
Diora hendak mengambil ponselnya di dalam tas ketika bunyi dering panggilan masuk menggema di dalam mobil untuk ketiga kalinya.
Tangan kanannya memegang stir mobil, sedangkan tangan kirinya ingin menggapai tas yang berada di jok penumpang sampingnya. Matanya bergantian melihat jalan kemudian melihat tas.
Namun ketika tangannya sudah di dalam tas, ada mobil yang tiba-tiba saja berhenti di depannya. Diora mengerem mendadak agar tak menabrak mobil di depannya.
“Aaaa ...,” teriaknya. Ia memejamkan matanya dan menggengam erat stir kemudi dengan kedua tangannya.
Brak ...
Naas, mobilnya tak langsung berhenti sempurna ketika ia mengerem. Sehingga tabrakan pun tak dapat dihindari.
Diora membuka matanya perlahan, memegang seluruh tubuhnya dan mencubit pelan. “Aww,” pekiknya ketika merasakan sakit. “Aku masih hidup,” ucapnya senang.
Beralih melihat mobil di depannya yang ia tabrak. “Dasar orang gila! ... berkendara seenak jidatnya,” gumamnya.
Dari dalam mobil mewah yang ia tabrak, keluar seorang pria bertubuh kekar, gagah, berwajah sangat tampan, macho, definisi pria tampan yang sangat sempurna fisiknya. Mungkin jika ia membuka baju terlihat enam kotakan di perutnya.
__ADS_1
Diora terpesona ketika melihat pria itu, mulutnya tak sengaja menganga mengagumi keindahan ciptaan Tuhan.
“Turun!” seru pria itu yang tak lain adalah Davis. Dengan wajah dingin dan nada suara yang membentak. Tak lupa gedoran keras ia berikan pada pintu mobil Diora.
“Apakah dia malaikat pencabut nyawa?” kelakar Diora melihat wajah Davis yang tak ada ramah-ramahnya sama sekali ditambah pakaian serba hitam.
“Lihat! Kau menabrak mobil kesayanganku,” sungut Davis ketika Diora sudah keluar dari mobil. Ia menunjuk bagian belakang mobilnya yang masih menempel dengan bagian depan mobil Diora.
“Salah kau mengerem mendadak,” elak Diora tak mau dirinya disalahkan akibat pengendara gila yang seenaknya sendiri berkendara di jalan.
“Jelas saja aku mengerem, apa kau buta ha!” seru Davis menunjuk ke arah rambu lalu lintas.
“Tadi masih hijau,” elak Diora.
“Hijau nenek moyang kau!” berang Davis sambil berkacak pinggang.
“Maaf ... aku tak sengaja menabrak, lagi pula aku juga dirugikan.” Diora membela dirinya sendiri. “Lihat.” Ia menunjuk bagian depan mobilnya, kapnya sudah mengaga bahkan ringsek parah pada bagian yang ditunjuk. “Mobilku bahkan lebih parah kerusakannya dibanding mobilmu.”
__ADS_1
“Kau jangan mengelak!” bentak Davis. “Sudah jelas kau itu salah! Masih tak mau mengakui.” Ia mendorong jidat Diora dengan telunjuknya berkali-kali.
“Jangan kasar tuan.” Diora memegang telunjuk Davis agar tak menoyor jidatnya lagi.
Hanya dipegang telunjuknya saja sudah berhasil membuat tubuh Davis seperti tersengat belut listrik. Jantungnya saja sudah marathon, untung saja suara jantung tak akan bisa didengar Diora dari jaraknya berdiri.
“Beraninya kau memegang telunjukku,” sentak Davis, menarik dengan kasar tangannya.
“Dasar pria arogan,” ejek Diora dengan mulut komat kamit namun tak mengeluarkan suara.
“Apa katamu!”
“Dasar pria arogan!” seru Diora mengulangi perkataannya dengan berteriak.
“Kau fikir aku tuli ha!” berang Davis bersedekap tangan.
Diora menghembuskan nafasnya, berurusan dengan pria arogan membuatnya melupakan permasalahan yang beberapa saat lalu menguras hatinya. Sebab kali ini bukan hanya menguras hatinya, namun juga menguji kesabarannya.
__ADS_1
“Sudahlah kita berdamai saja,” ajak Diora tak ingin urusan berkepanjangan.
“Enak saja berdamai,” tolak Davis. “Kau enak berkata seperti itu karena mobilmu hanya mobil murahan, sedangkan mobilku sangat mahal.”