
“Ini tidak adil, kenapa papamu dimaafkan? Sedangkan aku tidak?” Davis masih tak terima jika dirinya sendiri yang mendapatkan hukuman akibat kesalahan yang sudah diperbuat.
Pria itu nampak begitu frustasi tak mendapatkan pengampunan dari sang istri.
Tangan halus nan lentik itu melambai memberikan isyarat pada Lord agar mendekat ke arahnya.
“Papa, katakan padanya, karena kau adalah papaku, orang tua kandungku jadi tak ada alasan untuk aku membenci.” Diora memilih berbisik kepada Lord.
Wanita itu sepertinya tak ingin suaranya terdengar langsung oleh suaminya seperti saat seorang perawat yang menjadi korbannya.
Lord mengatakan seperti apa kata anaknya itu, ia sedikit menahan tawanya karena niat busuk menantunya yang ingin menariknya ke dalam lembah hitam ternyata tak berhasil.
“Tapi, aku kan juga suamimu,” protes Davis dengan wajah memelasnya.
Lagi, wanita itu memilih berbisik dengan Lord.
“Kesalahanmu terlalu banyak, kau berbuat licik, sudah menjebak Danzel, tidak menunggu disampingku hingga aku membuka mata, dan yang paling parah lagi, kau malah menunggu wanita lain!” Lord menirukan persis tanpa dirubah sedikitpun.
__ADS_1
Hembusan nafas kasar keluar dari hidung pria berbulu tipis disekitar wajahnya.
“Aku bisa menjelaskannya, wanita itu Gwen yang menyelamatkanmu dari kecelakaan yang hampir saja merenggutmu dan buah hati kita. Dia rela berkorban untukmu, aku hanya berterima kasih padanya dan mendonorkan darahku untuknya karena dia kekurangan darah setelah peristiwa itu. Itulah alasanku tidak berada di sampingmu.” Hatinya komat kamit menggumamkan doa agar istrinya mau menerima penjelasannya.
“Tetap saja, kau masih salah.”
Rambut pria yang rapi itu kini berubah menjadi tak karuan akibat tangan kekarnya sendiri mengobrak abriknya.
“Lalu, aku harus melakukan apa untuk mendapatkan maafmu?”
Diora nampak berfikir sejenak. “Bawa aku pada wanita itu, aku juga ingin berterima kasih padanya.”
“Aku dan Natalie pulang dulu, kalian selesaikan masalahnya sendiri.” Lord berpamitan karena sudah melihat gurat lelah di wajah cantik pujaan hatinya itu.
Namun sebelum keluar, Lord membisikkan sesuatu pada putrinya dan melemparkan senyuman kepada Davis yang entah apa maksudnya.
“Jadi ingin bertemu Gwen?” Diora menjawab dengan anggukan.
__ADS_1
Davis mengulurkan tangannya untuk membantu istrinya berdiri dan tak ditolak oleh Diora. Ia langsung mendudukkan tubuh semampai itu ke kursi roda yang tersedia di dalam ruangan.
Hembusan angin malam begitu menusuk kulit Diora. Wanita itu menggosokkan kedua telapak tangannya disepanjang perjalanan menuju ruangan Gwen.
Davis yang melihat istrinya kedinginan langsung memberhentikan langkahnya.
“Kenapa berhenti? Kita kan belum sampai,” protes Diora tanpa menoleh ke belakang.
Di belakang punggung wanita itu, Davis sedang membuka jasnya. Mengunci roda agar kursi tak berjalan sendiri.
Pria itu memilih berdiri di hadapan istrinya, lalu berjongkok untuk mensejajarkan dirinya.
“Agar kau tak kedinginan.” Davis menyelimuti tubuh istrinya, setidaknya jas mahalnya dapat memberikan sedikit kehangatan.
Diora memandang suaminya, menerima semua perlakuan manis itu. Hatinya sangat nyaman mendapatkan perhatian Davis.
Kedua mata mereka saling beradu ketika Davis mengangkat kepalanya. Ia menyunggingkan senyumnya dan mengusap lembut pipi mulus Diora. “Aku memang tampan, hingga membuatmu tak berkedip melihatku,” selorohnya.
__ADS_1
Diora yang ketahuan, langsung mengalihkan pandangannya dan kembali ke mode merajuknya. “Cepat jalan lagi! Jika tidak, aku akan berjalan sendiri.” Ia tak ingin suaminya melihat wajahnya yang bersemu merah.