
Davis dan George memotret tiga orang yang terlihat seperti sepasang keluarga, dimana ada seorang ayah bersama dengan kedua putrinya. Tapi kenyataannya, salah satunya adalah sahabat putrinya. Namun mereka seperti melihat sesuatu yang aneh dari ketiga orang tersebut.
“Apakah kau merasakan sesuatu yang janggal dengan mereka bertiga?” lirih Davis sembari matanya terus fokus untuk memotret.
“Ya, apakah yang kau fikirkan sama denganku?” balas George dengan suara pelannya seperti orang berbisik.
“Mereka bertiga mirip,” terang Davis setelah ia menelisik lebih dalam tiga orang yang tengah ia foto.
“Ternyata kau juga melihatnya,” sambung George. Matanya terus menatap Diora, Gabby, dan Lordeus untuk memastikan lagi dengan apa yang ia fikirkan.
“Tidak mungkin mereka bersaudara kan?” tanya Davis.
“Mana mungkin ... sudah aku pastikan jika Diora berasal dari Melbourne, sedangkan Lord dan Gabby, orang Finlandia tulen ... jadi bagaimana bisa mereka bersaudara?” jelas George mengingat dirinya sudah mencari tahu sedetailnya tentang Diora kala itu.
“Tapi kata kau, Diora dulu dibawa neneknya ke Finlandia ... apa mungkin mereka berasal dari nenek yang sama?” sambung Davis.
“Tidak mungkin, orang tua Lord bukan neneknya Diora, kau tau sendiri Lord dari keluarga apa, sedangkan Diora hanya cucu dari keluarga biasa saja,” timpal George.
__ADS_1
“Apa terlalu lama berteman dan bersama bisa membuat seseorang menjadi mirip?” celetuk Davis.
“Bisa jadi,” cicit George.
“Kita sudah bersama selama dua puluh tahun, tapi kita tak mirip,” tutur Davis. Mata yang sedari tadi fokus ke depan kini beralih menatap dan menelisik George.
“Kata siapa kita tidak mirip? Bahkan kita berdua sama ... sama-sama tampan,” seloroh George. Ia ikut melihat ke arah Davis dan menyunggingkan sebelah bibirnya.
Diora merasa kesal karena melihat dua pria yang tingginya hampir sama itu terus berbincang, bukannya fokus untuk memotret. Ia tak ingin hasil jepretan fotonya asal dan tak bagus.
“Siapa yang mengobrol? Kita hanya berbincang,” elak Davis menatap datar Diora dari posisinya.
“Itu sama saja.” Diora mendengus sebal. “Sini ku lihat hasilnya.” Ia berjalan ke arah Davis dan langsung mengambil ponsel miliknya dan milik Gabby.
Ia berjalan kembali untuk memberikan ponsel sahabatnya agar mengecek hasil foto.
“Bagimana?” tanya Diora memperlihatkan hasil foto di ponselnya.
__ADS_1
“Tidak buruk,” jawab Gabby. “Coba kau geser dan lihat semua hasilnya, mungkin ada yang lebih bagus lagi,” usulnya.
Sepasang sahabat itu melihat beberapa hasil jepretan Davis secara perlahan, mereka mengamati satu persatu tanpa terlewat sedikitpun.
“Ini paling bagus,” tutur Gabby memberhentikan kegiatan jari Diora menggeser layar ponsel.
“Coba kau lihat hasil foto di ponselmu, mungkin lebih bagus,” pinta Diora menunjuk dengan dagu ke arah ponsel di tangan Gabby.
“Ini bagaimana?” Gabby memperlihatkan foto dari ponselnya.
“Jelek sekali, kenapa kita sedang menganga mulutnya malah di foto,” gerutu Diora. “Coba geser, lihat foto yang lainnya,” pintanya lagi.
Gabby pun menggeser ke kanan layar ponselnya. Ia mendengus sebal ketika melihat tak ada foto lain lagi, hanya satu foto saja yang dibidik oleh George.
“Kau tidak ikhlas ya,” tuduh Gabby dengan nada ketusnya. Menunjuk dengan jarinya ke arah George yang sudah asik duduk santai di sofa.
“Sudah dibantu bukannya berterimakasih malah menuduh,” sindir George tak kalah ketus.
__ADS_1