
Davis tetap memakan hidangan yang disajikan untuknya, meskipun sudah terkena semburan istrinya. Namun dia tak merasa risi sedikitpun.
“Apa ini menggunakan kaldu seafood?” tanya Davis setelah memasukkan satu suap spaghetti ke dalam mulutnya.
“Hmm ....” Diora menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, sebab mulutnya masih penuh dengan makanan. “Kaldu segar, aku membuatnya sendiri,” imbuhnya. “Kau, tidak alergi kan?”
Davis tak menjawab, dia hanya tersenyum dan memakan hingga habis.
“Lehermu, merah.” Diora mengamati dengan lekat kulit suaminya, tangannya hendak menyentuh bagian tubuh yang meruam.
Davis langsung berdiri sebelum jemari lentik itu mencapainya. “Aku akan ke ruang kerja, ada pekerjaan yang harus aku selesaikan, kau, tidurlah dulu.” Langsung berlalu meninggalkan Diora sendirian.
Wanita itu hanya menurut saja, ia membersihkan piring bekas dan pergi ke kamar. Berhubung dia sedang sendirian, Diora memanfaatkan waktu itu untuk melanjutkan membaca novel yang tertunda.
...........
Di dalam ruang kerja, Davis nampak mencari-cari sesuatu.
“Dimana obat itu?” Ia mencari-cari pil yang sudah sangat lama sekali tak pernah ia minum.
Nafasnya sudah mulai tersengal, ruam merah semakin banyak menjalar di tubuhnya. Ia memukul dadanya yang begitu terasa sesak.
Laci demi laci ia buka satu persatu tanpa terkecuali. Hingga akhirnya ia menemukan botol berwarna putih berisi obat.
Davis segera meminumnya tanpa mengecek tanggal kadaluarsa yang tertera.
__ADS_1
“Mengapa tak kunjung reda? Biasanya langsung sembuh? Apa kurang banyak?” Davis segera mengambil lagi dengan jumlah dua kali lipat dari sebelumnya.
Tetap tak juga hilang rasa sesak di dadanya, rasa gatal dan ruamnya pun semakin menjalar diseluruh tubuhnya.
“Apa aku salah mengambil obat?” gumamnya. “Tapi hanya ada obat itu yang aku punya selama ini,” imbuhnya.
Pria itu akhirnya membaca labelnya. “Shit!” umpatnya. “Sudah kadaluarsa.” Pil yang ia konsumsi ternyata sudah dua tahun lebih dari tanggal yang tertera disana.
“Dimana ponselku?” Ia mencoba mencari ponselnya untuk segera menelfon dokter pribadinya. Namun kondisinya yang begitu memprihatinkan dengan kesulitan bernafas, dan matanya mulai buram membuatnya kesulitan menemukan benda pipih miliknya.
Belum sempat ia meraih ponselnya, tubuhnya sudah terkulai lemas ambruk ke lantai marmer.
...........
“Apa pekerjaannya terlalu banyak?” tebaknya setelah melihat jam di ponselnya.
Wanita itu turun dari ranjang empuk nan berharga fantastis. Segera turun menuju dapur, ia ingin membuatkan kopi sebagai teman lembur suaminya.
Dengan langah gemulainya, ia membawa nampan berisi cangkir kopi menuju ruang kerja suaminya.
Tok ... tok ... tok ...
Ia mengetuk pintu, menunggu jawaban dari dalam. Tapi tak juga ada suara yang terdengar.
“My Love ... aku masuk ya?” ijinnya seraya membuka handle pintu dengan hati-hati.
__ADS_1
Prang ...
Diora menjatuhkan benda yang ia bawa hingga serpihan keramik dari cangkir berserakan dimana-mana.
Tubuhnya menegang melihat sesosok lelaki yang terbujur kaku dengan busa keluar dari mulutnya.
“Tidak ....” Menggeleng cepat kepalanya. Tangisnya luruh begitu saja mendapati suaminya tergeletak di lantai dengan kondisi yang begitu mengenaskan.
Ia segera berlari dan memeluk tubuh Davis yang tak sadarkan diri. “My Love ... ku mohon bangun.” Menggoyang-goyangkan dengan kencang tubuh dalam dekapannya itu. “Jangan tinggalkan aku sendiri.” Tak ada respon apapun, membuatnya semakin keras menangis.
Diora yang sering dibuat kesal oleh suaminya mencoba berfikiran bahwa ia sedang dikerjai. Meskipun di dalam hatinya begitu takut jika ini adalah nyata.
“Kau hanya bercanda kan?” tampiknya menepuk dengan keras pipi suaminya. “Cukup! ini tidak lucu.” Ia mencoba menghilangkan busa yang dia anggap buatan itu lalu mengendusnya.
Semakin keras tangisannya tat kala busa itu bukanlah buatan yang berasal dari sabun, tak ada bau detergen sedikitpun.
Isak tangisnya tak dapat dibendung lagi, kesedihannya tak dapat ditahan lagi. Kebahagiaan yang baru saja ia dapatkan setelah pernikahan harus terhenti sampai disini?
Haruskah ia berakhir seperti ini disaat rasa cinta itu mulai tumbuh bermekaran di dalam hatinya?
Tidak!
Rengkuhannya semakin kuat seolah dirinya tak rela kehilangan sosok pria yang selalu menghantuinya setiap hari dengan berbagai macam perasaan. Meskipun di awal pertemuan mereka selalu membuatnya kesal. Namun semakin mengenal sosok itu, ia merasakan bahwa ada ketulusan dalam diri suaminya. Perlakuan hangat dan perhatian yang tanpa sadar meluluhkan hatinya membuatnya menggila jika harus kehilangan saat ini juga.
“Aku belum siap menjadi janda ....”
__ADS_1