My Rich Husband

My Rich Husband
Part 152


__ADS_3

Davis memutuskan untuk mengecek CCTV yang ada di rumah sakit setelah diberi saran oleh George.


“Aku sedang mencari istriku, dia menghilang, bisa perlihatkan padaku rekaman dari kamar khusus ibu hamil?” pinta Davis pada petugas yang menjaga.


“Pukul berapa kira-kira istri anda menghilang? Agar mempermudah pencariannya,” tanya petugas itu.


“Jam dua siang.” Davis memberikan waktu ketika ia keluar dari ruangan Diora.


Petugas itu pun menayangkan rekaman CCTV yang diminta. Memperlihatkan dari Davis keluar dan setelah itu tak ada yang keluar lagi.


“Tidak ada yang keluar di waktu itu, tuan, hanya anda saja,” terang petugas karena sudah bosan melihat rekaman yang sama.


“Coba dipercepat,” titah Davis tanpa mengalihkan pandangannya dari monitor.


Rekaman pun dipercepat.


“Stop.” Davis memberhentikan petugas itu. “Wanita itu istriku,” tunjuknya.


Davis memperhatikan kemana saja Diora pergi.


“Shit!” umpat Davis mengacak-acak rambutnya. “Dia pasti melihatku dengan Gwen tapi tak mendengar apa yang aku bicarakan.” Ia sudah yakin jika istrinya akan salah paham dengannya.


Pria itu melanjutkan menonton, terlihat Diora terakhir kali menghilang di belakang rumah sakit yang tak terjangkau CCTV.

__ADS_1


“Ini untukmu.” Davis memberikan sepuluh ribu euro untuk tips petugas karena telah membantunya. Ia langsung bergegas pergi ke tempat sesuai yang ia lihat.


“Terima kasih, tuan, istri a—” petugas itu ingin memberitahu dimana Diora berada, namun Davis sudah menghilang.


Padahal Davis belum melihat rekaman hingga selesai, karena Diora nampak berjalan kembali setelah dari taman belakang rumah sakit.


“Ah sudahlah, yang penting dapat duit.” Petugas itu mencoba tak perduli.


...........


Davis berlari menuju taman belakang rumah sakit. Disepanjang perjalanan ia memikirkan kata-kata untuk memberikan penjelasan pada istrinya.


“Diora ... My Wife?” Pria itu membalikkan tubuh seorang wanita dengan baju pasien yang terlihat dari belakang seperti istrinya.


“Maaf, salah orang.” Davis langsung bergegas mencari lagi disekitar sana.


“Dasar orang aneh,” hina wanita itu.


Davis masih kalang kabut mencari istrinya, seluruh taman sudah ia susuri, namun tak menemukan batang hidung istrinya.


“Argh ....” Davis frustasi, mengacak-acak rambutnya dan mengusap kasar wajahnya.


Disaat dadanya naik turun karena emosi mencari istrinya yang tak juga ketemu. Ponselnya berbunyi.

__ADS_1


“Apa!” sembur Davis dengan nada kesalnya.


“Istri anda tak terlihat keluar dari rumah sakit, tuan, saya sudah meretas semua CCTV yang ada di jalan dekat rumah sakit, dan tak ada gerak gerik yang mencurigakan dari penculik, kemungkinan istri anda masih di dalam rumah sakit,” jelas anak buah Cosa Nostra.


“Hmm.” Sambungan telefon pun terputus.


Pria itu terlihat kacau saat ini. Namun kakinya masih terus melangkah menyusuri semua tempat.


...........


Sementara itu, setelah Diora menghabiskan waktu di taman sendirian, ia merasa bosan dan sangat lapar.


Cacing-cacing di perut sudah berdemo beserta keempat zigotnya ikut berdemo masal.


“Lapar ya?” Diora berbicara dengan perutnya sendiri, tangannya mengusap lembut bagian tubuh yang masih rata itu.


Wanita itu beranjak pergi, ia ingin ke pantry untuk meminta makanan.


“Nona, ada yang bisa dibantu?” tawar salah satu perawat yang berada disana.


“Aku lapar, berikan aku makanan,” pinta Diora.


“Makanan pasien sudah diantarkan ke ruangan, nona, jika ingin makan, saya antar kembali ke ruangan anda,” tawar perawat itu.

__ADS_1


“Aku ingin makan disini saja,” rengek Diora dengan memasang wajah cemberutnya. “Anakku tak mau makan di ruangan,” alasannya sembari mengelus perutnya.


__ADS_2