
Perawat wanita yang berbicara dengan Diora tak dapat menolak permintaan ibu hamil itu. Ia tahu betul orang hamil ada fase mengidamnya, padahal itu hanya alasan saja agar Diora tak perlu makan ke ruang rawatnya dan bertemu dengan suaminya.
“Silahkan.” Satu nampan penuh berisi makanan bergizi tersaji di hadapan Diora.
Senyum mengembang menghiasi wajah cantik yang kelaparan itu. “Terima kasih.” Diora langsung menyantap dengan sangat lahap. Hanya butuh waktu lima menit, sudah habis semua.
“Boleh aku menambah? Anakku ada empat, dan ini baru satu yang makan, tiga lagi belum makan, kemudian aku, berarti empat kali lagi.” Ibu hamil minim pengetahuan tentang kandungan pun berucap dengan sangat polosnya.
Perawat itu tersenyum, dalam hatinya merasa lucu dengan kepolosan Diora. “Boleh.”
Diora sungguh makan lima porsi sekaligus. Untung saja perawat itu mengurangi porsi makanannya. Karena makanan yang disajikan sudah sesuai dengan aturan ahli gizi.
“Aku sudah kenyang, permisi,” pamit Diora. Ia sudah merasakan kantuk setelah perutnya terasa begah.
Diora memutuskan kembali ke ruang rawatnya untuk istirahat, masa bodoh akan bertemu dengan suaminya. Yang pasti dia sudah sangat mengantuk.
Ting!
Lift terbuka, Diora keluar dengan sedikit menunduk. Saat ia mengangkat wajahnya, mendadak berubah jadi masam melihat suaminya berjalan ke arahnya.
__ADS_1
“Darimana saja kau? Aku mencarimu diseluruh rumah sakit ini!” hardik Davis dengan nada sedikit meninggi karena terlalu khawatir. Ia langsung merengkuh tubuh istrinya dengan perasaan bersyukur.
Diora diam saja tak membalas pelukan itu.
“Kenapa tak menjawab? Kau tahu? Aku sangat khawatir.” Davis memegang bahu Diora dan mensejajarkan wajahnya untuk bersitatap dengan wanita cantik itu.
Cih khawatir! Asik menunggu wanita lain sok-sokan menghawatirkanku! Diora ingin mengatakan itu, namun ia sedang mogok bicara.
Wanita itu memilih melengos dan berjalan mendahului. Hatinya sangat panas mengingat pemandangan yang ia lihat di bangsal kelas satu beberapa jam lalu.
Davis menghembuskan nafasnya dan menyusul istrinya.
Diora tak melawan, dia membiarkan suaminya. Namun mulutnya tetap rapat dan mengerucut.
Setelah sampai di ruangan, Diora segera merebahkan diri.
“Makan dulu, kau belum makan kan pasti?” pinta Davis menyiapkan makanan di meja dan menaikkan bed agar Diora duduk bersandar.
“Buka mulutmu.” Satu sendok penuh makanan sudah berada di depan mulut Diora.
__ADS_1
Mulut wanita itu masih saja rapat, matanya menatap ke sembarang arah. Tak ingin melihat suaminya yang terus mencoba merayu dirinya.
“Maafkan aku, aku banyak salah padamu, tak apa kau mendiamkan aku, tapi kau tetap harus makan, anak kita butuh nutrisi,” bujuk Davis dengan sangat lembut.
Diora memilih memencet tombol untuk memanggil perawat.
Tak berselang lama, wanita berseragam serba putih pun masuk. “Ada yang bisa dibantu?” tanyanya.
“Tolong katakan pada suamiku jika aku sudah makan,” titah Diora, matanya menatap lampu di atas.
Perawat itu mengerutkan keningnya, ia nampak bingung, untuk apa dia harus mengatakan itu. Bukankah bisa langsung berbicara sendiri. Tapi tetap saja dilakukan. “Tuan, istri a—” Ucapannya terhenti.
“Aku sudah dengar,” potong Davis. “Makanlah lagi, anak kita tak hanya satu tapi empat, pasti membutuhkan banyak asupan nutrisi.” Tak gentar ia membujuk.
“Katakan padanya lagi, aku sudah makan lima porsi di pantry.”
“Tu—”
“Aku sudah dengar.”
__ADS_1