
Davis tersenyum kecil, lalu menggaruk tengkuknya yang tak gatal seraya menjawab pertanyaan istrinya. “Cuma satu batang kok.”
Ibu hamil itu sepertinya tak ada lelahnya marah-marah terus. Apa lagi suaminya begitu lugu menjawab dengan jujur seperti tak berdosa.
Bersungut-sungut Diora menyiapkan tangannya melayangkan cubitan dibibir suaminya hingga menyentilnya berkali-kali. “Sudah dibilang diliarang merokok masih saja merokok!” Dengan kesalnya ibu hamil itu menghukum suaminya. “Tiap hari udah diganti ngisep dua yang nonjol masih aja ngelanggar!”
Davis membiarkan istrinya meluapkan kekesalannya, menahan sakit dibagian yang terkena serangan. “Maaf, tadi khilaf.”
Makin menjadi-jadi amarah Diora mendengarnya. “Khilaf-khilaf, mulai sekarang gaada ngisep-isep ini lagi sebagai hukumannya!” Ia menunjukkan dua yang menonjol keluar.
Glek!
Davis menelan dengan susah payah salivanya melihat itu. “Jangan! Aku butuh asupan nutrisi juga,” mohonnya. “Aku janji ga akan ngerokok lagi,” janjinya dengan memasang wajah sangat meyakinkan.
“Gak, buktikan dulu, kau benar-benar berhenti merokok.” Diora menyilangkan kedua tangannya dan melengos merajuk.
“Oke, aku buang semua rokoknya.” Davis mengeluarkan sisa rokok yang ada di sakunya. “Lihat.” Memaksa kepala istrinya untuk menatap ke arahnya.
Plung!
__ADS_1
Lemparan kotak berisi batang nikotin masuk dengan sempurna ke dalam tempat sampah.
Prok ... prok ... prok ...
Diora bertepuk tangan dengan kelihaian suaminya yang bisa memasukkan benda itu ke dalam tempat sampah dari jarak lima meter.
“Berarti, kau sudah memaafkan aku, kan?” Davis menaik turunkan alisnya menggoda istrinya.
Bukannya menjawab, Diora memilih untuk meminta makanannya. “Mana pesananku? Aku sudah sangat lapar.”
Mau tak mau, daripada terkena amukan lagi, Davis memilih memberikan semua yang diminta istrinya. Menyiapkan meja di hadapan Diora untuk mempermudah menyantapnya.
Davis hanya bisa bergeleng kepala melihat tingkah istrinya. Hingga seluruh makanan habis dalam waktu tiga puluh menit saja.
Apa ibu hamil begitu rakus jika makan?
Davis hanya bisa berbicara dalam hati, takut singa betina marah-marah lagi. Ia memilih membereskan semua kotoran itu.
“Kata dokter, hari ini aku sudah boleh pulang,” ujar Diora setelah menghabiskan minumannya.
__ADS_1
“Mau pulang sekarang saja? Kita perlu membeli gaun untuk acara besok pernikahan papa dan mamamu,” tawar Davis yang sudah duduk manis di samping istrinya.
Diora menyetujuinya, memang sudah bosan juga berlama-lama di dalam rumah sakit. Meskipun kamarnya begitu luas, tapi tetap saja kurang nyaman baginya.
“Kita menjenguk Gwen dulu sebelum pulang, ya?” pinta Diora yang ingin melihat kondisi teman barunya itu.
“Gwen sudah dipindahkan ke Inggris,” jelas Davis.
“Kapan? Kenapa aku tak tahu? Kau kenapa tak mengatakannya padaku?” sembur Diora marah-marah lagi.
“Tadi pagi ketika aku keluar untuk membelikan makananmu, aku pun baru tahu dari dokter yang merawatnya. Jangan marah-marah terus, ingat di dalam sini ada anak-anak, nanti mereka pusing dengerin omelan Mommynya terus,” kelakar Davis yang berhasil membuat Diora diam. Padahal ia sendiri yang pusing menghadapi istrinya marah-marah terus.
Setelah membereskan semua administrasi rumah sakit, sepasang suami istri itu langsung pergi menuju butik yang ada di Helsinki.
“Aku mau itu.” Diora menunjuk sebuah gaun yang begitu terbuka dengan warna peach.
“Tidak, ganti yang lain, kau bisa membuat mata lelaki yang melihatmu mencelos keluar jika memakainya,” tolak Davis tak setuju dengan pilihan istrinya. “Lebih baik gaun itu saja.” Ia menunjuk gaun dengan warna sama namun memiliki lengan pendek dan bagian bawah yang panjang.
“Oke.” Tumben sekali ibu hamil itu menyetujui dengan mudah, tentu saja karena terpampang jelas jika itu adalah gaun termahal. Sepertinya anak di dalam kandungannya sudah memiliki selera sultan sedari dini.
__ADS_1