My Rich Husband

My Rich Husband
Part 115


__ADS_3

“Bagaimana keadaan suami saya dok?” Diora langsung menghampiri Dokter yang menangani setelah pria berjas putih itu keluar dari ruang UGD.


“Kondisi suami anda sudah membaik nyonya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” jelas sang Dokter. “Suami anda alergi dan salah mengkonsumsi obat, beliau mengkonsumsi obat yang sudah tidak layak diminum lagi ditambah takarannya berlebihan, sehingga memperparah alerginya. Tapi beruntung langsung dibawa ke rumah sakit, sehingga langsung ditangani,” imbuhnya menjelaskan dengan detail.


Diora, George, dan Gabby bernafas lega.


“Boleh saya menjenguknya?” pinta Diora.


“Boleh, setelah kami pindahkan ke ruang rawat,” jawab Dokter. “Kalau begitu, saya permisi.” Dokter berlalu pergi.


“Dengar ... suamimu baik-baik saja, jadi jangan cemas.” Gabby setia mengelus pundak Diora agar wanita itu berhenti gelisah. Sorot mata Gabby begitu teduh dan penuh perhatian, sangat berbeda ketika menatap seorang pria.


Semua yang dilakukan Gabby tak lepas dari pandangan George, pria itu terus memandangi apa yang dilakukan oleh wanita berpenampilan tomboi itu.


Sesaat Gabby mengangkat pandangannya karena merasa ditatap oleh seseorang. George yang tertangkap tengah memandanginya langsung mengalihkan pandangan.


Tak lama, perawat pun keluar mendorong brankar dimana Davis berbaring masih menutup mata.

__ADS_1


Mereka langsung mengikuti menuju ruang VVIP.


Diora langsung menangis seraya menggenggam erat tangan Davis yang tak diinfus. “Aku sangat takut jika terjadi sesuatu yang tidak-tidak denganmu.” Menciumi punggung tangan itu bertubi-tubi.


“Kau, istirahatlah sembari menunggu suamimu sadar,” ajak Gabby menunjuk sofa yang cukup besar.


“Aku akan istirahat disini saja.” Diora merebahkan dirinya di samping Davis.


“Dimanapun, terserah kau, yang pasti kau juga harus istirahat,” timpat Gabby.


“Kalian pulanglah, maaf sudah menggangu waktu tidurnya.” Diora menatap dua orang yang dia anggap cocok itu. “Terima kasih atas bantuannya, maaf merepotkan, kalian pasti butuh istirahat, aku bisa sendiri menjaganya, ada dokter dan perawat juga jika terjadi sesuatu bisa langsung membantuku.” Ia tersenyum seraya menganggukkan kepalanya memberi pertanda bahwa dia baik-baik saja.


Tinggallah Davis dan Diora sendiri. Wanita itu memeluk tubuh kekar suaminya dengan erat.


“Kenapa kau tak bilang jika alergi seafood?”


“Aku seperti orang bodoh yang menempatkanmu dalam masalah.”

__ADS_1


“Aku seperti orang bodoh yang tak tau apa-apa tengangmu.”


“Cepat bangunlah, aku ingin lebih mengenalmu lagi lebih dalam.”


“Aku begitu takut kehilanganmu.”


Wanita itu berdialog sendiri, tangannya mengelus dada bidang yang terbungkus pakaian pasien. Hingga ia tertidur pulas kelelahan menangis.


Pagi hari menyapa, Diora mengerjapkan matanya berharap pria disampingnya juga sudah membuka mata. Namun nyatanya tidak, Davis masih tetap setia terpejam.


“Kenapa kau masih tak bangun juga?” Mengelus pelupuk mata itu dengan lembut.


Tangannya beralih menuntun tangan kekar suaminya agar menyentuh perutnya dan mengelusnya. “Ayo kita buat anak dan hidup bahagia bersama keluarga kecil kita,” selorohnya.


Davis langsung membuka matanya. “Benarkah?”


“Kau sudah bangun?” Mata penuh binar kebahagiaan terpancar memandang sang pemilik suara.

__ADS_1


“Hmm ... karena ada yang mengajakku membuat anak.” Sesungguhnya Davis sudah lebih dulu terbangun, namun enggan untuk membuka mata karena terlalu menikmati pelukan istrinya dan ingin melihat sejauh mana Diora mencintainya. Ternyata istrinya sudah begitu takut kehilangannya.


Diora mencubit kecil perut suaminya. “Mau buat sekarang?” tawarnya.


__ADS_2