
Setelah mengucapkan janji sucinya, Diora memegang tangan Davis, kemudian ia mencium punggung tangan pria itu. Membuat Davis membulatkan matanya, begitupun dengan semua orang yang melihat. Seharusnya tidak seperti itu rangkaian prosesinya.
“Kenapa kau diam saja? Kau harusnya mencium keningku,” seloroh Diora menunjuk keningnya yang masih tertutup tudung putih transparan.
Tanpa basa basi, Davis pun membuka tudung yang menutupi wajah Diora. Ia maju satu langkah untuk lebih dekat dengan wanita berstatus istrinya. Menangkup wajah Diora dan sedikit menyeringai.
Davis mendongakkan kepala wanita itu. Tanpa butuh waktu lama, ia langsung menyerang bibir berbalut lipstick tipis yang berada di hadapannya.
Diora hanya diam saja ketika mendapatkan serangan secara mendadak, tanpa berniat membalas. Namun setelah sadar dengan apa yang dilakukan oleh Davis, ia langsung mendorong tubuh kekar itu.
“Kenapa kau mencium bibirku? ... aku kan bilang keningku bukan bibirku.” Diora mengusap bekas saliva Davis yang menempel di bibirnya.
“Memang seharusnya seperti itu,” balas Davis dengan wajah tanpa ekspresi, tak ada rasa bersalah sedikitpun.
“Tapi di ....” Ucapan Diora terhenti lagi ketika Davis menyelanya.
“Di novel yang sering kau baca,” sela Davis seraya berdecak. “Kau terlalu banyak membaca novel yang sama, sehingga wawasanmu hanya seputar itu-itu saja,” ejeknya.
__ADS_1
Diora mendengus sebal, pria itu sudah tahu apa yang akan diucapkannya. Ia pun melangkahkan kakinya meninggalkan Davis untuk bergabung dengan Gabby dan Lordeus.
Davis tersenyum melihat tingkah istrinya yang sangat menggemaskan jika sedang kesal. Ia pun ikut berjalan di belakang Diora, bergabung dengan yang lainnya.
“Selamat Diora, aku tak menyangka kau akan menikah bukan dengan Danzel.” Gabby memeluk Diora dengan sangat erat, namun matanya menatap tajam pada Davis. Seolah ia enggan merelakan wanita itu untuk dimiliki suaminya.
“Jika kau tak menyangka, apa lagi aku,” seloroh Diora sembari menepuk pundak sahabatnya.
Begitupun dengan sepasang sahabat pria itu. Mereka juga saling memberikan selamat.
George mengulurkan tangannya untuk bersalaman, lalu ia mendekatkan tubuhnya, menepuk pundak Davis seraya berbisik, “aku kasian dengan Diora ... harus terpenjara obsesi cinta CEO arogan sepertimu.”
Lordeus juga tak ingin ketinggalan. Ia pun memberikan selamat kepada sepasang pengantin baru itu.
“Boleh aku memelukmu?” pinta Lordeus kepada Diora.
“Boleh,” jawab Diora.
__ADS_1
“Tidak,” ucap Davis bersamaan dengan Diora.
Jawaban Davis membuat Diora melirik ke arahnya dan memutar bola matanya.
“Dia kan sudah menganggapku anaknya,” protes Diora.
“Tapi dia kan bukan papa kandungmu,” balas Davis tak mau kalah.
Tak memperdulikan larangan Davis, Diora pun memeluk Lordeus. Entah mengapa dia merasa ingin memeluk pria paruh baya yang masih terlihat bugar dan tampan itu. Mungkin karena pria itu menganggapnya seperti anak, atau mungkin ada alasan lainnya yang tak diketahui olehnya.
Lordeus mendapatkan pelukan hangat dari Diora langsung menyunggingkan senyumnya dan sedikit mengelurkan air mata haru. Seolah ia sedang memeluk seseorang yang sangat ia rindukan.
Gerak gerik Lordeus tak lepas dari pengliatan George. Hingga membuatnya sangat penasaran ada hubungan apa sesungguhnya Lordeus dengan Diora. Tidak mungkin jika sebatas sahabat baik anaknya bisa membuat seorang Lordeus rela mengeluarkan air matanya dan rela mendampingi seorang wanita biasa. Itu adalah hal yang mustahil.
“Cukup! kalian terlalu lama berpelukan.” Davis memisahkan tangan Diora yang masih memeluk erat Lordeus. Lalu merangkulnya dengan posesif.
“Bilang saja kau juga ingin dipeluk,” seloroh Diora.
__ADS_1
Mata tajam Lordeus kini menghunus Davis. Tatapan mereka saling beradu. Jika tatapan Davis menggambarkan dirinya tak suka wanitanya memeluk pria lain. Namun berbeda dengan Lordeus, entah tatapan tajam apa yang sedang ia gambarkan saat ini.