
Diora dan Davis berdiri saling berhadapan, wajah tampan Davis kini berubah menjadi serius. Menatap lekat wajah Diora dari balik tudung berwarna putih yang transparan.
Setelah ditanya kesediaan untuk menikah satu sama lain, Davis membacakan dengan lantang janji sucinya. Suara beratnya menggema pada gedung itu. Seolah-olah ia ingin memberitahu seluruh dunia, dirinya berhasil mengikat wanita yang diinginkannya.
Diora merasa aneh dengan apa yang diucapkan oleh Davis. Ia yang tak pernah sekalipun menghadiri ataupun menonton pemberkatan pernikahan. Sehingga ia tak tahu bagaimana prosesi pernikahan yang harus ia jalani. Bahkan tak ada orang yang membriefingnya terlebih dahulu.
Diora hanya tahu prosesi pernikahan dari cerita novel yang sering ia baca, tentu saja cerita terjemahan dari negara Indonesia. Ia senang membaca itu karena ceritanya cukup menguras emosi, cerita yang hampir sama satu novel dengan yang lainnya. Namun tetap saja ia membaca itu.
Mata Diora menatap satu persatu orang yang ada disana. Mengapa mereka diam saja tak ada yang mengatakan satu kata secara bersamaan seperti di cerita novel yang sering ia baca.
“Sah ....” Bibir tipis Diora sepontan mengucapkan kalimat itu.
Membuat Gabby, Lordeus, dan George menepuk jidatnya secara bersamaan. Sedangkan Davis membuang nafasnya kasar.
__ADS_1
“Mengapa kau mengucapkan itu?” tegur Davis dengan suara lirih namun penuh penekanan.
“Aku hanya mengikuti dari cerita novel yang sering aku baca, mereka mengucapkan kata itu untuk mengesahkan sepasang calon suami istri,” elak Diora.
“Astaga ... ini berbeda Diora, kau harus mengucapkan kalimat yang sama dengan yang aku ucapkan,” timpal Davis memberitahu.
“Aku mana tau, aku belum pernah menikah atau menghadiri pernikahan atau menonton prosesi pernikahan ... ku fikir semua pernikahan sama dengan yang sering aku baca,” sambung Diora masih membuat pembelaan.
“Astaga ... kau ini bodoh sekali, kau harus mengucapkan persis seperti yang aku ucapkan. Kau paham?” Diora menjawabnya dengan anggukan kepala.
“In the name of God, I, Drake Davis Dominique, take you, Diora Doris Dawson, to be my wife ....” Ucapan Diora terhenti ketika Davis menyelanya.
“Kenapa kau mengucapkan kalimat itu,” gerutu Davis dengan nada dongkolnya.
__ADS_1
“Katamu aku harus mengikuti kalimatmu,” balas Diora dengan polosnya.
“Iya! tapi bukan keseluruhan, kau harus mengucapkan namamu dulu baru namaku dan kau harus mengganti my wife dengan my husband ... kau paham?” Diora mengangguk lagi sebagai jawaban.
Untuk ketiga kalinya Davis mengucapkan kalimat sakral yang harus ia tepati seumur hidupnya.
“In the name of God, I, Diora Doris Dawson, take you, Drake Davis Dominique, to be my husband, to have and to hold from this day forward, for better, for worse, for richer, for poorer, in sickness and health, to love and to cherish, until we are parted by death. This is my solemn vow.” Diora mengucapkan janji sucinya dengan benar untuk pertama kalinya.
“Dalam nama Tuhan, saya, Diora Doris Dawson, memilih anda, Drake Davis Dominique, untuk menjadi suamiku, untuk saling memiliki dan mempertahankan mulai hari ini dan seterusnya, dalam keadaan baik, buruk, kaya, miskin, sakit dan sehat, untuk saling mencintai dan menghargai, sampai kematian yang memisahkan. Ini adalah sumpah khusyukku.”
Akhirnya mereka resmi menjadi sepasang suami istri. Meskipun dua kali gagal karena kepolosan Diora, namun Davis tetap membimbing dan memberitahu Diora prosesi yang benar. Hingga tak ada kesalahan dalam Diora melafalkan janji sucinya.
...*****...
__ADS_1
...Guys, ini cerita pertamaku yang acak adul dan enggak riset dulu. Jadi emg banyak kesalahan dan nikah di gereja enggak kaya gini. Mohon maaf untuk semua pembaca yang kurang berkenan....