
Danzel langsung berpamitan pulang setelah urusan selesai. Ia tak ingin menyakiti hatinya sendiri dengan melihat kemesraan Diora dan Davis yang dengan terang-terangan diperlihatkan di depan matanya.
Setelah kepergian Danzel, kini tinggallah sepasang suami istri itu.
Davis segera duduk di kursi samping ranjang yang mempermudahkan dirinya untuk menatap wajah cantik istrinya.
“Apa sekarang aku sudah dimaafkan?” tanya Davis sangat lembut.
Diora yang melihat betapa menyesalnya suaminya itu, betapa tulusnya suaminya meminta maaf, dan semua perlakuan manis yang selalu diberikan suaminya untuknya. Tak lupa juga ia mengingat suaminya yang rela menurunkan egonya demi mendapatkan maaf darinya. Membuatnya tak tega jika tak memberikan maaf, lagi pula Danzel juga sudah memaafkan kesalahan suaminya itu.
Padahal Lord sebelum pulang kemarin malam membisikkan sesuatu pada Diora agar memberikan hukuman yang berat dan memalukan untuk Davis, yaitu menyuruh Davis menggunakan gaun Cinderella dan berkeliling di seluruh rumah sakit.
Namun Diora tak tega sepertinya jika tak memberikan maaf kepada suaminya dan sungguh memberikan hukuman seperti saran papanya.
__ADS_1
“Aku memaafkanmu,” ucap Diora mengulas senyum termanisnya.
“Sungguh?” Davis memastikan kembali dan dijawab anggukan oleh istrinya.
Davis begitu gembira telah mendapatkan ampunan dari istrinya. Bahkan ia yang jarang sekali berekspresi kini sudah berdiri sambil mengepalkan tangannya dan menggoyangkan kedua tangannya itu di depan dadanya seraya berkata, “yes ... yes ... yes ....”
Diora terkekeh geli dengan tingkah suaminya yang seperti bocah saja. Namun ia juga bahagia melihat raut wajah suaminya yang tampan dipenuhi dengan kegembiraan.
“Sudah ... lepaskan, kau membuatku sesak.” Diora memukul pelan punggung suaminya yang semakin erat memeluk dirinya.
Davis segera melepaskan rengkuhannya. “Maaf, aku hanya terlalu bahagia,” sesalnya. “Apa ada yang sakit?” tanyanya karena takut istrinya merasa kesakitan akibat ulahnya.
“Tidak, aku baik-baik saja,” jawab Diora membuat Davis bernafas lega.
__ADS_1
“Kau ingin makan sesuatu? Biar aku siapkan dan carikan untukmu,” tawar Davis yang melihat istrinya terus saja mengelus perutnya seperti orang menahan lapar, padahal belum ada dua puluh menit istrinya itu menghabiskan makanannya.
Diora mengulas senyumnya. “Aku ingin camilan yang banyak mengandung monosodium glutamat, coklat, cheese cake, lasagna, hokaido ramen, dan ayam pop yang terakhir kali kita makan di mall dan bertemu Danzel disana.” Banyak sekali makanan yang diminta ibu hamil itu.
“Oke, aku akan membelikan semua untukmu, tapi beri aku semangat dulu, aku sudah berpuasa tak melakukannya. Aku ingin menjenguk anak-anakku di dalam sini,” pinta Davis menunjuk perut istrinya. “Boleh?” ijinnya dengan sangat lembut, matanya begitu mendamba.
Kedua manik elang Davis bahkan sedari tadi sudah tertuju pada bibir indah istrinya. Ia langsung menyerang itu setelah mendapatkan jawaban anggukan dari istrinya.
Ketika Davis sudah siap untuk bertempur, pintu langsung dibuka dari luar.
“Eits ... tidak boleh melakukan itu dulu ya, tuan dan nyonya, usia kandungannya masih sangat muda, apa lagi ada empat calon bayi, masih rentan mengalami keguguran jika mendapatkan guncangan yang terlalu kuat.” Dokter yang hendak memeriksa Diora itu pun memberhentikan aktifitas Davis.
Davis mendesah kecewa dan segera turun dari ranjang mempersilahkan Dokter itu untuk memeriksa istrinya.
__ADS_1