
“Berani sekali kau menghinaku!” Sanchez berdiri seraya menggebrak meja. Ia hendak menampar Diora, namun tangannya dicekal oleh Davis.
“Berani kau menyentuh istriku, ku bunuh kau sekarang juga!” ancam Davis menghempaskan tangan Sanchez dengan kasar.
Sanchez tak dapat berkutik, cengkraman Davis yang begitu kuat hingga meninggalkan bekas merah di tangannya, mata yang begitu menakutkan menatap tajam dirinya, dan intonasi suara yang begitu serius membuat pria bermulut tajam itu bergetar menahan takut. Sungguh berbeda dengan Davis yang ia tahu dimasa lalu.
“Ayo kita pergi,” ajak Sanchez pada istrinya.
“Tapi, kita belum pesan makan,” tolak Gwen. Sejujurnya ia sangat rindu melihat mantan kekasihnya, kapan lagi ia bisa melihat Davis jika bukan sekarang.
“Ayo!” Sanchez mulai menarik paksa Gwen dengan keras.
“Jika kau ingin pergi, pergilah sendiri! Tak perlu kau memaksa dan berbuat kasar dengan perempuan!” Davis melerai perdebatan itu. Ia tak kuasa melihat raut wajah Gwen yang begitu menahan sakit mendapatkan perlakuan kasar.
“Tak perlu ikut campur urusan rumah tanggaku!” raung Sanchez. “Aku sudah tak berselera makan denganmu.”
Davis menyunggingkan senyum sinisnya. “Bukankah tadi kau yang begitu ingin mengajakku makan bersama?”
“Aku berubah pikiran sekarang,” kilah Sanchez yang sudah siap untuk pergi.
“Ohh ... ternyata kau seorang pria yang tak dapat dipegang omongannya ya.”
“Diam kau! Akan ku beri pelajaran kau setelah ini!” ancam Sanchez sebelum berlalu pergi meninggalkan Davis dan Diora. Ia merencanakan pembalasan yang setimpal untuk kejadian hari ini.
Davis hanya menaikkan sedikit sudut bibirnya seolah mengejek. Sebelum Sanchez mengganggunya, ia akan lebih dulu menghancurkan pria itu.
Kini tinggallah Davis dan Diora.
“Kau, tak apa?” tanya Davis pada Diora yang terlihat sedang melamun.
__ADS_1
“Hei ....” Davis menggoyangkan badan istrinya karena tak mendapat jawaban.
“A-apa?” Diora kembali sadar dari lamunannya.
“Kau melamun?”
“Tidak, aku hanya meresapi perdebatan kalian,” kilah Diora. Menggaruk tengguknya yang tak gatal, ia malu ketahuan melamun.
“Pesanlah makanan, kita makan disini saja,” titah Davis seraya memberikan buku menu.
“Hmm.”
Mereka pun akhirnya makan berdua dengan tenang, tentram, nyaman, dan damai.
...........
Di penthouse milik Davis, mereka sudah siap untuk istirahat. Namun Davis memulai sebuah percakapan.
“Ucapan yang mana? Banyak sekali yang pria bermulut wanita itu ucapkan,” jawab Diora seraya menarik selimut untuk menutupi badan mereka.
“Korupsi,” terang Davis.
“Tidak, untuk apa aku mempercayai perkataan dari mulut pria seperti dirinya.”
“Apa kau mempercayaiku?”
“Tentu saja, hubungan tanpa kepercayaan maka tak akan kokoh.”
Jika kau tau aku menggunakan cara licik untuk mendapatkanmu apakah kau akan tetap mempercayaiku?
__ADS_1
“Kenapa kau melamun?” Diora menepuk pipi Davis untuk menyadarkan.
“Siapa yang melamun?”
“Kau.”
“Aku tidak melamun, aku sedang melatih seberapa kuat mataku tak berkedip,” elak Davis sekenanya.
“Ada-ada saja kau itu.” Diora sudah siap merebahkan tubuhnya.
“Boleh aku memanggilmu my wife?”
“Boleh, panggilan yang tak buruk.” Diora memutar-mutar bola matanya untuk berfikir. “Lalu aku harus memanggilmu apa?”
“My love.”
“My love? Tidak buruk.” Diora yang memang sudah ada getaran-getaran cinta tak menolak panggilan itu, mungkin dengan saling memberi panggilan sayang akan membuat hubungan mereka semakin erat.
“Hmm my wife?” Davis mencoba memanggil dengan suara yang begitu kaku. Ternyata sangat tak cocok baginya mengucapkannya.
“Hmm.” Dengan mata terpejam Diora mencoba merespon.
“Jika aku berbuat sesuatu hal yang licik, apakah kau akan memaafkanku?”
“Tidak, aku tak suka orang yang berbuat licik.”
Susah payah Davis menelan salivanya. Jangan sampai perbuatannya terdengar ditelinga istrinya.
“Tidurlah, aku akan ke ruang kerja, ada pekerjaan yang harus aku lakukan.”
__ADS_1
Mengecup kening istrinya dalam-dalam sebelum ia berlalu keluar kamar.