
“Sepertinya kau sudah sembuh,” seloroh George. Segera duduk di kursi samping brankar.
“Jika sudah sembuh aku tak terbaring disini,” timpal Davis dengan nada kesalnya. Sahabatnya itu sungguh mengacaukan paginya yang sangat indah. Seharusnya ia bisa bermain memproduksi bayi dengan dimanjakan istrinya hingga tak kenal waktu. Namun dikacaukan pas lagi nikmat-nikmatnya.
“Buktinya kau sudah kuat bermain tembak-tembakan hingga tak kenal tempat,” kelakar George mengingat adegan panas yang baru saja ia lihat, dimana Davis begitu menggebu menggempur dari bawah mengimbangi ritme permainan sang wanita.
“Makanya kau segera menikah agar tau rasanya nikmat dunia.” Davis memejamkan matanya dan tersenyum lebar, menggambarkan betapa enaknya memiliki seorang istri. “Pasti kau ketagihan ingin melakukannya dimanapun, bahkan jika tak punya malu pun kau pasti ingin melakukannya di dalam hutan,” kelakarnya. Tingkat kemesumannya sungguh meningkat setelah menikah dan bertemu sarang untuk anacondanya.
“Tunggu saja aku jadi adik iparmu.” George menaikkan alisnya, tangannya ia lipat di dada.
“Kau sungguh menyukainya? Bukankah dia bukan tipemu?” Davis begitu penasaran, sebab ia tahu betul sahabatnya itu menyukai wanita yang penuh perhatian dan lemah lembut. Sangat berbeda dengan Gabby yang berpenampilan tomboi, galak, bertutur kata ketus, dan jago bela diri.
George mengedikkan bahunya. “Kau ingat ceritaku ketika kita masih di Harvard?”
__ADS_1
Davis terdiam, ia berfikir sejenak mengingat-ingat kenangannya dimasa lampau yang sudah sangat lama sekali. “Jadi, dia orangnya?” tanyanya setelah mengingat cerita George empat belas tahun silam.
George mengangguk sebagai jawaban.
“Sepertinya kau harus berjuang menakhlukkannya, dia terlihat anti dengan cinta dan pria, mungkin dia sudah lupa dengan kejadian saat itu.” Davis menepuk pundak George memberikan semangat. “Pasti tujuanmu kesini bukan untuk mengatakan itu kan? Katakan ada hal penting apa?” Ia tahu betul, George tidak akan datang sepagi ini hanya untuk masalah sepele, pasti ada masalah yang begitu penting dan tidak dapat ditunda.
“Keluarga Dawson sudah mulai bergerak mencari Diora,” terang George. Ia mendapatkan laporan dari Gio atas perintah Lord, sebab Davis dari semalam tak dapat dihubungi karena ponselnya mati dan tertinggal di penthouse.
“Jalankan rencananya, tanganku sudah gatal ingin membalas perbuatan mereka.” Davis mengepal erat tangannya, giginya bahkan bergemelatuk mengingat hal keji yang dilakukan keluarga itu.
“Aku hanya alergi, bukannya lumpuh, jadi masih bisa bergerak, bahkan kau lihat sendiri kan tenagaku masih sangat kuat.” Seringai mesum terbit di wajah tampan Davis.
“Terserah kau sajalah, seminggu lagi aku akan mengurus semuanya.” George berdiri hendak pergi, sebab sudah tak ada yang akan dibicarakan lagi. Ia pun harus mengurus kantor menggantikan Davis. “Aku pergi dulu, kau lanjutkan saja pertempuranmu itu.” Segera melenggangkan kaki jenjangnya, namun ia berhenti dan berbalik menatap Davis sebelum membuka pintu. “Jangan lupa bicarakan dengan istrimu.”
__ADS_1
Klek!
Pintu pun terbuka memperlihatkan sepasang sahabat wanita yang tengah menikmati makanan.
“Sudah selesai?” Diora menatap ke arah George.
“Kau lihat sendiri, aku sudah keluar, kan!” ketus George.
Membuat Diora mendengus sebal dengan jawaban pria yang begitu dingin itu. “Semoga kau tak berjodoh dengannya,” harapnya kepada Gabby. Tak bisa ia bayangkan jika sahabatnya harus hidup bersama pria dingin seperti George.
Uhuk ... uhuk ...
Gabby terbatuk dengan ucapan Diora.
__ADS_1
“Pelan-pelan.” Wanita itu menepuk punggung Gabby dan memberikan sebotol air mineral untuk diminum.