
“Maaf, aku tak bisa kembali denganmu,” balas Davis dengan sangat halus, karena tak ingin menyakiti perasaan Gwen dan tak ingin memberikan harapan pada wanita itu.
Davis sudah sangat mencintai istrinya, meskipun ada orang di masa lalu muncul lagi, ia tak akan pernah berpaling. Sebab, sekali ia menamatkan hati akan selalu berlabuh pada orang itu, dan sekali kecewa ia akan berfikir dua kali untuk kembali lagi. Ia kecewa dengan Gwen karena terlalu menurut dengan mamanya dan memilih untuk meninggalkan Davis.
“Aku tak mengharapkan untuk kembali denganmu, meskipun masih ada cinta untukmu. Tapi aku lebih bahagia melihatmu bersama istrimu saat ini. Aku melihat keberaniannya membelamu saat kau direndahkan oleh Sanchez, terlihat jelas dia tak terima harga dirimu diinjak-injak. Tak seperti aku yang bisanya diam dan menurut.” Gwen berkata dengan jujur, masih bisa berteman dengan Davis saja sudah sangat cukup baginya.
“Jangan mencintaiku, sebab aku tak dapat membalasnya. Biarlah masa lalu kita menjadi kenangan, jadikanlah pengalaman buruk yang merusak hubungan kita menjadi pembelajaran untuk kita berdua agar bisa saling memperjuangkan satu sama lain dengan pasangan masing-masing dikemudian hari. Waktu terus berjalan kedepan, tataplah masa depanmu. Jangan terlalu sering melihat ke belakang, hanya memberikan rasa sakit saja.”
Davis mencoba memberikan pengertian pada Gwen agar wanita itu bisa mencari pengganti dirinya yang lebih baik lagi.
“Semoga, kau bisa segera menemukan pria yang tulus mencintai dan menghargaimu,” harap Davis mendoakan. “Jika tidak ada pria yang menerima status jandamu, semoga kau selalu diberikan kebahagiaan bersama anakmu,” imbuhnya.
Gwen meneteskan air matanya mendengar ucapan Davis yang panjang. Hatinya terasa tercubit mendengarnya. Sebab ia sadar, jika hubungannya dengan Davis kandas karena dirinya yang tak memperjuangkan.
“Bolehkah aku menyimpan sedikit saja cinta untukmu? Kau adalah cinta pertamaku,” pinta Gwen.
__ADS_1
“Jangan, kau akan terluka jika mencintai pria beristri,” seloroh Davis. “Yang pertama belum tentu akan jadi yang terakhir, bukan? Carilah pelabuhan terakhirmu,” imbuhnya.
“Kau benar, mungkin kau diciptakan Tuhan sebagai uji coba percintaanku,” canda Gwen mencairkan suasana yang tegang. “Kita masih bisa berteman, kan?”
“Tentu saja, bagaimanapun kau pernah menjadi bagian dalam hidupku, orang yang sangat berharga bagiku.”
Mereka pun akhirnya mengobrol, menceritakan kehidupan satu sama lain setelah berpisah. Gwen bercerita tentang rumah tangganya yang tak harmonis. Davis menceritakan kisahnya bertemu Diora dan caranya mendapatkan istrinya.
“Itu namanya kau terobsesi dengannya karena kebaikannya menolongmu,” sergah Gwen setelah selesai mendengarkan cerita Davis.
“Aku yakin istrimu tak akan semarah itu, sebab ada janin dalam perutnya, kau berdoa saja semoga istrimu mengidam untuk selalu dekat denganmu dan bergantung padamu,” saran Gwen.
“Memangnya ada ibu hamil seperti itu?” Davis nampak sangat penasaran.
“Tentu saja ada, apalagi bukan hanya satu, tapi empat sekaligus, pasti anak-anakmu itu salah satunya atau mungkin semuanya ingin bermanjaan dengan Daddynya,” kelakar Gwen.
__ADS_1
“Semoga saja.”
“Apa rahasiamu bisa mendapatkan sekaligus empat?” Gwen bertanya, siapa tahu jika dia menikah lagi bisa memiliki anak kembar juga.
“Tidak ada rahasia, hanya kerja keras setiap saat saja,” kelakar Davis.
Gwen terkekeh mendengarnya. “Apa istrimu tak akan mencarimu jika kau terlalu lama meninggalkannya?”
“Istriku masih belum sadarkan diri.”
“Justru itu, kau seharusnya berada di sampingnya agar saat matanya terbuka yang dia lihat suaminya.”
Davis langsung tergelak mendengarnya. “Aku permisi, semoga kau lekas sembuh, pemindahanmu akan dilakukan secepatnya.” Ia buru-buru keluar dari ruangan Gwen.
“Dimana istriku?” Davis tak mendapati Diora berada di dalam ruang rawatnya, membuat pria itu bingung mencarinya.
__ADS_1