
“Kau sudah mengganggu hari liburku untuk bekerja, sekarang kau mau menemui wanitamu,” berang George tak suka.
“Aku akan menggajimu lima kali lipat,” usul Davis mencoba meminta kembali kuncinya.
“Tiga atau tidak sama sekali,” tawar George dengan memperlihatkan tiga jarinya.
“Oke tiga kali, aku akan menggajimu bulan ini tiga kali,” setuju Davis. Ia langsung menyetujuinya karena merasa sahabatnya itu sedikit bodoh, akan digaji lima kali lipat malah menawar tiga kali. Lalu ia menengadahkan tangannya meminta kunci.
“Tiga kali selama satu tahun.” George mengulurkan tangannya sebagai persetujuan.
Davis nampak berfikir sejenak, lalu ia membalas uluran tangan George. “Oke setuju.” Ia terpaksa menyetujui. Sebab jika tak lekas pergi, ia takut Diora akan kembali dengan Danzel lagi.
Kunci mobil pun sudah berada di tangan Davis. Ia langsung pergi meninggalkan George di penthousenya seorang diri.
...........
__ADS_1
“Aku bertanya denganmu sekali lagi, apa kau tega memisahkan cinta kita berdua demi orang lain?” tanya Danzel ketika mereka selesai menghabiskan hidangan dengan harga sultan.
“Apa kau tega sudah menghancurkan masa depan seorang wanita dan tidak bertanggung jawab denganya?” lirih Diora menjawab dengan pertanyaan. Tetap menundukkan kepalanya, tak berani menatap Danzel. Sebab saat ini matanya sudah memerah.
“Tatap mata lawan bicaramu jika kau sedang berbicara,” tegas Danzel. Ia sangat ingin menatap Diora. Namun wanita itu enggan mengangkat kepalanya. “Ternyata kau sangat egois,” tuduhnya. “Lihatlah ... bahkan kau lebih mementingkan wanita lain daripada memikirkan kesehatan hatimu,” imbuhnya.
“Aku tidak egois,” tampik Diora, ia reflek mengangkat kepalanya hingga Danzel dapat melihat pipinya yang sudah basah.
“Lalu apa jika tidak egois? Kau bahkan diam-diam menangis.” Danzel berpindah duduk untuk mendekat ke Diora. Ia hapus air mata dari pipi mulus itu.
“Aku akan bertanggung jawab dengan masa depannya, aku akan memberikannya pekerjaan. Jika dia mengandung, aku akan merawat anaknya,” terang Danzel. Memegang erat tangan Diora, seolah ia tak ingin kehilangan wanita itu.
“Kau egois, apa kau tidak memikirkan perasaan Eliana? Kalau dia mengandung, pasti masyarakat akan mencemoohnya jika tak memiliki suami,” kilah Diora, menunjuk dada bidang Danzel dengan telunjuknya agar dirinya dapat berfikir dengan perasaannya. “Fikirkan jika itu terjadi denganku atau jika kau memiliki seorang adik perempuan dan terjadi seperti Eliana.”
Danzel tak pernah berfikir sampai sana, sebab dirinya tak memiliki saudara perempuan sama sekali.
__ADS_1
“Beri aku waktu untuk membuktikan, jika kejadian di hotel adalah rekayasa,” pinta Danzel sungguh-sungguh. Saat ini, ia masih mencari cara dan bukti untuk membuktikan bahwa dia benar.
Brak ...
Pintu private room dibuka dengan kasar. Membuat semua orang melihat ke arah pintu. Terlihat seorang pria berjalan angkuh memasuki ruangan, tak lupa tatapan tajam menghunus Danzel.
“Siapa kau?” tanya Danzel dengan nada tinggi.
“Calon suami Diora,” jawab Davis dingin. Lalu mengecup pipi Diora yang tengah menganga tak percaya dengan kehadirannya dan mengaku sebagai calon suami.
Begitupun dengan Danzel, Gabby, dan Steve yang tak percaya atas apa yang dikatakan Davis. Ditambah kecupan pipi itu. “Tidak mungkin,” ucap mereka berbarengan.
“Kalian tak perlu mempercayaiku, kalian tunggu saja undangan dariku,” ketus Davis memberikan senyuman sinisnya pada Danzel yang menelisiknya dari atas hingga bawah.
“Mana mungkin, Diora bahkan tak pernah dekat dengan pria selain aku,” elak Danzel tak percaya, menghempaskan tangan Davis yang melingkar pada pundak Diora.
__ADS_1