahagia hidup sendiri, lagi pula aku bisa memenuhi kebutuhan dan juga merawat diriku sendiri, untuk apa lagi aku membutuhkan orang lain. Aku pun pandai beladiri.” Gabby yang memiliki pendirian teguh itu pun tetap tak terhasut. “Aku akan melajang seumur hidupku.”


Wanita, jika sudah merasakan bisa memenuhi apapun sendiri memang tak pernah merasa membutuhkan seorang pendamping. Dirinya sudah merasa sempurna dan bahagia. Memiliki pendamping hanya menambahkan luka saja nantinya jika tak sesuai harapannya.


“Apa kau yakin tak ingin merubah keputusanmu itu? Aku menarik kembali doaku yang mengatakan semoga kau dan George tak berjodoh.”

__ADS_1


__ADS_2